11 December 2017

Jenis Persalinan untuk Ibu Hamil Pengidap HIV

Jenis Persalinan untuk Ibu Hamil Pengidap HIV

Halodoc, Jakarta – Hal yang paling dikhawatirkan jika ibu hamil tertular virus HIV adalah adanya kemungkinan virus tersebut bisa ditularkan ke bayi pada saat proses melahirkan. Dari dua metode melahirkan yang ada, yaitu normal dan caesar, yang manakah yang lebih tepat untuk ibu hamil pengidap HIV? 

Ibu hamil yang positif mengidap HIV berpotensi menularkan virus tersebut kepada bayi, baik pada masa kehamilan, persalinan, maupun pada saat menyusui. Dokter kandungan biasanya akan memberikan berbagai jenis obat antivirus khusus, salah satunya adalah obat ARV (antiretroviral) untuk menekan jumlah virus. Jika ibu mengonsumsi obat-obatan secara rutin selama kehamilan hingga hari persalinan nanti, maka risiko penularan bisa ditekan sampai tinggal 7 persen. Karena itu penting bagi ibu hamil untuk melakukan tes HIV, agar virus HIV dapat terdeteksi lebih awal, sehingga program pencegahan HIV pun bisa dilakukan secepatnya. 

Namun, ibu hamil juga harus mempertimbangkan jenis persalinan yang akan ditempuh nantinya, karena risiko penularan virus HIV ke bayi lebih tinggi pada saat persalinan. Dalam proses melahirkan, bayi akan terkena darah dan cairan Miss V ketika melewati saluran rahim yang dapat menjadi cara virus HIV dari ibu masuk ke dalam tubuhnya. Karena itu, ibu hamil pengidap HIV disarankan untuk tidak melahirkan secara normal melalui Miss V karena risiko bayi tertular lebih besar. Beberapa kondisi yang juga dapat mendukung penularan HIV ke bayi pada saat persalinan adalah air ketuban yang pecah terlalu awal, bayi mengalami keracunan ketuban dan kelahiran prematur.

Bila ibu ingin melahirkan secara normal, peluang bayi tidak tertular pun masih ada. Namun, ada persyaratannya, yaitu:

  • Telah mengonsumsi obat antivirus mulai dari usia kehamilan 14 minggu atau kurang.
  • Jumlah viral load kurang dari 10.000 kopi/ml. Viral load adalah jumlah partikel virus dalam 1 ml atau 1 cc darah. Ibu akan berpotensi tinggi menularkan virus ke bayi dan mengalami komplikasi HIV jika ditemukan jumlah partikel virus yang banyak dalam darah ibu.
  • Proses melahirkan harus berlangsung secepat mungkin, dan bayi harus segera dibersihkan setelah keluar.

Ibu yang memiliki viral load yang tinggi biasanya akan diberikan infus berisi obat zidovudine pada saat melahirkan normal. Namun, ibu tetap perlu mendiskusikan kepada dokter kandungan mengenai pemilihan metode persalinan. Jika angka viral load ibu berada di atas 4000 kopi/ml, maka dokter akan menyarankan ibu untuk melahirkan secara caesar.

Menurut berbagai penelitian, risiko penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi pada saat persalinan lebih rendah jika menggunakan metode caesar. Dari data yang diperoleh dari America College of Obstetricians and Gynecologist, dituliskan bahwa pada kondisi kehamilan pada umumnya, operasi caesar dianjurkan untuk dilakukan sebelum kehamilan berusia 39 tahun. Tapi pada ibu hamil pengidap HIV, operasi caesar dianjurkan dilakukan saat kehamilan berusia 38 minggu. Sebelum dan sesudah menjalani operasi caesar, ibu juga akan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi pasca melahirkan. Hal ini dilakukan karena wanita yang mengidap HIV memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah, sehingga lebih rentan terkena infeksi.

Ibu hamil dengan HIV juga dianjurkan untuk tetap menjaga kesehatan dengan cara menerapkan pola hidup yang sehat. Karena dengan menjalankan pola hidup sehat juga dapat membantu mencegah penularan HIV kepada bayi dalam kandungan selama kehamilan.

Kini, ibu hamil bisa membicarakan tentang kondisi kesehatannya kepada dokter, tanpa perlu keluar rumah, melalui aplikasi Halodoc. Hubungi dokter melalui Video/Voice Call dan chat untuk berdiskusi dan meminta saran kesehatan kapan saja. Ibu juga bisa membeli produk kesehatan dan vitamin yang dibutuhkan di Halodoc. Caranya sangat mudah, tinggal order dan pesanan akan diantar dalam satu jam. Jadi, tunggu apa lagi? Download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.