Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Halodoc, Jakarta – Difteri adalah salah satu penyakit yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Tidak hanya itu, terkadang difteri juga menyerang kulit para pengidapnya. Difteri termasuk salah satu penyakit yang menular dan cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian apabila tidak segera ditangani. Meskipun berbahaya, penyakit difteri bisa dicegah dengan melakukan imunisasi.

Pencegahan difteri bisa dilakukan dengan pemberian vaksin DPT, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Difteri bisa menjangkiti siapa pun, tetapi anak-anak adalah individu yang rentan terserang penyakit ini. Ini alasan mengapa anak-anak rentan terserang difteri.

Baca Juga: Ini Alasan Mengapa Difteri Mematikan

Alasan Anak-Anak Rentan Terserang Difteri

Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun berisiko tertular infeksi difteri. Risiko infeksi bisa semakin besar apabila anak-anak tersebut tumbuh di lingkungan yang padat atau tidak bersih. Selain itu, anak yang kurang gizi juga rentan terserang difteri, terutama mereka yang tidak mendapatkan imunisasi.

Alasan lain mengapa anak-anak rentan mengidap diftari karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna. Mengingat anak-anak rentan terserang difteri, mereka harus mendapatkan lima tahapan imunisasi difteri sampai usia 5 tahun.

Namun, faktanya masih ada orangtua yang enggan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi difteri yang lengkap. Inilah yang menjadi penyebab penyakit difteri pada anak lebih mudah terjangkit.

Gejala Difteri pada Anak

Penyakit difteri adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Jika anak ibu terserang penyakit difteri, ada beberapa gejala yang terlihat. Berikut ini gejala yang dirasakan anak jika mengalami penyakit difteri, yaitu:

1. Selaput Putih

Jika terserang difteri, pada tenggorokan anak akan muncul selaput berwarna putih. Selain itu, terkadang selaput berwarna keabu-abuan.

Baca Juga: Ini Waktu yang Tepat Beri Anak Vaksin Difteri

2. Radang Tenggorokan

Selain muncul selaput berwarna putih, anak akan mengalami gejala-gejala seperti mengalami radang tenggorokan. Susah menelan dan suara anak menjadi serak. Ibu perlu waspada jika kedua gejala difteri ini muncul pada anak. Tidak hanya itu, batuk juga bisa menjadi salah satu ciri anak yang terserang difteri.

3. Hidung Berlendir

Selain pada tenggorokan, anak juga akan mengeluarkan lendir melalui hidung. Perlu ibu perhatikan jika lama-kelamaan lendir yang keluar semakin kental dan bercampur dengan darah.

4. Demam

Anak akan merasakan demam sehingga terasa tidak nyaman dengan kondisinya.

5. Perubahan pada Kulit

Anak yang terserang difteri akan memiliki kulit yang lebih pucat dari biasanya. Tidak hanya itu, anak juga akan sering mengeluarkan keringat. Sebaiknya, ibu rajin memberikan anak air putih untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh.

Kalau Si Kecil mengalami gejala-gejala di atas, ibu perlu membawanya ke rumah sakit untuk memastikan apakah ia terserang difteri atau kondisi lainnya. Sebelum memeriksakan Si Kecil ke rumah sakit, ibu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu lewat aplikasi Halodoc. Ibu tinggal memilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Waspada, Ini Komplikasi Difteri

Sebaiknya berikan pertolongan medis jika anak mengalami gejala di atas. Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, ketahui komplikasi yang dapat terjadi karena bakteri difteri, yaitu:

1. Masalah Pernapasan

Sel mati yang disebabkan toksin bakteri difteri membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan anak. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan paru-paru dan menyebabkan gagal pernapasan pada anak.

2. Kerusakan Saraf

Toksin difteri dapat menyebabkan pengidap mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan di saraf tangan dan kaki.

Baca Juga: Sedang Mewabah, Kenali Gejala Difteri dan Cara Mencegahnya

3. Kerusakan Jantung

Toksin difteri juga berpotensi masuk ke dalam jantung dan menyebabkan peradangan jantung. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan jantung pada anak.

Bakteri difteri mudah menempel pada benda-benda di sekitar kita. Nah, anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun suka memasukkan tangan, mainan atau benda-benda ke dalam mulut mereka. Untuk itu, pastikan anak mendapatkan imunisasi untuk cegah difteri atau penyakit menular lainnya.

Referensi :
WHO. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Diphteria.