
DAFTAR ISI
Apa Itu Apomorphine?
Penyakit Parkinson adalah gangguan sistem saraf pusat progresif yang memengaruhi gerakan tubuh. Seiring berjalannya waktu, pasien Parkinson yang telah lama menggunakan obat-obatan standar (seperti Levodopa) kerap mengalami fase fluktuasi motorik, yang dikenal sebagai episode “off”. Pada fase ini, gejala kekakuan otot dan hilangnya kemampuan bergerak dapat muncul secara tiba-tiba.
Untuk mengatasi episode “off” yang parah dan tak terduga tersebut, dokter kerap meresepkan apomorphine. Obat ini merupakan agonis dopamin non-selektif yang bekerja dengan sangat cepat untuk merangsang reseptor dopamin di otak. Dengan demikian, fungsi motorik pasien dapat pulih kembali dalam waktu singkat (biasanya 10-20 menit setelah pemberian).
Meskipun namanya mengandung kata “morphine”, obat ini sama sekali tidak mengandung morfin, tidak bersifat narkotika, dan tidak berfungsi sebagai pereda nyeri. Obat ini secara spesifik diformulasikan sebagai terapi penyelamat (rescue therapy) guna mengembalikan mobilitas pengidap Parkinson stadium lanjut agar bisa kembali beraktivitas.
Penyebab Penggunaan Apomorphine
Kebutuhan akan obat ini disebabkan oleh perburukan penyakit Parkinson itu sendiri. Penyakit Parkinson terjadi akibat matinya sel-sel saraf penghasil dopamin di area otak yang disebut substantia nigra. Ketika produksi dopamin menurun drastis, sinyal otak yang mengatur gerakan tubuh menjadi kacau. Pada tahap awal, obat Levodopa dapat menggantikan dopamin dengan baik. Namun, setelah beberapa tahun, efektivitas Levodopa mulai memudar sebelum dosis berikutnya diminum, menyebabkan kondisi wearing-off atau fluktuasi motorik yang mengharuskan penggunaan obat yang bekerja cepat.
Faktor Risiko
Tidak semua pengidap Parkinson membutuhkan terapi ini. Ada beberapa faktor risiko yang membuat seseorang rentan mengalami fluktuasi motorik parah sehingga membutuhkan penanganan lanjutan, antara lain:
- Telah mengidap penyakit Parkinson selama lebih dari 5 tahun.
- Penggunaan obat Levodopa dalam dosis tinggi dan jangka waktu yang lama.
- Adanya gangguan penyerapan obat di saluran cerna (gastroparesis) yang membuat obat oral tidak bekerja maksimal.
- Usia lanjut dengan penurunan fungsi dopaminergik yang drastis.
Jenis
Terdapat beberapa bentuk sediaan apomorphine yang diresepkan oleh dokter untuk pengidap Parkinson, yaitu:
- Suntikan Subkutan (Pen): Sediaan dalam bentuk pena injeksi (seperti pena insulin) yang disuntikkan ke bawah kulit saat episode “off” menyerang.
- Infus Subkutan Kontinu (Pump): Diberikan menggunakan pompa portabel kecil bagi pasien yang mengalami episode “off” berkali-kali dalam sehari, sehingga membutuhkan aliran obat yang stabil.
- Selalu rotasi atau pindah area suntikan setiap hari (misalnya dari paha kanan ke paha kiri atau perut) untuk mencegah pengerasan kulit.
- Pastikan area yang akan disuntik bersih dan steril dengan mengusapnya menggunakan kapas alkohol.
- Minum obat anti-mual (antiemetik) yang diresepkan dokter beberapa hari sebelum memulai terapi untuk mencegah mual hebat.
- Film Sublingual: Bentuk sediaan yang lebih modern berupa lembaran film yang diletakkan di bawah lidah agar cepat larut dan menyerap langsung ke pembuluh darah tanpa perlu jarum suntik.
Tips Penggunaan Apomorphine:
Gejala
Obat ini digunakan secara khusus untuk mengatasi gejala-gejala melumpuhkan yang muncul selama fase “off” pada penyakit Parkinson, yang meliputi:
- Freezing of gait, yaitu kondisi di mana kaki terasa seperti menempel di lantai dan sulit melangkah.
- Kekakuan otot (rigiditas) yang ekstrem di seluruh tubuh.
- Tremor (gemetar) saat istirahat yang tidak bisa dikendalikan.
- Bradikinesia, yakni gerakan tubuh yang berubah menjadi sangat lambat.
