• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bukan Cuma Mutasi DNA, Ini Pemicu Kanker Sarkoma Jaringan Lunak

Bukan Cuma Mutasi DNA, Ini Pemicu Kanker Sarkoma Jaringan Lunak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Coba tebak, kira-kira berapa banyaknya pengidap kanker secara global? Jangan kaget ya, berdasarkan laporan internasional Agency for Research on Cancer, WHO (2018) memperkirakan terdapat 18,1 juta kasus kanker baru. Dari angka tersebut, setidaknya 9,6 juta orang mesti kehilangan nyawa pada 2018 akibat penyakit mematikan ini.

Nah, dari banyaknya jenis kanker, kanker sarkoma jaringan lunak sering dilupakan. Padahal, kanker ini tidak kalah berbahaya jika dibandingkan dengan kanker lainnya. Kanker sarkoma jaringan lunak boleh dibilang menjadi salah satu tumor ganas (kanker) yang jarang ditemukan. Jumlahnya hanya 1 persen kasus pada orang dewasa, dan 7-10 persen pada anak-anak dan dewasa muda.

Baca juga: Harus Tahu, Bedanya Kanker dan Tumor

Mutasi DNA dan Pemicunya

Sarkoma jaringan lunak merupakan tumor ganas (kanker) yang menyerang jaringan yang menghubungkan atau mengelilingi struktur tubuh. Contohnya, lemak, otot, saraf tendon, pembuluh darah, dan lapisan pada tulang sendi. Sarkoma jaringan lunak lebih umum menyerang kepala, leher, batang tubuh, dan organ retroperitoneum. Lantas, apa penyebab penyakit ini?

Biang keladinya sama dengan kanker jenis lain. Sarkoma jaringan lunak terjadi akibat mutasi DNA di dalam sel sehingga berkembang di luar kendali. Sel-sel yang abnormal ini membentuk tumor yang menyerang jaringan di sekitarnya dan menyebar ke tubuh bagian lain. Sayangnya, penyebab terjadinya mutasi DNA belum diketahui secara pasti.

Selain mutasi genetik, kanker sarkoma jaringan lunak juga bisa disebabkan oleh virus, yaitu virus Kaposi’s sarcoma. Selain itu, ada faktor lainnya yang dihubungkan dengan munculnya sarkoma, seperti:

  • Radiasi yang dijalani untuk terapi tumor lain dapat menyebabkan seseorang terserang sarkoma jaringan lunak.

  • Mengidap penyakit Paget, suatu jenis gangguan pada tulang.

  • Faktor usia, lansia lebih berisiko mengalami sarkoma jaringan lunak.

  • Terjadinya predisposisi genetik seperti sindrom gardner, hereditary retinoblastoma, dan neurofibromatosis  von recklinghausen tipe 1. Rusaknya gen TP53 bisa menyebabkan sindrom Li Fraumeni yang meningkatkan risiko sarkoma.

  • Terpapar bahan kimia tertentu. Paparan terhadap bahan kimia bisa meningkatkan risiko terjadinya sarkoma. Asbes, arsen, dan herbisida merupakan jenis bahan kimia yang berhubungan dengan risiko terjadinya sarkoma.

Baca juga: 6 Fakta tentang Sarkoma Jaringan Lunak yang Perlu Diketahui

Gejalanya Bisa Bervariasi

Mengenali gejala sarkoma memang gampang-gampang susah. Menurut penjelasan National Institutes of Health - Soft Tissue Sarcoma, sarkoma jaringan lunak sering tidak menimbulkan gejala, sehingga sulit ditemukan pada stadium awal. Ketika tumor makin membesar, maka bisa menimbulkan gejala, seperti:

  • Rasa tidak nyaman hingga kesulitan bernapas;

  • Rasa nyeri bila tumor menekan saraf, organ, pembuluh darah, atau otot;

  • Nyeri perut, perdarahan saluran cerna, dan sumbatan aliran makanan, bila sarkoma berada di dalam rongga perut.

Pada dasarnya, gejala atau keluhan yang dialami pengidapnya bisa berbeda-beda. Gejalanya bergantung pada lokasi tumor berada dan tingkat keparahannya. Nah, apabila kamu masih merasa bingung dengan gejala dari kanker sarkoma, bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Kenali Tingkatan Keparahan Sarkoma Jaringan Lunak 

Ingat, meski kanker ini terbilang langka, tapi bukan berarti bisa diremehkan. Sarkoma jaringan lunak bisa menyebar ke organ lainnya. Alhasil, peluang untuk sembuh pun akan lebih sulit.

 Referensi:
NHS. Diakses pada Desember 2019. Health A-Z. Soft Tissue Sarcoma.
Mayo Clinic. Diakses pada Desember 2019. Disease & Conditions. Soft Tissue Sarcoma.
US National Library of Medicine - National Institutes of Health. Diakses pada Desember 2019. Soft tissue sarcomas.
WHO. Diakses pada Desember 2019. Cancer - Key facts