Jenis Tes Pendengaran, Ini Fakta Otoacoustic Emissions

Jenis Tes Pendengaran, Ini Fakta Otoacoustic Emissions

Halodoc, Jakarta – Gangguan pendengaran tidak bisa dianggap sepele karena berpengaruh pada produktivitas dan aktivitas sehari-hari. Maka itu, kamu dianjurkan bicara pada dokter jika mengalami keluhan pendengaran. Lantas, apa saja jenis tes pendengaran yang bisa dijalani? Kapan waktu yang tepat untuk melakukan tes pendengaran? Ketahui jawabannya di sini.

Baca Juga: 5 Jenis Gangguan Pendengaran yang Perlu Diketahui

Mengenal Dua Jenis Gangguan Pendengaran

Tes pendengaran dilakukan untuk mengetahui kemampuan mendengar seseorang yaitu dengan mengukur seberapa baik suara terhantar ke otak. Proses mendengar terjadi ketika gelombang suara masuk melalui telinga dan dihantarkan oleh saraf ke otak. Proses terganggu ketika ada bagian telinga yang rusak dan terjadi gangguan pendengaran. Berikut dua jenis gangguan pendengaran yang perlu diwaspadai:

  • Tuli konduktif. Jenis gangguan pendengaran ini terjadi jika ada masalah pada saluran telinga atau bagian tengah telinga. Akibatnya, gelombang suara terhalang dan tidak bisa masuk ke bagian dalam telinga. Gangguan pendengaran jenis ini berpotensi menyebabkan hilangnya pendengaran sementara atau permanen.
  • Tuli sensorineural, terjadi jika organ bagian dalam telinga (koklea) atau saraf pendengaran tidak berfungsi normal. Alhasil, suara tidak terhantar ke otak dan menyebabkan tuli permanen.

Tes pendengaran dianjurkan jika seseorang merasa ada dengung suara pada telinga (tinnitus), bicara terlalu keras tanpa sadar (akibat gangguan pendengaran), sering meminta lawan bicara mengulang pembicaraan, sulit mendengar, serta mendengarkan lagu atau TV terlalu kencang hingga mengganggu orang lain.

Baca Juga: Gangguan Pendengaran Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental?

Tes Pendengaran Otoacoustic Emissions (OAE)

Otoacoustic emissions (OAE) merupakan salah satu jenis tes pendengaran. Tes ini digunakan untuk memeriksa gangguan di telinga bagian dalam, khususnya bagian koklea (rumah siput). Kebanyakan tes OAE dilakukan untuk memeriksa gangguan pendengaran pada bayi yang baru lahir, tapi bisa juga dilakukan untuk orang dewasa.

Dalam tes OAE, alat kecil yang dilengkapi earphone dan mikrofon diletakkan di liang telinga. Kemudian, dokter menghantarkan suara ke telinga melalui earphone. Mikrofon digunakan untuk mendeteksi respons koklea yang berupa getaran

Pada pendengaran normal, getaran akan menghasilkan suara kecil yang menggema ke liang telinga. Suara ini diukur untuk menilai jenis gangguan pendengaran yang diidap. OAE juga bisa digunakan untuk mendeteksi penyumbatan di bagian luar dan tengah telinga. Jika terjadi penyumbatan, suara tidak masuk ke bagian dalam telinga dan koklea tidak menghasilkan respons apa pun.

Tes Pendengaran Selain Otoacoustic Emissions (OAE)

Selain otoacoustic emissions (OAE), gangguan pendengaran bisa dideteksi melalui tes bisik, garpu tala, audiometri tutur, audiometri nada murni, auditory brainstem response test, dan timpanometri. Semua jenis tes pendengaran tersebut dilakukan oleh semua orang karena tidak menimbulkan efek samping.

Baca Juga: Mulai Susah Mendengar, Ini Waktu yang Tepat Datangi THT

Itulah fakta tes pendengaran otoacoustic emissions (OAE) yang perlu diketahui. Kalau kamu punya keluhan pendengaran, jangan ragu berbicara dengan dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!