Supraventrikular Takikardia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Supraventrikular Takikardia

Supraventrikular takikardia (SVT) merupakan suatu gangguan irama jantung, yang ditandai dengan frekuensi detak jantung yang meningkat menjadi 140 hingga 250 kali per menit. Pada kondisi normal, jantung berdetak sekitar 60 hingga 100 kali per menit. Namun pada pengidap SVT, terjadi gangguan hantaran impuls listrik pada nodus AV, yang terletak di serambi atau atrium jantung. Akibatnya, frekuensi detak jantung meningkat tajam, sehingga otot jantung tidak memiliki kesempatan untuk berelaksasi. Pada akhirnya, kondisi ini menyebabkan kebutuhan pasokan darah dan oksigen yang dibutuhkan tubuh menjadi tidak terpenuhi, sehingga menimbulkan gejala yang jika tidak segera ditangani dapat mengancam nyawa pengidapnya.

 

Faktor Risiko Supraventrikular Takikardia

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya supraventrikular takikardia, antara lain:

  • Bayi, anak-anak, serta wanita hamil.
  • Konsumsi kafein atau alkohol yang berlebihan.
  • Pasca operasi jantung. 
  • Pengguna NAPZA atau perokok.
  • Pengguna obat-obatan tertentu, seperti digoxin (obat jantung), teofilin (obat asma), serta ephedrine, pseudoephedrine, atau phenylephrine (obat flu).
  • Pengidap penyakit gangguan hormon tiroid, diabetes, penyakit paru obstruktif kronis, pneumonia, sindrom metabolik, atau sleep apnea.
  • Pengidap penyakit jantung, seperti penyakit jantung koroner, gagal jantung, kardiomiopati, penyakit katup jantung, atau penyakit jantung bawaan.
  • Pengidap sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW).
  • Stres emosional dan stres fisik.

 

Penyebab Supraventrikular Takikardia

Supraventrikular takikardia (SVT) terjadi akibat gangguan hantaran impuls listrik jantung yang mengatur irama jantung. Irama jantung diatur oleh pacu jantung alami yang disebut dengan nodus sinoatrial (nodus SA), yang terletak di atrium jantung kanan. Nodus SA memproduksi impuls listrik yang mengawali setiap detak jantung. Dari nodus SA, impuls listrik melewati atrium dan menyebabkan otot atrium berkontraksi, sehingga dapat memompa darah ke ventrikel jantung. Selanjutnya, impuls listrik tersebut sampai pada kelompok sel bernama nodus atrioventrikular (nodus AV), yang merupakan jalur tunggal impuls listrik dari atrium menuju ke ventrikel. Nodus AV akan memperlambat impuls listrik ke ventrikel, agar ventrikel dapat terisi penuh dengan darah sebelum akhirnya berkontraksi dan memompa darah ke paru-paru dan seluruh tubuh. Jika terjadi gangguan pada nodus AV, frekuensi detak jantung akan meningkat tajam, sehingga jantung tidak memiliki kesempatan untuk terisi darah sebelum berkontraksi kembali. Akibatnya, pasokan darah dan oksigen yang dibutuhkan oleh organ-organ tubuh, terutama otak, menjadi tidak terpenuhi.

 

Gejala Supraventrikular Takikardia

Gejala supraventrikular takikardia umumnya timbul dan menghilang dengan tiba-tiba. Kondisi ini juga dapat terjadi beberapa kali setiap hari, namun dapat juga timbul sangat jarang, misalnya satu kali dalam setahun. Gejala dapat berlangsung selama beberapa menit, namun dapat juga menetap hingga beberapa jam. Pada sebagian besar kasus SVT, pengidapnya berada dalam rentang usia 25 hingga 40 tahun. Supraventrikular takikardia ditandai dengan frekuensi detak jantung yang lebih cepat daripada normal, yaitu sekitar 140 hingga 250 kali per menit (detak jantung normal 60 hingga 100 kali per menit). Gejala yang dapat dialami pengidapnya, antara lain:\

  • Jantung berdebar.
  • Sesak napas.
  • Pingsan.
  • Nyeri dada.
  • Nadi di leher berdenyut kencang.
  • Merasa kelelahan.
  • Kepala pusing, pening, atau merasa melayang.
  • Berkeringat.

