05 December 2017

Jangan Salah, Ini Alasan Ventilasi Udara Harus Dibuka selama Perjalanan

Jangan Salah, Ini Alasan Ventilasi Udara Harus Dibuka selama Perjalanan

Halodoc, Jakarta- Banyak orang yang percaya bahwa penyebaran virus bisa terjadi lewat udara. Salah satunya melalui udara di dalam pesawat selama perjalanan. Alhasil, mereka memilih untuk menutup ventilasi udara saat melakukan penerbangan. Namun tahukah kamu bahwa hal itu ternyata tidak direkomendasikan?

Pada dasarnya, lubang ventilasi di atas kursi penumpang berfungsi untuk ‘mengatur’ udara selama perjalanan. Pernahkah kamu membayangkan dari mana datangnya udara untuk dihirup selama penerbangan berjam-jam? Jawabannya adalah melalui ventilasi udara ini. Lubang ventilasi ini berfungsi untuk menyaring udara.

Nyatanya udara yang tersedia di dalam penerbangan setengahnya merupakan hasil ‘daur ulang’ dari kabin. Sedangkan sisanya adalah ‘udara segar’ yang ditarik dari mesin. Proses ini membutuhkan ventilasi untuk menyaring dan menghilangkan mikroba dan racun sebelum udara dihirup penumpang.

Sejauh ini, penelitian mengklaim bahwa cara terbaik untuk menjaga pernapasan selama penerbangan adalah dengan membiarkan ventilasi terbuka sekalipun kecil atau sedikit. Dengan demikian, tubuh akan terkena udara yang telah disaring oleh ventilasi.

Ventilasi udara ini juga bekerja dengan cara mengambil semua karbondioksida yang diembuskan penumpang selama perjalanan. Setelahnya, ventilasi akan menujar udara dan menyebarkannya kembali ke seluruh bagian pesawat.

Ventilasi udara dan penyebaran virus dalam pesawat

Para penumpang memilih untuk menutup lubang ventilasi dengan berbagai alasan. Seperti untuk menghindari udara dingin-yang biasanya keluar dari lubang ventilasi- dan menghindari penyebaran virus penyebab penyakti melalui pertukaran udara. Banyak penumpang yang merasa khawatir bahwa udara yang dihirup dari ventilasi akan membawa virus yang berasal dari penumpang lain. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar.

Mengutip Telegraph, seorang ahli dari Lahey Medical Center, Dr. Mark Gendreau, menyebut hal itu tidak benar. Cara kerja ventilasi udara pada pesawat berbeda dengan ventilasi lain. Hal ini lah yang  membuat masalah penyebaran virus melalui udara bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.

Cara kerja ventilasi udara pada pesawat adalah dengan mengalirkan udara secara merata ke seluruh ruangan pesawat. Artinya, pola aliran udara dalam pesawat terbang tidak bekerja dari depan ke belakanng. Udara yang dihasilkan pun tidak kembali ke depan seperti pada ventilasi biasa.

Sebaliknya, tidak membuka ventilasi udara justru dapat meningkatkan risiko penyebaran virus. Terutama virus flu. Hal ini terjadi karena saat menutup lubang ventilasi, kamu mungkin akan mendapatkan sirkulasi udara yang tidak stabil.

Kebiasaan ini juga dapat menyebabkan masalah lain pada rongga hidung kamu. Menutup ventilasi udara selama perjalanan dapat menyebabkan selaput lendir di area hidung menjadi lebih kering. Kondisi ini membuat kamu malah lebih rentan tertular virus.

Sama seperti bagian lain dalam alat transportasi, ventilasi udara pada pesawat pun telah dirancang sedemikian rupa. Sehingga tingkat keamanan dari udara yang disaring pun bisa dipastikan cukup aman untuk dihirup. Pastinya hal ini akan sangat membantu selama kamu melakukan perjalanan. Setelah mengetahui hal ini, usahakan untuk tidak menutup lubang ventilasi selama penerbangan ya. Dengan begitu, baik kamu maupun penumpang lain akan mendapat udara yang lebih ‘sehat’ untuk dihirup selama perjalanan.

Jika kamu menemui keanehan, seperti masalah di seputar pernapasan setelah melakukan perjalanan dengan pesawat, segera bicarakan dengan dokter. Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Kamu pun dapat dengan mudah membeli produk kesehatan dan vitamin lewat Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.