• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Croup

Croup

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Croup

Pengertian Croup

Penyakit croup mengacu pada infeksi saluran napas bagian atas, yang menghalangi pernapasan, dan menyebabkan batuk. Batuk serta tanda dan gejala croup lainnya adalah akibat dari pembengkakan di sekitar kotak suara (laring), tenggorokan (trakea), dan saluran bronkial (bronkus). 

Ketika batuk memaksa udara keluar, pita suara yang membengkak menghasilkan suara serak. Begitu juga saat menarik napas, yang menghasilkan suara seperti sedang mengi. Perlu diketahui croup biasanya terjadi pada anak kecil. Kondisi ini umumnya tidak serius dan dapat dirawat di rumah. 

Penyebab Terjadinya Croup

Ada beberapa virus yang dapat menyebabkan croup. Pada kebanyakan kasus berasal dari:

  • Virus parainfluenza (flu biasa).
  • Adenovirus (kelompok lain dari virus flu biasa).
  • Respiratory syncytial virus (RSV).
  • Kuman paling umum yang menyerang anak kecil.
  • Campak.
  • Alergi.
  • Paparan iritasi yang dihirup.
  • Infeksi bakteri.

Croup disebabkan oleh virus yang menginfeksi kotak suara (laring) dan tenggorokan (trakea). Virus yang paling sering menyebabkan croup adalah parainfluenza. Umumnya gejala croup ringan pada tahap awal, tapi bisa saja memburuk bila tak diobati. 

Croup spasmodik jarang terjadi. Kondisi tersebut datang secara tiba-tiba, biasanya di tengah malam. Dokter meyakini hal tersebut disebabkan oleh alergi atau refluks dari perut, yaitu ketika isi perut bayi naik kembali ke kerongkongannya. 

Anak dapat tertular virus saat menghirup droplets (tetesan pernapasan) yang terinfeksi ke udara. Partikel virus dalam droplets dapat bertahan di mainan dan permukaan lainnya.  Jika anak menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulutnya, infeksi mungkin terjadi.

Faktor Risiko Croup

Terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya croup, antara lain:

  • Berusia 6 bulan hingga 3 tahun. Puncak kerentanan terjadinya kondisi ini pada usia 18-24 bulan.
  • Anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, atau memiliki orang tua yang mengidap asma karena dapat meningkatkan risiko laringitis bronkial. 

Gejala Croup pada Anak

Gejala croup cenderung paling parah pada anak di bawah usia 3 tahun. Hal ini karena sistem pernapasan anak lebih kecil dibandingkan dengan orang dewasa. Gejala yang umum pada kebanyakan kasus croup meliputi:

  • Gejala pilek seperti bersin dan pilek.
  • Batuk.
  • Sesak napas.
  • Suara serak.

Segera dapatkan penanganan medis jika croup mengancam kemampuan anak untuk bernapas. Hubungi dokter segera jika anak mengalami gejala seperti:

  • Mengi saat bernapas.
  • Kesulitan menelan.
  • Warna kulit kebiruan atau abu-abu di sekitar hidung, mulut, dan kuku.

Croup yang berlangsung lebih dari satu minggu, sering kambuh, atau disertai demam tinggi harus segera ke dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk menyingkirkan infeksi bakteri atau kondisi lain yang lebih serius. 

Diagnosis Croup

Dokter akan mendiagnosis croup pada anak dengan:

  • Memperhatikan dan mengobservasi pernapasan anak.
  • Memeriksa dada anak dengan stetoskop.
  • Memeriksa tenggorokan anak.

Terkadang pemeriksaan dengan sinar-X dan tes lain diperlukan untuk mengeliminasi kemungkinan penyakit lain.

Pengobatan Croup

Croup ringan dapat ditangani di rumah dengan mencegah dehidrasi. Pemberian air putih, ASI, atau susu formula pada Si Kecil juga dianjurkan. Sangat penting membuat Si Kecil merasa nyaman dan tidak menangis, karena menangis dapat membuat kondisinya semakin tidak baik.

Apabila keadaan croup pada Si Kecil cukup parah, dokter kemungkinan akan memberikan suntikan adrenalin melalui nebulizer. Si Kecil akan diminta untuk menghirup obat dalam bentuk titik-titik air kecil. Pada kasus lainnya, Si Kecil dapat memerlukan intubasi, yaitu dimasukkannya sebuah selang melalui lubang hidung atau mulut hingga melewati trakea untuk mempermudah pernapasan. Proses ini membutuhkan pembiusan umum agar Si Kecil tidak merasa takut dan sakit.

Croup yang berakibat fatal sangat jarang ditemukan karena kondisi ini akan membaik dalam waktu 48 jam. Sedangkan untuk gejalanya dapat berlangsung selama dua minggu. Untuk itu, perlu dilakukan penanganan secepatnya agar tidak semakin parah. 

Apabila tidak diatasi dengan tepat, croup dapat menimbulkan komplikasi seperti infeksi telinga bagian tengah atau pneumonia. Jika setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit kondisi Si Kecil tidak kunjung membaik, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari kemungkinan gangguan lain dengan melakukan pemeriksaan X-ray di area leher dan dada.

Pencegahan Croup pada Anak

Pencegahan croup sama seperti mencegah pilek dan flu, yaitu dengan:

  • Sering mencuci tangan adalah hal yang paling penting.
  • Jauhkan anak dari siapa pun yang sakit.
  • Ajarkan anak cara bersin dan batuk yang tepat, yaitu dengan mengarahkan hidung dan mulut ke siku. 

Untuk mencegah infeksi yang lebih serius, lakukan vaksinasi untuk mencegah berbagai penyakit. Vaksin difteri dan Haemophilus influenza tipe b (Hib) menawarkan perlindungan dari beberapa infeksi saluran napas atas yang paling langka — tetapi paling berbahaya. Namun, belum ada vaksin yang melindungi tubuh dari virus parainfluenza.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika Si Kecil mengalami hal berikut ini:

  • Memiliki suara napas yang berisik, yaitu bernada tinggi baik ketika menghirup dan menghembuskan napas.
  • Sering ngiler dan kesulitan menelan.
  • Kelihatan cemas, gelisah, atau lelah.
  • Bernapas lebih cepat dari biasanya atau kesulitan untuk bernapas.
  • Memiliki kulit yang biru keabu-abuan di sekitar hidung, mulut, atau kuku.

Nah, ibu dapat  menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan medis dari dokter tepercaya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Harvard.edu. Diakses pada 2019. Croup.
Croup. Diakses pada 2022. Croup
Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Croup.
WebMD. Diakses pada 2022. What Is Croup? What Causes It?
Healthline. Diakses pada 2022. Croup