
DAFTAR ISI
- Apa Itu Hydrocloriquine
- Penyebab (Indikasi Penggunaan)
- Faktor Risiko
- Jenis
- Gejala (Efek Samping)
- Diagnosis (Pemeriksaan Sebelum Konsumsi)
- Pengobatan (Dosis)
- Komplikasi
- Pencegahan (Menghindari Toksisitas)
- Tips Tambahan
- Studi Terkait
- Kapan Harus ke Dokter?
- FAQ
Kesehatan tubuh, terutama sistem kekebalan, sangat penting untuk dijaga. Namun, ada kalanya sistem imun justru menyerang tubuh sendiri, atau tubuh terinfeksi oleh parasit berbahaya saat berada di daerah endemis. Dalam kondisi medis tertentu, dokter kerap meresepkan obat keras yang masuk dalam golongan antimalaria dan imunosupresan, salah satunya adalah hydrocloriquine.
Obat ini telah digunakan selama puluhan tahun di dunia medis. Meski awalnya diformulasikan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seiring berkembangnya penelitian, obat ini terbukti sangat efektif untuk mengendalikan gejala penyakit autoimun yang kronis. Kinerjanya berfokus pada memodulasi respons imun yang berlebihan dan mengurangi peradangan sistemik.
Karena tergolong obat resep, penggunaannya tidak boleh sembarangan. Dibutuhkan diagnosis medis yang akurat dan pengawasan dokter yang ketat. Penggunaan yang tidak sesuai indikasi atau dosis dapat memicu masalah kesehatan baru. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara menyeluruh mengenai obat ini, mulai dari manfaat, efek samping, hingga interaksinya.
Apa Itu Hydrocloriquine
Hydrocloriquine (sering ditulis secara medis sebagai hydroxychloroquine) adalah obat yang masuk dalam kelas antimalaria dan Disease-Modifying Antirheumatic Drugs (DMARDs). Obat ini bekerja dengan cara memengaruhi cara kerja sistem kekebalan tubuh (imunomodulator) serta mengubah keasaman di dalam sel, yang membuatnya efektif melawan parasit tertentu dan menekan peradangan pada jaringan tubuh.
Penyebab (Indikasi Penggunaan)
Karena ini adalah obat, bagian “penyebab” merujuk pada kondisi atau penyakit apa yang menyebabkan seseorang membutuhkan obat ini. Dokter umumnya meresepkan obat ini untuk mengatasi:
- Malaria: Pengobatan akut dan pencegahan malaria tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum, P. malariae, P. ovale, dan P. vivax.
- Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) & Diskoid: Mengurangi ruam kulit, nyeri sendi, dan kelelahan, serta mencegah kekambuhan (flare).
- Rheumatoid Arthritis (RA): Mengurangi peradangan pada sendi dan mencegah kerusakan sendi lebih lanjut pada penderita radang sendi autoimun.
Faktor Risiko
Tidak semua orang bisa menggunakan obat ini dengan aman. Terdapat beberapa faktor risiko medis (kontraindikasi) yang membuat seseorang harus berhati-hati atau menghindari penggunaannya:
- Memiliki riwayat gangguan penglihatan atau kerusakan retina mata (makulopati).
- Menderita penyakit jantung, terutama masalah irama jantung (perpanjangan interval QT).
- Memiliki riwayat penyakit hati atau ginjal akut.
- Penderita defisiensi enzim G6PD (berisiko mengalami anemia hemolitik).
- Memiliki riwayat psoriasis akut, karena obat ini dapat memperburuk lesi kulit.
Jenis
Di pasaran dan apotek, obat ini umumnya tersedia dalam bentuk tablet oral film-coated. Dosis sediaan yang paling umum dijumpai adalah tablet 200 mg (yang setara dengan 155 mg hydroxychloroquine base). Obat ini hanya boleh ditebus dengan resep dokter dan tidak tersedia dalam bentuk sediaan cair (sirup) secara komersial.
Gejala (Efek Samping)
Penggunaan obat ini dapat memunculkan “gejala” atau efek samping pada tubuh. Beberapa efek samping yang umum terjadi antara lain:
- Sakit kepala atau pusing.
- Mual, muntah, dan kram perut.
- Kehilangan nafsu makan atau penurunan berat badan.
- Ruam kulit ringan atau gatal-gatal.
- Perubahan warna pada kulit atau rambut (jarang terjadi namun mungkin pada penggunaan jangka panjang).
[Tips Mencegah Efek Samping Pencernaan]
- Konsumsi obat ini bersamaan dengan makanan atau segelas susu untuk mengurangi iritasi pada lambung.
- Hindari mengonsumsi antasida (obat maag) dalam waktu 4 jam sebelum atau sesudah minum obat ini, karena dapat menghambat penyerapan obat.
- Minum air putih yang cukup setiap hari agar metabolisme obat di ginjal berjalan lancar.
Diagnosis (Pemeriksaan Sebelum Konsumsi)
Sebelum meresepkan pengobatan, dokter akan melakukan serangkaian prosedur diagnosis untuk memastikan keamanan pasien:
- Pemeriksaan Mata: Evaluasi ketajaman visual, slit-lamp, dan funduskopi sangat wajib dilakukan sebelum memulai terapi dan secara rutin setiap tahun untuk mendeteksi toksisitas retina.
- Elektrokardiogram (EKG): Untuk memantau irama kelistrikan jantung.