Pada pengidap SVT yang sudah memiliki gangguan jantung sebelumnya, gejala dirasakan lebih parah dibandingkan dengan pengidap yang tidak memiliki riwayat gangguan jantung.

 

Diagnosis Supraventrikular Takikardia

Dokter akan mendiagnosis SVT dan penyebab yang mendasarinya dengan diawali suatu wawancara medis lengkap terkait perjalanan gejala, faktor risiko, serta riwayat medis pengidap sebelumnya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh serta pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis dan mencari tahu penyebab terjadinya SVT. Beberapa pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan, antara lain:

  • Elektrokardiografi, untuk menilai aktivitas listrik jantung serta jenis gangguan irama jantung yang dialami pengidap.
  • Echocardiografi, untuk memperlihatkan gambaran struktur jantung serta gangguan fungsi jantung saat memompa darah.
  • Holter monitoring, untuk merekam aktivitas listrik jantung pada saat beraktivitas. Alat ini wajib dipakai dalam satu hari penuh.
  • Implantable loop recorder, untuk mendeteksi gangguan irama jantung. Alat ini akan dipasang di bawah kulit pada bagian dada.
  • Pemeriksaan darah, untuk mengetahui kemungkinan gangguan hormon tiroid atau kerusakan otot jantung.
  • Pemeriksaan urine, untuk mengidentifikasi obat-obatan yang dikonsumsi, yang menjadi pemicu SVT.

 

Komplikasi Supraventrikular Takikardia

Komplikasi yang diakibatkan oleh supraventrikular takikardia yang tidak tertangani dengan baik dapat berupa penurunan kesadaran hingga gagal jantung.

 

Pengobatan Supraventrikular Takikardia

Pengobatan SVT bertujuan untuk menurunkan frekuensi detak jantung dan memperbaiki sirkuit listrik jantung yang abnormal. Beberapa langkah awal yang dapat dilakukan pengidap untuk mengatasi serangan SVT, antara lain:

  • Teknik air dingin, dengan menaruh wajah ke dalam semangkok air dingin dan es, dan menahan napas selama beberapa detik.
  • Manuver valsalva, dengan menahan napas, menutup mulut dan hidung dengan rapat, serta melakukan gerapan meniup sekuat-kuatnya. 

Namun demikian, jika SVT menetap atau berulang, segera datangi instalasi gawat darurat rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Dokter akan melakukan beberapa prosedur, seperti:

  • Pemberian obat-obatan pengatur irama jantung, untuk mengendalikan SVT sehingga detak jantung kembali normal.
  • Kardioversi tersinkronisasi, untuk memberikan efek kejut listrik pada jantung, yang akan mempengaruhi impuls listrik jantung, sehingga detak jantung kembali normal.
  • Ablasi melalui kateterisasi jantung, untuk menghambat impuls listrik di sepanjang sirkuit listrik yang menyebabkan SVT. Pada prosedur ini elektroda pada kateter dimasukkan melalui pembuluh darah jantung, untuk merusak atau melebarkan jaringan jantung, dengan memanfaatkan gelombang radio.
  • Pemasangan alat pacu jantung, untuk memancarkan impuls listrik agar detak jantung kembali normal. Alat pacu jantung dipasang di bawah kulit di dekat tulang leher.

 

Pencegahan Supraventrikular Takikardia

Metode pencegahan SVT adalah dengan menghindari faktor pemicunya. Beberapa upaya yang juga dapat dilakukan, antara lain:

  • Memastikan beristirahat dengan cukup.

  • Menghindari dan mengelola stres dengan baik.

  • Menghindari dan menghentikan kebiasaan merokok.

  • Menghindari konsumsi obat-obatan bebas secara sembarangan.

  • Menghindari penggunaan NAPZA.

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

  • Mengurangi konsumsi kafein atau alkohol.

  • Menjaga berat badan tetap ideal.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika seseorang mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan sebelumnya di atas, segera datangi instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu di sini.