Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah suatu keadaan gangguan pernapasan yang terjadi saat tidur. OSA ditandai dengan adanya obstruksi jalan napas yang menyebabkan napas berhenti sesaat, baik secara total maupun parsial. Akibatnya, pengidap akan kekurangan oksigen dan berkali-kali terjaga, bahkan terbangun karena merasa tercekik.

 

Gejala Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Beberapa gejala OSA antara lain :

  • Mulut terasa kering saat terbangun.

  • Konsentrasi terganggu.

  • Depresi.

  • Hipertensi.

  • Daya ingat menurun.

  • Mengantuk.

  • Kepribadian berubah.

  • Sakit kepala di siang hari.

 

Faktor Risiko Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya OSA, yaitu :

    • Distribusi lemak di perut

    • Jenis kelamin, OSA paling sering dialami oleh laki-laki.

    • Umur, seiring bertambahnya usia, semakin besar juga risiko mengalami OSA.

    • Post menopause.

    • Pecandu alkohol.

    • Pengguna obat-obat penenang.

    • Tidur telentang.

    • Perokok.

 

 

Diagnosis Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Untuk mendiagnosa pengidap dengan OSA, dokter akan menanyakan keluhan-keluhan yang pengidap sering rasakan saat tidur, pola tidurnya dan beberapa gejala seperti di atas. Dokter juga akan menanyakan kepada pasangannya tentang dengkuran yang sering dialami pengidap. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang berkaitan dengan faktor risiko OSA.

Cara mendiagnosis OSA adalah dengan melakukan Polisomnografi (PSG). PSG merupakan uji diagnostik untuk memeriksa gangguan tidur yang dilakukan pada malam hari di laboratorium tidur yang dirancang sedemikian rupa. Pemeriksaan PSG meliputi beberapa komponen yang nantinya bertujuan menghitung berapa jumlah total apnea ditambah hypopnea setiap jam selama tidur.

 

Penyebab Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive sleep apnea terjadi saat otot di belakang tenggorokan rileks dan memblokir saluran napas. Saat terjadi pemblokiran udara sebagian atau sepenuhnya, otomatis kadar oksigen dalam darah akan menurun dikarenakan napas berhenti selama kira-kira 10-20 detik. Kurangnya oksigen menyebabkan otak kamu menjadi panik dan membangunkan tubuh untuk bernapas kembali.

 

Pengobatan Obstructive Sleep Apnea (OSA) dan Efek Sampingnya

Pengobatan OSA terdiri dari terapi non bedah dan bedah. Namun, yang juga perlu kamu perhatikan adalah penanganan terkait faktor risiko termasuk gaya hidup, antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal.

  • Mengurangi konsumsi alkohol.

  • Tidur dengan posisi miring.

  • Menghindari konsumsi obat penenang, nikotin dan kafein pada malam hari. Perbaiki juga kekuatan otot pernapasan bagian atas dan mekanisme pernapasan sentral.

Penggunaan continuous positive pressure (CPAP) adalah terapi non bedah yang paling efektif untuk menurunkan gejala mendengkur. Namun CPAP memiliki kelemahan yaitu terasa tidak nyaman saat dipakai karena hembusan udara bertekanan maupun akibat masker yang digunakan. Selain itu, terdapat juga efek samping berupa claustrophobia, sakit kepala, rhinitis, iritasi wajah dan hidung serta aerofagia.

Selain CPAP, ada juga Bi-level PAPA yang membantu mengalirkan tekanan saat kamu menarik napas dan tekanan saat menghembuskan napas. Bedanya adalah pengidap bernafas dengan spontan. Keuntungan terapi ini adalah dapat mengurangi kerja pernapasan. Namun sayangnya, terapi ini tidak dianjurkan sebagai terapi awal OSA. Pilihan terapi bedah dapat dipertimbangkan untuk penanganan OSA.

 

Pencegahan Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Yang terpenting dalam pencegahan OSA adalah memperbaiki gaya hidup seperti :

  • Kurangilah berat badan jika kamu kelebihan berat badan.

  • Berolahragalah dengan teratur.

  • Konsumsi alkohol secukupnya atau tidak sama sekali, dan jangan minum beberapa jam sebelum tidur.

  • Berhentilah merokok.

  • Jangan tidur telentang. Sebaiknya kamu tidur dalam posisi miring (menghadap ke kanan atau ke kiri)

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami gangguan pernapasan saat tidur, serta terbangun dengan mulut kering dan mengalami depresi, mungkin kamu mengidap Obstructive Sleep Apnea (OSA). Jika kamu mengalaminya, segera periksakan diri kamu. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kamu dapat melakukan janji temu dengan dokter di rumah sakit yang terbaik menurut kamu di sini.