08 December 2017

5 Jenis Hubungan Intim Ini Berisiko HIV

Halodoc, Jakarta – Jumlah orang yang terkena penyakit HIV/AIDS di Indonesia terus meningkat dalam jangka waktu 10 tahun terakhir ini. Data dari Kemenkes menyebutkan kalau perilaku hubungan intim yang tidak aman merupakan faktor paling tinggi yang menyebabkan orang bisa terkena HIV/AIDS, lho.

Oleh karena itu, penting untuk menerapkan gaya hidup seksual yang aman. Cara sederhananya adalah dengan berhubungan intim hanya dengan pasangan dan dengan cara yang aman. Ini sangat dianjurkan untuk mencegah penularan penyakit seksual ini terjadi. 

Menurut data Kemenkes, hubungan intim yang tidak aman pada heteroseksual menempati urutan pertama dalam faktor penyebab kasus HIV, yaitu sebanyak 46,2 persen. Sedangkan di urutan kedua adalah hubungan intim sesama pria sebanyak 24,4 persen, dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril sebanyak ,.4 persen. Karena itu penting untuk mengetahui jenis-jenis hubungan intim seperti apa saja yang berisko tinggi terkena HIV/AIDS.

1. Melakukan Seks Oral dengan Pengidap
Berhubungan intim dengan cara memasukan organ kelamin pasangan ke dalam mulut dapat berisiko terkena HIV hanya jika mulut sedang mengalami luka. Dikutip dari Kompas, dr Boyke mengungkapkan bahwa jika melakukan hubungan oral ketika mulut sedang mengalami sariawan atau jenis luka lainnya, maka berisiko 5 persen terjadi penularan HIV/AIDS. Namun, apabila mulut berada dalam kondisi sehat dan tidak ada luka, maka cairan sperma atau ludah yang tertelan tidak berisiko menularkan HIV/AIDS karena virus akan mati oleh asam lambung. Walaupun demikian, agar lebih aman, tetap gunakanlah pelindung saat ingin melakukan seks oral.

2. Seks Anal dengan Pengidap
Menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology, tingkat risiko penularan HIV melalui anal seks lebih besar 18% daripada seks melalui Miss V. Hal ini disebabkan karena jaringan dan cairan alamiah pada anus sangat berbeda dengan yang terdapat pada Miss V. Jumlah lapisan pada Miss V yang banyak dapat menahan dan mencegah infeksi virus untuk masuk, sedangkan anus hanya memiliki satu lapisan yang sangat tipis, sehingga rentan terkena virus. Selain itu, Miss V juga dapat mengeluarkan lendir yang berguna untuk melumasi dan mengurangi rasa sakit ketika berhubungan intim. Sedangkan anus tidak mengeluarkan cairan lubrikasi, sehingga berisiko lecet dan luka yang dapat menyebabkan terkena infeksi HIV.

3. Berganti Pasangan
Melakukan hubungan intim dengan banyak pasangan yang berbeda-beda dapat meningkatkan risiko terinfeksi HIV. Bisa saja salah satu dari mereka telah mengidap penyakit menular tersebut. Gejala HIV pada fase awal tidak terlalu kelihatan. Karena itu, sebaiknya lakukan hubungan intim hanya dengan pasangan atau satu orang yang sama saja dan selalu gunakan pelindung untuk mencegah kemungkinan tertular.

4. Berhubungan Intim Saat Sedang Haid
Tahukah kamu, ternyata melakukan hubungan intim saat sedang haid berisiko lebih besar untuk tertular HIV lho, dibanding berhubungan intim saat tidak sedang haid. Hal ini disebabkan karena pada saat haid, banyak pembuluh darah yang terbuka untuk meluruhkan dinding rahim. Pembuluh darah yang terbuka ini lah yang bisa menjadi celag bagi virus untuk masuk ke dalam tubuh. Apalagi jika wanita tersebut berhubungan dengan pria yang mengidap HIV.

5. Menggunakan Alat Bantu Seks
Hati-hati jika kamu menggunakan alat bantu atau mainan seks ketika berhubungan intim. Ada jenis alat bantu atau mainan seks tertentu yang dapat menyebabkan kulit terluka ketika menggunakannya. Jika kulitmu berdarah saat menggunakan alat bantu seks, maka risiko terkena virus HIV dapat meningkat. Karena itu, jangan pernah menggunakan alat bantu seks secara bersama-sama atau bergantian dengan pasangan.

Karena risiko HIV yang dapat menular dengan cara berhubungan intim sangat tinggi, maka cara terbaik untuk mencegahnya adalah setia dengan pasangan, berhubungan intim secara aman dan gunakan pelindung. Jika kamu mengalami gejala-gejala seperti fase awal HIV, segera periksakan diri ke dokter. Kamu juga bisa membicarakan masalah kesehatanmu kepada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Hubungi dokter untuk meminta saran-saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Kamu juga bisa membeli produk kesehatan dan vitamin yang dibutuhkan di Halodoc. Caranya sangat praktis, tinggal order lewat aplikasi, dan pesananmu akan diantarkan dalam satu jam. Jadi, tunggu apa lagi? Segera download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.