Konsumsi Pisang Bisa Cegah Hipokalemia, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Konsumsi Pisang Bisa Cegah Hipokalemia, Benarkah?

Halodoc, Jakarta - Kondisi saat kadar kalium dalam aliran darah berada dalam kondisi bawah batas normal disebut hipokalemia. Dalam kadar yang normal, tubuh memiliki kadar yang kalium berkisar antara 3,6 hingga 5,2 milimolar/liter (mmol/L). Jika kondisinya berkurang hingga di bawah 2,5 mmol/L, maka kondisi ini harus mendapat penanganan karena bisa saja menyebabkan kematian. 

Mengapa Kadar Kalium Normal Sangat Penting bagi Tubuh?

Kalium adalah senyawa elektrolit yang sangat penting untuk kerja saraf dan otot, terutama otot jantung. Kalium bertugas untuk mengatur tekanan darah. Kadar kalium di dalam tubuh akan dikendalikan oleh ginjal. Jika kadar kalium berlebihan, ginjal membuang kalium dari dalam tubuh melalui keringat atau melalui urine.

Kadar kalium dalam tubuh bergantung pada kadar natrium dan magnesium. Kelebihan natrium dalam tubuh meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap kalium, sementara kekurangan magnesium dapat disertai hipokalemia.

Penyakit hipokalemia lebih mudah mereka yang mengalami gangguan pola makan, pecandu alkohol, dan pengidap AIDS. Jika kadar kalium kurang, maka hal ini bisa menyebabkan otot melemah, aritmia, serta gangguan fungsi jantung. 

Baca Juga: Hal yang Terjadi ketika Seseorang Idap Kandungan Kalium Tinggi

Benarkan Pisang Merupakan Sumber Kalium Terbaik?

Mereka yang mengalami hipokalemia dalam kasus yang tidak terlalu parah dapat diresepkan suplemen kalium. Suplemen ini bisa yang dikonsumsi secara oral atau mungkin melalui infus. Namun, beberapa makanan adalah sumber kalium yang cukup baik, misalnya buah pisang.

Buah pisang dikenal sebagai salah satu sumber kalium yang cukup baik dan memiliki rasa yang pasti disukai oleh siapapun. Dengan mengonsumsi satu buah pisang seberat 118 gr saja, kamu sudah mendapat asupan 422 mg atau 12% kebutuhan kalium harian.

Jika dikatakan terbaik, sebetulnya masih banyak jenis makanan lain yang memiliki lebih tinggi kalium di dalamnya. Makanan tersebut antara lain:

  • Kentang.

  • Ubi jalar.

  • Kerang.

  • Bayam.

  • Kacang-kacangan.

  • Alpukat.

  • Buah ara.

  • Kiwi.

  • Jeruk.

  • Tomat.

  • Susu.

  • Selai kacang.

  • Gandum.

Baca Juga: Waspada, Ini 2 Komplikasi yang Terjadi karena Hiperkalemia

Saat Tubuh Kekurangan Kalium, Apa Saja Gejalanya?

Ada beberapa gejala yang muncul saat seseorang mengalami kekurangan kalium atau mengalami hipokelamia. Beberapa gejala tersebut, antara lain: 

  • Kram perut dan sembelit.

  • Kesemutan dan mati rasa.

  • Mual, kembung, dan muntah.

  • Jantung berdebar.

  • Pingsan akibat tekanan darah rendah.

  • Sering buang air kecil dan merasa haus.

  • Kelelahan, serta kram di otot lengan dan kaki.

  • Gangguan psikologis, seperti depresi, delirium, bingung, atau berhalusinasi.

Jika hipokalemia yang terjadi masuk dalam kategori berat, maka muncul gejala seperti: 

  • Paralisis atau kelumpuhan.

  • Kegagalan pernapasan.

  • Kerusakan jaringan otot.

  • Tidak ada pergerakan saluran pencernaan.

Ini Pengobatan Hipokalemia

Dibutuhkan cara berbeda untuk mengobati hipokalemia, tergantung jenis gejala yang berkembang. Secara garis besar, kekurangan kalium diobati dengan beberapa hal ini: 

  • Mengobati penyebab kekurangan kalium. Jika kondisi ini terjadi akibat diare dan muntah-muntah, maka dokter memberikan obat-obatan untuk mengatasi diare dan muntah-muntah. Jika kalium banyak terbuang melalui urine, maka beberapa jenis obat yang mungkin akan diresepkan adalah:

  • Penghambat enzim pengubah angiotensin (angiotensin converting enzyme inhibitors). Penghalang reseptor angiotensin II (angiotensin receptor blockers). 

  • Golongan diuretik hemat kalium. Kelompok obat ini bisa tetap berfungsi sebagai diuretik, namun tidak menyebabkan pengeluaran kalium melalui urine. Contoh obat dari golongan ini adalah triamteren dan amilorida.

  • Golongan aldosteron antagonis selektif.

Sementara itu, guna mengembalikan kadar kalium, pengidapnya bisa diresepkan suplemen kalium yang dikonsumsi secara oral atau infus yang umumnya adalah kalium klorida (KCl). Bagi penderita hipokalemia yang juga menderita batu kalsium dalam tubuh atau penderita asidosis berat, dapat mengonsumsi kalium sitrat sebagai pengganti kalium klorida.

Baca Juga: Jenis Pengobatan untuk Mengatasi Hiperkalemia

Apabila kamu mengalami gejala yang mirip hiperkalemia, tidak ada salahnya untuk bicara dengan dokter Halodoc untuk memastikannya. Pakai fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!