Diagnosis
Sebelum meresepkan obat ini, dokter spesialis saraf akan melakukan diagnosis mendalam. Pasien biasanya diminta mencatat buku harian (diary) mengenai siklus “on” (saat obat bekerja dan bisa bergerak) dan “off” (saat kaku). Dokter juga sering melakukan tes tantangan Levodopa atau tes tantangan apomorphine di klinik untuk melihat seberapa baik respons tubuh pasien terhadap pengobatan dopaminergik, sekaligus memantau potensi efek samping tekanan darah yang mungkin terjadi.
Pengobatan
Pengobatan dengan apomorphine tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena efek samping mual dan muntahnya yang sangat kuat, dokter biasanya akan meresepkan obat anti-mual (seperti trimethobenzamide) selama 3 hari sebelum injeksi pertama dimulai. Selain itu, dosis harus dititrasi atau disesuaikan secara perlahan (dimulai dari dosis terkecil 0,1 ml atau 1 mg) di bawah pengawasan medis di klinik atau rumah sakit. Jika tekanan darah stabil dan gejala Parkinson membaik, barulah dosis dipertahankan untuk pemakaian di rumah.
Komplikasi
Seperti obat saraf kuat lainnya, obat ini bisa menimbulkan berbagai efek samping dan komplikasi, seperti:
- Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah secara tiba-tiba saat berdiri yang menyebabkan pusing).
- Mual dan muntah parah jika tidak dicegah dengan antiemetik.
- Halusinasi atau kebingungan (terutama pada pasien lansia).
- Serangan tidur (sleep attacks) di mana pasien tiba-tiba tertidur tanpa peringatan.
- Diskinesia, yaitu gerakan tubuh yang berlebihan dan tidak terkendali.
- Iritasi, kemerahan, atau pembentukan nodul di area suntikan.
Pencegahan
Komplikasi terkait penggunaan obat ini dapat dicegah dengan kedisiplinan. Pasien dilarang mengubah dosis tanpa anjuran dokter. Untuk menghindari tekanan darah drop, disarankan untuk bangkit dari posisi duduk ke berdiri secara perlahan. Menjaga kebersihan area suntikan sangat penting untuk mencegah infeksi dan kerusakan jaringan kulit. Jika pasien kerap merasa sangat mengantuk, maka disarankan untuk tidak mengemudikan kendaraan sendiri demi keselamatan.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu mengalami efek samping yang parah seperti halusinasi, pusing hebat hingga pingsan, atau mual yang tidak tertahankan setelah menggunakan obat ini, segera konsultasi dengan [Dokter Spesialis Saraf](https://halodoc.onelink.me/cQvV/kc61kr92) di Halodoc.
Studi Terkait
Sebuah studi retrospektif berskala global yang dipublikasikan dalam Journal of Neurology and Movement Disorders pada tahun 2026 mengevaluasi penggunaan terapi infus apomorphine subkutan pada 5.000 pasien Parkinson stadium lanjut. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan obat secara kontinu mampu memangkas waktu episode “off” rata-rata hingga 3-4 jam per hari, serta memperbaiki kualitas tidur dan mobilitas pasien secara signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan Levodopa oral saja.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:
Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!
Referensi
-
PubMed. Diakses pada 2026. Efficacy and Safety of Apomorphine in Advanced Parkinson’s Disease.
-
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Apomorphine (Subcutaneous Route): Side Effects and Patient Information.
-
WHO. Diakses pada 2026. Neurological Disorders: Parkinson Disease Treatment Guidelines.
-
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Tatalaksana Penyakit Parkinson di Indonesia.
FAQ
1. Apakah obat ini merupakan obat pereda nyeri (narkotika)?
Tidak. Meskipun namanya mirip, obat ini bukan turunan morfin dan bukan obat pereda nyeri, melainkan agonis dopamin untuk merangsang sel saraf pada penderita Parkinson.
2. Bagaimana cara kerja obat ini dalam tubuh?
Obat ini bekerja dengan cara meniru fungsi dopamin di dalam otak. Dengan mengisi kekurangan dopamin, otak kembali bisa mengirim sinyal yang tepat untuk mengatur gerakan otot.
3. Apakah obat ini bisa menyembuhkan penyakit Parkinson?
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Parkinson hingga saat ini. Obat ini hanya berfungsi sebagai terapi untuk meringankan gejala kaku dan memulihkan fungsi gerak saat fase fluktuasi motorik memburuk.
4. Bolehkan ibu hamil menggunakan obat ini?
Penggunaannya pada ibu hamil sangat tidak disarankan kecuali manfaatnya jauh melebihi risikonya. Konsultasikan dengan dokter saraf dan kandungan sebelum mempertimbangkan pengobatan ini selama masa kehamilan.
