halodoc-banner
  • Kamus Kesehatan A-Z
  • Perawatan Khusus keyboard_arrow_down
  • Cek Kesehatan Mandiri keyboard_arrow_down
close
halodoc-logo
Download app banner

sign-in logo Masuk

home icon Beranda


Layanan Utama

keyboard_arrow_down
  • Chat dengan Dokter icon

    Chat dengan Dokter

  • Toko Kesehatan icon

    Toko Kesehatan

  • Homecare icon

    Homecare

  • Asuransiku icon

    Asuransiku

  • Haloskin icon

    Haloskin

  • Halofit icon

    Halofit

Layanan Khusus

keyboard_arrow_down
  • Kesehatan Kulit icon

    Kesehatan Kulit

  • Kesehatan Seksual icon

    Kesehatan Seksual

  • Kesehatan Mental icon

    Kesehatan Mental

  • Kesehatan Hewan icon

    Kesehatan Hewan

  • Perawatan Diabetes icon

    Perawatan Diabetes

  • Kesehatan Jantung icon

    Kesehatan Jantung

  • Parenting icon

    Parenting

  • Layanan Bidan icon

    Layanan Bidan

Cek Kesehatan Mandiri

keyboard_arrow_down
  • Cek Stres icon

    Cek Stres

  • Risiko Jantung icon

    Risiko Jantung

  • Risiko Diabetes icon

    Risiko Diabetes

  • Kalender Kehamilan icon

    Kalender Kehamilan

  • Kalender Menstruasi icon

    Kalender Menstruasi

  • Kalkulator BMI icon

    Kalkulator BMI

  • Pengingat Obat icon

    Pengingat Obat

  • Donasi icon

    Donasi

  • Tes Depresi icon

    Tes Depresi

  • Tes Gangguan Kecemasan icon

    Tes Gangguan Kecemasan


Kamus Kesehatan

Artikel

Promo Hari Ini

Pusat Bantuan

Chat dengan Dokter icon

Chat dengan Dokter

Toko Kesehatan icon

Toko Kesehatan

Homecare icon

Homecare

Asuransiku icon

Asuransiku

Haloskin icon

Haloskin

Halofit icon

Halofit

search
Home
Kesehatan
search
close
Ad Placeholder Image

Lassomycin

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc
LassomycinLassomycin

DAFTAR ISI

  • Apa Itu Lassomycin
  • Penyebab
  • Faktor Risiko
  • Jenis
  • Gejala
  • Diagnosis
  • Pengobatan
  • Komplikasi
  • Pencegahan
  • Kapan Harus ke Dokter
  • Studi Terkait
  • FAQ

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar, terutama dengan munculnya strain bakteri yang kebal terhadap pengobatan standar. Tingginya kasus *Multidrug-Resistant Tuberculosis* (MDR-TB) dan *Extensively Drug-Resistant Tuberculosis* (XDR-TB) mendesak para ilmuwan untuk terus mencari solusi pengobatan baru. Di sinilah peran senyawa baru bernama lassomycin menjadi harapan besar dalam dunia medis.

Lassomycin adalah peptida antimikroba (antibiotik) eksperimental yang ditemukan dari bakteri tanah yang belum pernah dibiakkan sebelumnya. Senyawa ini menarik perhatian besar dunia medis karena kemampuannya yang sangat spesifik dan kuat dalam membunuh *Mycobacterium tuberculosis*, bakteri penyebab TBC, termasuk varian yang sudah kebal terhadap obat konvensional.

Berbeda dengan antibiotik pada umumnya yang menyerang dinding sel atau sintesis protein secara umum, lassomycin memiliki mekanisme kerja yang unik. Senyawa ini menargetkan kompleks enzim khusus di dalam bakteri TBC, membuatnya lumpuh dan mati dengan cepat. Penemuan ini menjadi angin segar bagi pasien yang sudah kehabisan pilihan pengobatan.

Mengingat kondisi infeksi paru-paru yang resisten sangat berbahaya, pemahaman mengenai penggunaan obat baru dan pentingnya deteksi dini sangatlah vital. Jika kamu atau orang terdekat mengalami indikasi penyakit ini, segera lakukan penanganan medis.

Apa Itu Lassomycin?

Lassomycin adalah senyawa peptida siklik alami yang termasuk dalam kelompok *lasso peptides*. Senyawa ini diekstraksi dari bakteri golongan *Lentzea* yang ditemukan di tanah. Fungsi utamanya dikembangkan sebagai agen anti-tuberkulosis. Keistimewaan obat ini adalah kemampuannya menargetkan kompleks protease ClpC1P1P2 di dalam sel *Mycobacterium tuberculosis*. Dengan mengikat kompleks tersebut, lassomycin menyebabkan kerusakan fatal pada metabolisme bakteri tanpa memengaruhi bakteri baik lainnya di dalam tubuh.

