08 June 2017

Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya?

Kecanduan Media Sosial atau Alkohol, Mana yang Lebih Bahaya

Halodoc, Jakarta -  Menghabiskan waktu menggunakan media sosial saat sedang merasa bosan memang bisa sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang. Namun siapa sangka jika menggunakan media sosial juga bisa membuat kecanduan. Sama seperti halnya jika kamu mengonsumsi alkohol, media sosial bisa memberikan efek candu yang sama.

Dalam studi di University of Chicago Booth School of Business ditemukan bahwa media sosial bisa lebih membuat kecanduan dibandingkan alkohol. Alasannya, keinginan untuk mengonsumsi alkohol bisa dikontrol atau diturunkan. Namun keinginan untuk memeriksa apa yang terjadi di media sosial bisa dibilang sulit ditahan. Tentu saja ini bisa disebut sebagai salah satu kecanduan yang serius.

Studi yang ditemukan University of Chicago Booth School of Business ini dilakukan pada 250 orang di Jerman berusia 18 hingga 85 tahun. Uniknya dalam studi ini ditemukan bahwa kebanyakan orang-orang tersebut dapat menahan keinginan mereka seperti tidur atau berhubungan intim pada siang hari. Namun ini tidak berlaku untuk media sosial. Keinginan untuk menggunakan media sosial jauh lebih tinggi dibandingkan keinginan lain yang mereka rasakan.

Lalu kenapa media sosial bisa lebih membuat kecanduan dibandingkan alkohol?

  1. Alasan terbesar adalah karena media sosial lebih mudah “didapatkan” daripada alkohol. Kamu hanya butuh smartphone dan sambungan internet.
  2. Media sosial jelas lebih murah dibandingkan alkohol. Tak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk membuka media sosial. Tentu saja berbeda dengan alkohol yang memerlukan “biaya” tambahan bagi kamu jika ingin mengonsumsinya.
  3. Keinginan untuk menggunakan media sosial lebih sulit ditolak dibandingkan alkohol. Karena lebih mudah didapatkan, menggunakan media sosial menjadi candu yang sulit ditinggalkan. Lagi dan lagi, saat sudah menggunakan media sosial, kamu akan tergoda untuk menggunakannya terus menerus.
  4. Tak ada larangan menggunakan media sosial di depan publik. Seseorang mungkin kesulitan mengonsumsi alkohol secara terang-terangan saat kamu bekerja atau berada di tempat umum. Namun berbeda dengan media sosial yang tak butuh ijin dari orang lain. Kamu bisa mengunggah status kapan saja, dimana saja, tanpa batasan ruang dan waktu.


Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif seperti:

  1. Membuang-buang waktu. Bukannya tidak boleh menggunakan media sosial. Namun jika secara berlebihan, maka sama halnya dengan menyia-nyiakan waktu luang. Misalnya, waktu kerja dan istirahat jadi terganggu.
  2. Menurunkan rasa percaya diri. Saat mengetahui teman di media sosial terlihat menikmati hidup mereka, bukan tidak mungkin kamu akan merasa tertekan dengan fakta itu karena hidup kamu tidak seperti mereka. Sayangnya, orang lebih mudah percaya melihat apa yang ditampilkan di media sosial tanpa menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Percayalah, apa yang ada di media sosial tidak sepenuhnya benar dan bisa jadi hanya karangan belaka.


Lalu seperti apa tanda seseorang yang sudah kecanduan media sosial? Perhatikan kebiasaan menggunakan media sosial. Apabila kamu memperbarui status pada tengah malam dan bukannya tidur, maka dapat dikatakan bahwa kamu sudah masuk dalam fase awal kecanduan media sosial. Untuk itu sebaiknya lebih memerhatikan diri sendiri dengan mempedulikan kondisi tubuh dan kesehatanmu.

Apabila merasa dorongan menggunakan media sosial semakin besar, bisa jadi ada yang salah dengan kondisi psikologis kamu. Kalau sudah begini, tak perlu malu menghubungi dokter.

Kamu bisa menghubungi dokter melalui Halodoc untuk bicara dengan psikolog atau dokter jiwa pilihan. Gunakan fitur Chat, Video Call, dan Voice Call untuk berkonsultasi dengan dokter. Selain konsultasi dokter, kamu juga bisa menggunakan Halodoc untuk belanja kebutuhan medis yang diinginkan. Download aplikasi Halodoc sekarang melalui App Store dan Google App sekarang.