09 October 2018

Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

kenapa difteri lebih mudah menyerang anak-anak

Halodoc, Jakarta – Difteri adalah salah satu penyakit yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan juga tenggorokan. Tidak hanya itu, terkadang difteri menyerang kulit para pengidapnya. Difteri termasuk salah satu penyakit yang menular dan cukup berbahaya karena menyebabkan kematian. Meskipun berbahaya, tetapi penyakit difteri bisa dicegah dengan melakukan imunisasi.

Penyakit difteri nyatanya dapat menyerang siapa saja dengan usia berapa pun. Namun di Indonesia, penyakit difteri lebih banyak menyerang anak kecil dengan usia 5—9 tahun. Hal ini dikarenakan pada usia itu anak-anak masih membutuhkan vaksinasi atau imunisasi, khususnya imunisasi difteri. Anak seharusnya melakukan lima tahapan imunisasi difteri sesuai dengan usia mereka hingga 5 tahun. Namun, faktanya masih ada beberapa orangtua yang enggan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi difteri yang lengkap. Inilah yang menjadi penyebab penyakit difteri pada anak lebih mudah terjangkit.

Pencegahan difteri bisa dilakukan dengan pemberian vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau yang lebih dikenal dengan batuk rejan.

Gejala Difteri pada Anak

Penyakit difteri adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Jika anak ibu terserang penyakit difteri maka ada beberapa gejala yang akan terlihat. Berikut adalah gejala yang dirasakan anak jika mengalami penyakit difteri:

1. Selaput Putih

Jika anak terserang difteri biasanya pada tenggorokan anak akan muncul selaput berwarna putih. Selain itu, terkadang selaput berwarna keabu-abuan.

2. Radang Tenggorokan

Selain muncul selaput berwarna putih, anak akan mengalami gejala-gejala seperti mengalami radang tenggorokan. Susah menelan dan juga suara anak menjadi serak. Ibu perlu waspada jika kedua gejala difteri ini muncul pada anak. Tidak hanya itu, batuk juga bisa menjadi salah satu ciri anak yang terserang difteri.

3. Hidung Berlendir

Selain pada tenggorokan, anak juga akan mengeluarkan lendir melalui hidung. Perlu ibu perhatikan jika lama-kelamaan lendir yang keluar semakin kental dan bercampur dengan darah.

4. Demam

Anak akan merasakan demam sehingga terasa tidak nyaman dengan kondisinya.

5. Perubahan pada Kulit

Anak yang terserang difteri akan memiliki kulit yang lebih pucat dari biasanya. Tidak hanya itu, anak juga akan sering mengeluarkan keringat. Sebaiknya, ibu rajin memberikan anak air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

Komplikasi Difteri

Sebaiknya berikan pertolongan medis jika anak mengalami beberapa gejala di atas. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka bakteri difteri dapat menyebabkan beberapa komplikasi pada kesehatan anak akibat penyakit difteri, seperti:

1. Masalah Pernapasan

Sel mati yang disebabkan toksin bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan anak. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan paru-paru dan menyebabkan gagal pernapasan pada anak.

2. Kerusakan Saraf

Toksin difteri dapat menyebabkan pengidap mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan di saraf tangan dan kaki.

3. Kerusakan Jantung

Toksin difteri juga berpotensi masuk ke dalam jantung dan menyebabkan peradangan jantung. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan jantung pada anak.

Selain melakukan imunisasi secara lengkap, menjaga kesehatan anak bisa ibu lakukan dengan pemberian makanan yang sehat dan bergizi sebagai cara mencegah difteri pada anak. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi anak tentu akan membuat kesehatan anak terjaga. JIka ibu memiliki keluhan terhadap kesehatan anak bisa gunakan aplikasi Halodoc. Yuk download aplikasi Halodoc melalui App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca juga: