Abses Paru

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Abses Paru

Abses paru adalah dan pembentukan kavitas (lubang) pada jaringan paru yang berukuran lebih dari 2 sentimeter. Lubang  ini berisi kumpulan jaringan paru yang mati (nekrosis) akibat infeksi bakteri. Abses paru merupakan bagian dari infeksi paru.  Menurut waktunya, abses paru dapat dibagi menjadi dua, yaitu  abses paru akut dan kronik. Abses paru akut adalah abses paru yang terjadi kurang dari 6 minggu dan abses paru dikatakan kronik apabila terjadi lebih dari 6 minggu.

Gejala Abses Paru

Tanda dan gejala awal dari abses paru biasanya tidak terlalu berbeda dengan infeksi paru pada umumnya, yaitu demam, menggigil, batuk, keringat terutama pada malam hari, sesak napas, penurunan berat badan dan lemas, nyeri dada dan anemia. Batuk yang terjadi pada abses paru biasanya awalnya tidak berdahak, tetapi kemudian menjadi berdahak dan terkadang disertai dengan batuk darah.

Penyebab Abses Paru

Berdasarkan penyebabnya, abses paru terbagi menjadi dua, yaitu abses paru primer dan sekunder. Abses paru primer terjadi akibat proses di dalam paru itu sendiri dan merupakan sekitar 60 persen dari seluruh kasus abses paru. Penyebab dari dari abses paru primer antara lain aspirasi (masuknya benda selain udara ke saluran pernapasan), misalnya akibat adanya infeksi gigi, hidung, gangguan kesadaran, gangguan menelan, penyakit refluks lambung, muntah yang sering, infeksi paru (pneumonia), ataupun pada kondisi daya tahan tubuh yang sangat rendah (immunocompromised) 

Semenrara abses paru sekunder adalah abses paru yang terjadi sebagai akibat dari proses di tempat lain. Beberapa penyebab yang dapat menimbulkan kondisi ini, yaitu sumbatan saluran pernapasan, misalnya oleh tumor, benda asing, atau pembesaran kelenjar getah bening, dengan disertai adanya penyakit paru (seperti penyakit bronkiektasis, emfisema bulosa, fibrosis kistik, infark paru, ataupun kontusio paru). Selain itu abses paru sekunder dapat merupakan hasil penyebaran melalui darah dari tempat lain, seperti pada keadaan sepsis, endokarditis infektif, infeksi pada kateter vena sentral, dan sebagainya. Penyebab lainnya dari abses paru sekunder adalah hasil penyebaran langsung. Hal ini dapat terjadi jika ada lubang yang menyambungkan antara bronkus dan esofagus dan pada abses subfrenikus.

Faktor Risiko Abses Paru

Abses paru dapat disebabkan oleh aspirasi atau masuknya benda atau makanan ke dalam saluran napas hingga ke paru-paru. Kondisi ini rentan terjadi pada pengidap yang tidak sadar, sehingga kondisi gangguan kesadaran merupakan faktor risiko untuk terjadi abses paru. Kecanduan alkohol juga merupakan kondisi utama yang berisiko menimbulkan abses paru. Selain itu, mengidap penyakit-penyakit, seperti yang dijelaskan pada bagian penyebab abses paru juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya abses paru.   

Diagnosis Abses Paru

Selain wawancara yang mendalam dan pemeriksaan fisik, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah dan pencitraan. Ada beberapa jenis pencitraan yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis abses paru, seperti CT (Computed Tomography) scan dan rontgen. Selain itu, kemungkinan akan perlu dilakukan pemeriksaan langsung pada saluran pernapasan (bronkus) dengan bronkoskopi untuk dapat mengambil material untuk pemeriksaan mikrobiologi dan memastikan penyebab keluhan yang dialami.

Pengobatan Abses Hati

Terapi standar yang biasanya digunakan untuk mengobati abses hati adalah antibiotik.  Beberapa jenis antibiotika yang dapat digunakan untuk mengobati abses paru, yaitu klindamisin, metronidazol, kombinasi golongan betalaktam, makrolida, dan aminoglikosida. Dokter akan melakukan pemeriksaan yang lengkap untuk menentukan jenis antibiotik apa yang tepat. Perbaikan kondisi biasanya akan terjadi dalam 4—7 hari, tetapi penyembuhan yang disertai perbaikan hasil pencitraan dapat dilihat setelah paling tidak 2 bulan.

Pada abses yang berukuran lebih dari 6 sentimeter atau gejala dirasakan lebih dari 12 minggu dengan  telah mengonsumsi antibiotik, kemungkinan dibutuhkan terapi pembedahan. Terapi pembedahan yang dapat dilakukan adalah drainase dengan selang atau reseksi (pemotongan) abses paru dan sedikit jaringan di sekitarnya.

Efek samping yang dapat terjadi pada terapi antibiotik bergantung pada jenis antibiotik yang digunakan. Sedangkan untuk terapi pembedahan, efek samping yang dapat terjadi adalah dapat terjadi perdarahan, infeksi, atau dapat terjadi hal yang fatal bila tidak dilakukan bukan oleh ahlinya, ataupun pada keadaan kondisi umum yang  berisiko, seperti pada pengidap yang berusia lanjut, malnutrisi, atau pecandu alkohol. 

Komplikasi Abses Paru

Abses paru yang tidak diterapi dapat berakibat makin meluasnya abses, penyebaran infeksi ke tempat lain, hingga dapat berakibat fatal.

Pencegahan Abses Paru

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abses paru, yaitu dengan makan makanan yang bergizi, pola hidup yang sehat, tidak mengonsumsi alkohol, dan berobat ke dokter jika ada masalah medis yang dialami.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami keluhan, seperti demam, batuk, sesak napas, nyeri dada ataupun gangguan medis lain, segera periksakan diri ke dokter agar bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu di sini.