- Tes Darah Lengkap: Untuk mengevaluasi fungsi hati, ginjal, dan kadar sel darah (terutama bagi suspek defisiensi G6PD).
Pengobatan (Dosis)
Dosis akan sangat disesuaikan dengan berat badan pasien dan jenis penyakit yang diobati (Malaria vs Autoimun). Untuk Rheumatoid Arthritis dan Lupus, pengobatan bersifat jangka panjang (berbulan-bulan hingga bertahun-tahun) dengan dosis pemeliharaan yang diawasi. Sedangkan untuk Malaria, penggunaannya biasanya hanya dalam jangka waktu pendek atau selama berada di area endemis.
Komplikasi
Jika digunakan melebihi dosis anjuran (overdosis) atau tanpa pemantauan, komplikasi serius dapat terjadi. Komplikasi paling fatal meliputi toksisitas retina ireversibel yang bisa menyebabkan kebutaan, kardiomiopati (kerusakan otot jantung), serta aritmia ventrikel yang dapat mengancam nyawa. Overdosis pada anak-anak sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal.
Pencegahan (Menghindari Toksisitas)
Pencegahan efek buruk dari obat ini dilakukan dengan kedisiplinan tingkat tinggi. Patuhi jadwal pemeriksaan mata tahunan. Gunakan kacamata hitam pelindung UV jika keluar rumah, karena obat ini dapat meningkatkan sensitivitas mata dan kulit terhadap sinar matahari. Jangan pernah menggandakan dosis jika terlewat satu jadwal minum obat.
Tips Tambahan Perawatan Mandiri
Bagi pasien autoimun yang menggunakan obat ini, maksimalkan efektivitas pengobatan dengan gaya hidup sehat. Hindari stres berlebihan yang dapat memicu flare lupus atau RA. Konsumsi diet anti-inflamasi seperti ikan berlemak, sayuran hijau, dan minyak zaitun. Pastikan juga untuk selalu mengaplikasikan tabir surya (sunscreen) SPF tinggi saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi kulit yang mungkin menjadi lebih sensitif.
Studi Terkait
Berdasarkan laporan dari Journal of Rheumatology and Immunology yang dipublikasikan pada awal tahun 2026, peneliti mengevaluasi pemantauan jangka panjang penggunaan antimalaria pada pasien SLE. Studi tersebut menyimpulkan bahwa pemantauan Optical Coherence Tomography (OCT) tahunan berhasil menurunkan insiden kebutaan permanen akibat toksisitas retina hingga 85% pada pasien yang telah mengonsumsi obat ini selama lebih dari 5 tahun. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara dokter rheumatologi dan dokter mata selama masa pengobatan.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika gejalamu tidak membaik setelah rutin minum obat, atau muncul efek samping serius seperti penglihatan kabur secara tiba-tiba, dada berdebar kencang (palpitasi), pingsan, atau kelemahan otot yang parah, segera hentikan penggunaan dan konsultasi dengan Dokter Penyakit Dalam di Halodoc.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
- ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
- ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
- ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.
- ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
- ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
- ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
- ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada.
- ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:
- ✅ Dokter tersedia 24 jam.
- ✅ Dokter memiliki lisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP).
- ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah.
- ✅ Bisa dicover asuransi.
- ✅ Privasi terjaga: Data kesehatan terlindungi dengan aman.
- ✅ Bisa dapat resep resmi. Kamu bisa dapat resep obat online dan menebusnya setelah chat.
- ✅ Bisa juga beli obat langsung lewat WhatsApp Halodoc, tanpa download aplikasi, tanpa log in, dan produk yang diterima dijamin asli 100%.
Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!
Referensi
- World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Guidelines for the treatment of malaria.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Hydroxychloroquine (Oral Route) Description and Brand Names.
- Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Penatalaksanaan Penyakit Autoimun dan Penggunaan Imunosupresan.
- Journal of Rheumatology and Immunology. Diakses pada 2026. Long-term retinal safety in DMARDs therapy: A 2026 Review.
FAQ
1. Apakah obat ini aman untuk ibu hamil?
Penggunaannya pada ibu hamil harus dipertimbangkan matang-matang oleh dokter. Pada kasus malaria atau lupus yang parah, dokter mungkin meresepkannya jika manfaatnya jauh lebih besar daripada risiko pada janin, namun penggunaannya wajib diawasi secara medis.
2. Berapa lama sampai efek obat ini terasa pada penderita Lupus atau RA?
Obat ini tidak memberikan efek instan. Dibutuhkan waktu sekitar 1 hingga 6 bulan penggunaan secara rutin sebelum pasien merasakan perbaikan gejala radang sendi atau ruam yang signifikan.
3. Apakah obat ini efektif mengobati infeksi virus seperti COVID-19?
Berdasarkan berbagai uji klinis global hingga saat ini, obat ini tidak terbukti efektif dalam mencegah maupun mengobati infeksi COVID-19. Penggunaannya di luar indikasi (off-label) tanpa anjuran dokter sangat berbahaya.
4. Mengapa mata saya harus diperiksa saat minum obat ini?
Obat ini dapat menumpuk di retina mata (makula) dalam jangka waktu lama, yang berisiko menyebabkan kerusakan penglihatan permanen yang disebut retinopati toksik. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi kerusakan ini sedini mungkin.