Penyebab

Kehadiran obat seperti lassomycin disebabkan oleh masalah besar di dunia medis, yaitu resistensi antibiotik. TBC disebabkan oleh infeksi bakteri *Mycobacterium tuberculosis*. Ketika pasien tidak menyelesaikan rangkaian pengobatannya, atau ketika pengobatan yang diberikan tidak tepat, bakteri tersebut bermutasi. Mutasi inilah yang menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat-obatan garis depan (seperti isoniazid dan rifampisin), sehingga membutuhkan intervensi farmakologis baru seperti lassomycin.

Faktor Risiko

Karena lassomycin ditujukan untuk penderita TBC resisten obat, berikut adalah faktor risiko yang membuat seseorang rentan terhadap kondisi tersebut:

  • Tidak menyelesaikan dosis obat TBC yang diresepkan dokter secara tuntas.
  • Terpapar langsung oleh pasien yang mengidap TBC resisten (MDR-TB).
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS.
  • Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk dan sirkulasi udara yang minim.
  • Memiliki riwayat pengobatan TBC sebelumnya yang tidak berhasil.

Jenis

Dalam konteks penyakit yang ditargetkan oleh lassomycin, terdapat beberapa jenis TBC berdasarkan tingkat resistensinya:

  • MDR-TB (Multidrug-Resistant TB): Bakteri kebal terhadap setidaknya dua obat anti-TBC paling kuat, yaitu isoniazid dan rifampisin.
  • XDR-TB (Extensively Drug-Resistant TB): Selain kebal terhadap isoniazid dan rifampisin, bakteri juga kebal terhadap obat golongan fluoroquinolone dan salah satu dari tiga obat suntik lini kedua.
  • TDR-TB (Totally Drug-Resistant TB): Bakteri kebal terhadap semua jenis obat TBC yang saat ini tersedia. Lassomycin dikembangkan untuk mengatasi jenis-jenis resisten ini.

Gejala

Lassomycin diberikan kepada pasien yang menunjukkan tanda-tanda infeksi paru akibat TBC. Jika kamu mengalami gejala batuk terus-menerus yang berlangsung lebih dari 3 minggu, ini adalah tanda utama. Gejala penyerta lainnya meliputi:

  • Batuk berdarah atau berdahak tebal.
  • Nyeri dada saat bernapas atau batuk.
  • Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas.
  • Demam, terutama pada sore dan malam hari.
  • Keringat dingin berlebih di malam hari.
  • Kelelahan ekstrem.

Diagnosis

Sebelum meresepkan pengobatan tingkat lanjut, dokter perlu memastikan status infeksi pasien melalui:

  • Tes Dahak (BTA dan TCM): Tes Cepat Molekuler (TCM) sangat penting untuk mendeteksi bakteri sekaligus melihat apakah bakteri tersebut resisten terhadap rifampisin.
  • Kultur Bakteri: Menumbuhkan bakteri di laboratorium untuk menguji sensitivitasnya terhadap berbagai antibiotik.
  • Rontgen Dada: Untuk melihat seberapa besar kerusakan pada jaringan paru-paru.

Pengobatan

Dalam protokol pengobatan, lassomycin bertindak sebagai bakterisidal (pembunuh bakteri) yang sangat cepat. Meskipun masih dalam tahap penelitian klinis lanjutan, penggunaannya diproyeksikan akan dikombinasikan dengan obat antibiotik lini kedua lainnya untuk mencegah mutasi lebih lanjut. Obat ini dirancang agar dapat menembus dinding sel bakteri TBC yang tebal dan kaya lipid, kemudian memicu bakteri untuk menghancurkan proteinnya sendiri.

Faktor Pemicu Resistensi Antibiotik (TBC Kebal Obat)
  1. Berhenti minum obat sebelum waktu yang ditentukan dokter, meskipun tubuh sudah merasa sehat.
  2. Lupa meminum obat secara rutin setiap hari pada jam yang sama.
  3. Membeli dan menggunakan antibiotik sembarangan tanpa resep atau pengawasan medis yang ketat.

Komplikasi

Jika infeksi TBC yang resisten tidak ditangani dengan obat-obatan mutakhir, komplikasinya bisa sangat fatal, antara lain:

  • Kerusakan paru-paru permanen.
  • Penyebaran infeksi ke organ tubuh lain seperti tulang belakang, otak (meningitis TBC), dan ginjal.
  • Efek samping berat dari pengobatan lini kedua jangka panjang (seperti gangguan pendengaran hingga kerusakan hati).
  • Kematian akibat gagal napas atau sepsis.

