Sindrom HELLP

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Sindrom HELLP

Sindrom HELLP merupakan gabungan dari beberapa kondisi yang merupakan komplikasi kehamilan yang dapat mengancam nyawa. HELLP merupakan singkatan dari beberapa kondisi, yaitu: 

H : Hemolisis atau pecahnya sel darah merah 

EL : Elevated Liver enzyme atau enzim-enzim hati meningkat

LP : Low Platelet count atau keping darah (trombosit) rendah

Sindrom ini biasanya terjadi pada trimester ke-3 kehamilan atau pada usia kehamilan 26–40 minggu. Namun, sindrom ini dapat terjadi pada usia kehamilan lebih muda atau bahkan setelah melahirkan.

 

Gejala Sindrom HELLP

Gejala dari sindrom HELLP pada awalnya menyerupai gejala preeklampsia dan eklampsia. 

Gejala yang dapat ditimbulkan apabila seorang ibu hamil berkembang menjadi sindrom HELLP dapat ditemui gejala berupa 

  • sakit kepala
  • mual, muntah, nyeri ulu hati setelah makan
  • Perasaan tidak nyaman dan nyeri tekan pada bagian perut kanan atas karena pembesaran hati
  • Nyeri pada punggung saat menarik nafas dalam
  • Gangguan penglihatan
  • Perdarahan
  • Pembengkakan tubuh, seperti pada wajah dan kaki
  • Sesak nafas
  • Kejang, pada kasus yang berat

 

Penyebab Sindrom HELLP

Penyebab pasti dari Sindrom HELLP belum diketahui. Beberapa teori meyakini Sindrom HELLP yang ditandai dengan anemia hemolitik (perusakan sel darah merah yang menyebabkan anemia), trombositopenia (rendahnya jumlah trombosit dalam darah), dan gangguan fungsi hati merupakan hasil dari cedera endotel (sel-sel dinding pembuluh darah) plasenta yang menyebabkan kurangnya suplai oksigen dalam plasenta (Hypoxic Placenta). Maka dari itu, munculnya sindrom HELLP ini sering dikaitkan dengan preeklampsia atau eklampsia. 

Teori lainnya menyebutkan penolakan dari sistem kekebalan tubuh ibu terhadap sel-sel dari janin yang dianggap “benda asing” sehingga menyebabkan kerusakan dari endotel yang menyebabkan gangguan plasenta, seperti pada penyakit Sindrom Antiphospholipid, suatu penyakit autoimun, pada ibu yang sedang mengandung.

 

Faktor Risiko Sindrom HELLP

Beberapa risiko yang dapat meningkatkan seorang ibu hamil mengidap sindrom HELLP yaitu

  • Riwayat sindrom HELLP pada kehamilan sebelumnya
  • Riwayat preeklampsia, eklampsia, atau hipertensi yang diinduksi kehamilan
  • Kehamilan pada usia ibu lebih dari 25
  • Multiparitas atau melahirkan lebih dari 2 kali
  • Ras kaukasian (kulit putih)

 

Diagnosis Sindrom HELLP

Untuk mendiagnosis sindrom HELLP dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami, mencari ada atau tidaknya faktor risiko, menanyakan umur kehamilan saat munculnya gejala, karena sindrom HELLP biasanya terjadi pada trimester ketiga kehamilan meskipun dapat terjadi pada usia kehamilan sebelum itu atau 2 hari setelah melahirkan. Kemudian, melakukan pemeriksaan fisik.

Pada pemeriksaan fisik, seorang ibu hamil dicurigai sindrom HELLP, ditemui tekanan darah yang tinggi, pembengkakan pada bagian tubuh, seperti wajah dan kaki, dan nyeri tekan perut kanan atas karena pembesaran organ hati.

Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan untuk membantu dokter menegakkan diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan meliputi 

  • Pemeriksaan Laboratorium darah, untuk mengetahui jumlah trombosit, ada tidaknya anemia, pemeriksaan enzim-enzim hati untuk mengetahui fungsi hati, dan pemeriksaan lain untuk mendeteksi adanya komplikasi dari sindrom HELLP seperti pemeriksaan fungsi ginjal meliputi BUN(Blood Urea Nitrogen) atau kreatinin dan pemeriksaan koagulasi untuk mendeteksi ada atau tidaknya gangguan pembekuan darah. 
  • Pemeriksaan Urine, mendeteksi adanya protein dalam urine
  • Pemeriksaan Pencitraan, seperti MRI pada kasus-kasus yang dicurigai adanya perdarahan dalam organ hati, tapi jarang. 

