• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Halodoc, Jakarta - Jumlah trombosit dalam tubuh harus berada dalam batas normal. Jika terlalu rendah, atau terlalu tinggi, tentunya ada masalah kesehatan yang mengintai. Kondisi ketika jumlah trombosit dalam tubuh terlalu tinggi disebut trombositosis

Normalnya, jumlah trombosit orang dewasa adalah sekitar 150-450x109/L atau 150.000-450.000 per mikroliter darah. Namun, pada pengidap trombositosis, jumlah trombosit melonjak hingga 600x109/L atau lebih. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai akibat trombositosis adalah TIA (transient ischemic attack) atau disebut stroke ringan. 

Baca juga: Ketahui Penyebab Seseorang dapat Terkena Trombositosis

Alasan Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Alasan trombositosis bisa sebabkan TIA adalah karena kondisi ini dapat memicu penggumpalan darah. Tentunya tidak semua kasus trombositosis berujung pada TIA. Trombositosis dapat menyebabkan TIA jika terjadi penggumpalan darah kecil di otak. 

Risiko terjadinya TIA akibat trombositosis dapat meningkat jika kondisi tidak ditangani. Namun, pada beberapa kasus, seperti pada trombositosis sekunder, gejala sering kali tidak disadari. Trombositosis bisa dipicu oleh penyakit lain yang sudah dimiliki sebelumnya, pemeriksaan awal bisa menentukan jenis trombositosis apa yang dialami. 

Secara umum, trombositosis dapat menimbulkan gejala seperti sakit kepala, pusing, kelelahan, sakit dada, pingsan, kesemutan pada tangan dan kaki, atau gangguan penglihatan sementara. Biasanya, gejala yang dialami juga berkaitan dengan gejala dari kondisi yang jadi pemicunya.

Oleh karena itu, pemeriksaan darah rutin dan tes lainnya mungkin diperlukan untuk menentukan diagnosis trombositosis sekunder. Sementara itu, pada trombosit primer, biasanya sedikit lebih sering dialami oleh wanita dan orang yang berusia di atas 50 tahun. 

Baca juga: Inilah Pengobatan yang Tepat Bagi Pengidap Trombositosis

Namun, trombositosis primer juga dapat terjadi pada orang dengan usia yang lebih muda. Gejala lain dari trombositosis primer tidak jauh berbeda dengan trombositosis sekunder, dengan penambahan gejala berupa:

  • Kemerahan, sensasi terbakar dan berdenyut di area tangan dan kaki.
  • Hilangnya fungsi penglihatan sementara.
  • Pembesaran limpa.
  • Perdarahan, berupa mimisan, gusi berdarah, timbul memar di kulit, dan kotoran yang disertai darah.

Jika trombositosis yang dialami tidak segera ditangani dengan tepat, penggumpalan darah bisa dialami pengidap di area tangan, kaki, serta otak, sehingga dapat menyebabkan TIA. Perlu diketahui, TIA adalah kondisi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan sesaat. 

TIA disebut stroke ringan karena serangannya biasanya berlangsung lebih singkat dari stroke pada umumnya. Lama serangan TIA biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam, dan pengidap akan pulih dalam waktu sehari.

Pada kebanyakan kasus, TIA biasanya disebabkan penggumpalan darah berukuran kecil pada dalam pembuluh darah otak. Gumpalan tersebut bisa berupa lemak atau gelembung udara, yang menghambat aliran darah dan memicu kekurangan oksigen pada bagian tertentu di otak. 

Hal ini berbeda dengan stroke, karena gumpalan penyebab TIA biasanya akan hancur dengan sendirinya, sehingga fungsi otak akan kembali normal. Itulah sebabnya, umumnya TIA tidak menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen. 

Meski begitu, TIA bisa menjadi peringatan akan datangnya gangguan penyakit yang lebih parah. Jika tidak ditangani dengan tepat, TIA juga dapat meningkatkan risiko stroke di kemudian hari.

Baca juga: Ketahui Komplikasi yang Disebabkan Trombositosis

Tips Menurunkan Risiko TIA

Alih-alih mengobati, melakukan upaya pencegahan TIA tentu bermanfaat bagi banyak orang. Terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi. Beberapa langkah mudah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko terkena TIA adalah:

  • Memiliki pola makan sehat dan seimbang. Jangan lupa juga untuk membatasi asupan garam dan lemak, serta meningkatkan konsumsi makanan yang kaya serat, seperti buah dan sayur.
  • Olahraga secara rutin, setidaknya 30 menit setiap harinya.
  • Hindari rokok dan minuman beralkohol. Hal ini tidak hanya akan menurunkan risiko TIA dan stroke, tetapi juga mencegah penyakit-penyakit lain.
  • Menjaga berat badan tetap sehat, karena obesitas meningkatkan risiko TIA.
  • Rutin memeriksakan kesehatan dan menangani kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan TIA, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, serta diabetes.
  • Menghindari penggunaan obat-obatan terlarang.

Itulah sedikit pembahasan mengenai trombositosis dan TIA, serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan. Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang kedua penyakit tersebut, gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Disease and Conditions. Thrombocytosis
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Health. Thrombocytosis.
Medicine Net. Diakses pada 2021. Transient Ischemic Attack (TIA, Mini-Stroke).