Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Trombositosis, Penyebab TIA, gumpalan dalam pembuluh darah otak

Halodoc, Jakarta - Trombositosis merupakan kondisi adanya kelainan pada tingginya jumlah trombosit yang diproduksi oleh tubuh. Pada orang dewasa, batas normal trombosit adalah 150-450x109/L atau 150.000-450.000 platelet per mikroliter darah. Sementara itu, seorang pengidap trombositosis dapat memiliki jumlah trombosit hingga 600x109/L atau lebih.

Trombositosis menjadi salah satu penyebab utama kondisi penggumpalan darah. Kondisi ini bisa terpicu pula oleh penyakit lain yang sudah dimiliki sebelumnya, sehingga pemeriksaan awal bisa menentukan jenis trombositosis apa yang dialami. Trombositosis umumnya menimbulkan gejala seperti sakit kepala, pusing, kelelahan, sakit dada, pingsan, kesemutan pada tangan dan kaki, atau gangguan penglihatan sementara. Sering pula trombositosis sekunder bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Baca juga: Ketahui Penyebab Seseorang dapat Terkena Trombositosis

Biasanya gejala juga berkaitan dengan gejala dari kondisi pemicunya, sehingga pemeriksaan darah rutin atau pemeriksaan lainnya akan diperlukan untuk menentukan diagnosis trombositosis sekunder. Sedangkan trombosit primer biasanya sedikit lebih sering dialami oleh perempuan dan orang yang berusia di atas 50 tahun. Meski begitu, kondisi ini dapat terjadi pula pada orang dengan usia yang lebih muda. Gejala lain dari kondisi ini tidak jauh berbeda dengan trombositosis sekunder dengan penambahan gejala:

  • Kemerahan, rasa sakit yang membakar, dan denyutan di area tangan dan kaki.

  • Kehilangan fungsi penglihatan sementara.

  • Pembesaran limpa.

  • Perdarahan. Pendarahan yang terjadi bisa berupa mimisan, gusi berdarah, timbul memar di kulit, dan kotoran yang disertai darah.

Apabila tidak ditangani dengan tepat, penggumpalan darah bisa dialami pengidap di area tangan, kaki, serta otak, sehingga dapat menyebabkan stroke atau transient ischemic attack (TIA). Transient ischaemic attack (TIA) atau stroke ringan merupakan kondisi yang terjadi saat pasokan darah ke otak mengalami gangguan sesaat. Serangan ini biasanya berlangsung lebih singkat dari stroke, yaitu selama beberapa menit hingga beberapa jam, dan pengidap akan pulih dalam waktu sehari.

Baca juga: Inilah Pengobatan yang Tepat Bagi Pengidap Trombositosis

TIA biasanya disebabkan oleh adanya gumpalan berukuran kecil yang tersangkut dalam pembuluh darah otak. Gumpalan ini bisa berupa lemak atau gelembung udara. Penyumbatan tersebut kemudian menghambat aliran darah dan memicu kekurangan oksigen pada bagian tertentu di otak. Itulah yang menyebabkan terganggunya fungsi otak.

Berbeda dengan stroke, gumpalan penyebab TIA akan hancur dengan sendirinya, sehingga fungsi otak akan kembali normal. Maka itu, TIA tidak menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen. Walau hanya sesaat, TIA merupakan peringatan akan datangnya gangguan penyakit yang lebih parah.

Apabila penanganannya tidak tepat, maka diperkirakan terdapat sekitar 20 persen pengidap TIA yang akan mengalami stroke pada tahun berikutnya. Sedangkan pengidap TIA yang berpotensi terkena serangan jantung pada tahun yang sama sekitar 30 persen.

Baca juga: Ketahui Komplikasi yang Disebabkan Trombositosis

Daripada mengobati, pencegahan tentu bermanfaat bagi banyak orang, apalagi mereka yang memiliki risiko tinggi. Beberapa langkah mudah yang bisa kamu lakukan untuk mencegah yaitu:

  • Menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang. Batasi asupan garam serta lemak dan tingkatkan konsumsi makanan yang kaya akan serat, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.

  • Rajin berolahraga. Kamu disarankan untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup menguras tenaga, setidaknya 2,5 jam per minggu.

  • Berhenti merokok dan kurangi konsumsi minuman keras. Kedua langkah ini tidak hanya akan menurunkan risiko TIA dan stroke, tapi juga penyakit-penyakit lain.

  • Menjaga berat badan yang sehat. Langkah ini akan menghindarkan kamu dari obesitas yang menjadi faktor pemicu TIA.

  • Menangani kondisi-kondisi yang mungkin menyebabkan TIA dengan seksama, misalnya hipertensi, kolesterol tinggi, serta diabetes.

  • Menghindari obat-obatan terlarang, seperti kokain dan sejenisnya supaya terhindar pula dari risiko terserang TIA atau penyakit kronis lainnya.

Dengan menjalani gaya hidup sehat, diharapkan setiap orang terhindar dari masalah penyakit ini. Jika kamu masih ragu mengenai pencegahan atau ingin lebih tahu tentang penyakit ini, kamu dapat menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc secara praktis. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.