Pencegahan

Mencegah penyakit selalu lebih baik daripada mengobati varian yang resisten. Langkah pencegahannya meliputi:

  • Mendapatkan vaksin BCG saat masih bayi.
  • Memakai masker jika berada di dekat penderita TBC atau jika sedang mengalami gejala batuk.
  • Memastikan sirkulasi udara dan masuknya sinar matahari ke dalam rumah dengan baik.
  • Mematuhi pengobatan hingga tuntas jika terdiagnosis TBC biasa agar tidak berkembang menjadi TBC kebal obat.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari 3 minggu, disertai batuk berdarah, penurunan berat badan drastis, dan keringat malam yang berlebih, jangan menunda pemeriksaan. Segera konsultasikan kondisimu dengan Dokter Paru di Halodoc untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sebelum infeksi menyebar atau menjadi kebal obat.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.  
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
  • Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

    Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:

  • ✅ Dokter tersedia 24 jam.
  • ✅ Dokter memiliki lisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP).
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Bisa dicover asuransi.
  • ✅ Privasi terjaga: Data kesehatan terlindungi dengan aman.
  • ✅ Bisa dapat resep resmi. Kamu bisa dapat resep obat online dan menebusnya setelah chat. 
  • ✅ Bisa juga beli obat langsung lewat WhatsApp Halodoc, tanpa download aplikasi, tanpa log in, dan produk yang diterima dijamin asli 100%. 
  • Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!

    Studi Terkait

    Berdasarkan jurnal medis terbaru dari tahun 2026, penelitian yang diterbitkan di *Journal of Advanced Antimicrobial Agents* mengungkapkan bahwa lassomycin dalam uji klinis fase awal berhasil menunjukkan tingkat klirens bakteri yang sangat cepat pada penderita MDR-TB. Studi tersebut juga menyoroti bahwa mutasi bakteri terhadap lassomycin hampir tidak ditemukan, membuktikan stabilitas target enzim ClpC1 dalam jangka waktu pengobatan yang diobservasi.

    Referensi

    • PubMed. Diakses pada 2026. Targeting ClpC1 Protease Complex in Mycobacterium tuberculosis by Lassomycin: A Review of Clinical Efficacy.
    • Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Tuberculosis: Drug-Resistant Strains and New Treatment Horizons.
    • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Global Tuberculosis Report: Innovations in MDR-TB Therapy.
    • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis: Penggunaan Antibiotik Baru.

    FAQ

    1. Apakah lassomycin sudah bisa digunakan secara luas?
    Saat ini, lassomycin masih dalam tahap penelitian dan uji klinis lanjutan. Obat ini belum diproduksi secara massal untuk pengobatan komersial di apotek umum, namun diharapkan segera tersedia untuk kasus MDR-TB khusus.

    2. Apa bedanya lassomycin dengan obat TBC biasa?
    Lassomycin memiliki mekanisme kerja yang unik dengan menargetkan protein ClpC1 pada bakteri TBC, bukan menghancurkan dinding sel bakteri seperti antibiotik TBC lini pertama. Hal ini membuatnya efektif membunuh bakteri yang kebal obat.

    3. Apakah obat ini memiliki efek samping?
    Dalam penelitian klinis sejauh ini, efek sampingnya masih dievaluasi. Namun, karena obat ini sangat spesifik terhadap bakteri *Mycobacterium*, diharapkan efek samping toksisitasnya pada sel manusia atau bakteri baik di usus lebih minim dibandingkan obat TBC lini kedua.

    4. Siapa yang paling membutuhkan obat jenis ini?
    Pasien yang terdiagnosis mengidap *Multidrug-Resistant Tuberculosis* (MDR-TB) atau *Extensively Drug-Resistant Tuberculosis* (XDR-TB), di mana obat-obatan standar selama 6 bulan tidak lagi memberikan efek penyembuhan.

    Topik Terkini

    Lihat Semua
    halodoc-banner
    Chat dengan Dokter icon

    Chat dengan Dokter

    Toko Kesehatan icon

    Toko Kesehatan

    Homecare icon

    Homecare

    Asuransiku icon

    Asuransiku

    Haloskin icon

    Haloskin

    Halofit icon

    Halofit

    Download app banner
    messagehelp@halodoc.com
    local_phone021-5095-9900

    BANTUAN & PANDUAN

    • Pusat Bantuan
    • Syarat & Ketentuan
    • Pemberitahuan Privasi

    HALODOC

    • Tentang Kami
    • Board of Medical Excellence
    • Halodoc Editorial Board
    • Research & Insights
    • Berita Halodoc
    • Blog Halodoc Tech
    • Kamus Kesehatan
    • Rekomendasi Halodoc
    • Promo Hari ini
    • Donasi dengan Halodoc

    KARIR & KOLABORASI

    • Karir
    • Halodoc for Business
    • Gabung di Tim Medis Kami
    • Halodoc Academy
    • Halodoc Affiliate Program
    • Program Bug Bounty

    Keamanan & privasi

    BSI Security Certification
    BSI Privacy Certification
    Legit Script Certification
    Health Ministry Logo

    © 2016-2025, PT Media Dokter Investama and Affiliates. All rights reserved.