 

Pengobatan Sindrom HELLP

Pada dasarnya penanganan definitif dari sindrom HELLP adalah segera melahirkan bayi. Namun, tergantung dari usia kehamilannya. Persalinan segera merupakan pilihan utama pada usia kehamilan 34 minggu atau lebih. Sedangkan pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu, persalinan biasanya dilakukan dalam waktu 48 jam setelah melakukan evaluasi dan stabilisasi kondisi ibu dan bayi, termasuk suntikan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru pada janin. 

Pilihan proses persalinan tergantung pada kondisi ibu dan janin. Jika kondisi ibu dan janin stabil, terutama usia kehamilan telah mencapai 34 minggu atau lebih, maka proses persalinan yang disarankan adalah persalinan normal. Namun, jika kondisi ibu dan janin tidak stabil atau mengancam nyawa dapat disarankan untuk melakukan operasi caesar darurat. 

Beberapa pengobatan lain yang diberikan pada ibu hamil dengan sindrom HELLP untuk stabilisasi ibu dan janin sebelum proses melahirkan 

  • Istirahat total di rumah sakit dan dievaluasi ketat oleh tim dokter
  • Pemantauan kondisi janin, seperti USG Doppler, evaluasi pergerakan janin, cardiotocography (CTG) atau pemeriksaan untuk mengukur detak jantung bayi pada saat yang sama juga memonitor kontraksi rahim (uterus).
  • Pemberian antikejang untuk mencegah kejang dengan suntikan magnesium sulfat
  • Mengontrol hipertensi dengan obat-obatan darah tinggi yang aman untuk ibu hamil
  • Penyiapan transfusi darah dan transfusi darah jika trombosit sangat rendah atau anemia yang dapat meningkatkan komplikasi perdarahan dalam proses persalinan atau setelahnya.
  • Memberikan suntikan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru, terutama pada usia kehamilan kurang dari 34 minggu.

Sebagian besar kasus, ibu dengan sindrom HELLP akan pulih dalam beberapa hari setelah melahirkan. Pada beberapa kasus proses pemulihan lebih lama dan terkadang memerlukan perawatan khusus, terutama jika telah terjadi komplikasi dari sindrom HELLP.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sindrom HELLP yaitu:

  • Disseminated Intravascular Coagulation (DIC), terjadinya penggumpalan darah didalam pembuluh darah seluruh tubuh, tapi pada saat yang bersamaan terjadi perdarahan
  • Abruptio plasenta, plasenta terlepas sebagian atau seluruhnya sebelum waktu persalinan.
  • Gagal ginjal akut
  • Edema pulmo, penumpumpukan cairan pada paru-paru yang dapat menyebabkan gagal nafas pada ibu
  • Perdarahan hebat yang sulit berhenti atau perdarahan pada organ-organ vital, seperti perdarahan otak dan perdarahan pada hati
  • Intrauterine Growth Retardation (IUGR), yaitu perkembangan janin dalam rahim terhenti
  • Kematian janin dalam rahim

 

Pencegahan Sindrom HELLP

Belum ada upaya pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah seseorang ibu hamil tidak terkena sindrom ini dikarenakan penyebab pastinya belum diketahui. Beberapa cara dapat dilakukan oleh ibu hamil untuk menurunkan risiko gangguan kehamilan termasuk sindrom ini seperti

  • Melakukan pemeriksaan kehamilan rutin agar gangguan kehamilan yang berhubungan dengan penyakit ini seperti preeklamsia, eklamsia, atau hipertensi dalam kehamilan dapat diketahui dini dan mendapatkan penanganan dini
  • Mengkonsumsi makanan sehat selama kehamilan

 

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya periksakan kehamilan rutin untuk mendeteksi secara awal ada atau tidaknya gangguan pada kehamilan. Segeralah periksakan ke dokter apabila memiliki gejala preeklampsia, eklampsia atau gejala-gejala dari sindrom HELLP ini agar dapat segera ditangani dan komplikasi dapat dicegah. Untuk melakukan pemeriksaan, ibu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit yang diinginkan di sini.