• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Normalkah Anak Alami Tantrum? Ketahui 4 Faktanya

Normalkah Anak Alami Tantrum? Ketahui 4 Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta – Si Kecil sering berteriak, menangis histeris, meronta, atau berguling-guling di lantai ketika berada di tempat umum? Itu berarti ia sedang tantrum. Hal ini normal dan wajar terjadi pada anak-anak usia prasekolah, yaitu 1-4 tahun, karena belum bisa mengekspresikan keinginannya dengan benar.

Jadi, ketika Si Kecil tiba-tiba tantrum, orangtua tidak perlu khawatir karena hal ini umum terjadi pada anak. Namun, jika ingin tahu lebih lanjut tentang tantrum dari ahlinya, kamu bisa download dan gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya pada psikolog atau dokter anak lewat chat

Baca juga: Mengenal 2 Jenis Tantrum pada Anak

Nah, untuk menambah pengetahuan ibu, berikut Halodoc rangkum beberapa fakta tentang tantrum yang sepertinya penting untuk diketahui:

1. Frekuensi Tantrum Akan Berkurang Seiring Bertambahnya Usia

Frekuensi tantrum pada anak akan berkurang seiring bertambahnya usia mereka. Pada anak usia 1 tahun, rata-rata frekuensi tantrum dalam seminggu adalah 8 kali, lalu naik menjadi 9 kali ketika berusia 2 tahun. Kemudian ketika usianya 3 tahun, frekuensi tantrum akan berkurang menjadi 6 kali saja dalam seminggu. 

Semakin menurunnya frekuensi tantrum anak terjadi karena kemampuan verbalnya telah semakin berkembang, sehingga anak sudah bisa mengekspresikan keinginannya dengan lebih baik. Mengingat penyebab utama dari tantrum pada anak adalah ketidakmampuannya dalam menyampaikan apa yang diinginkan.

2. Dapat Berkembang Menjadi Perilaku Berkelanjutan

Pada kebanyakan kasus, tantrum memang hanya terjadi hingga anak berusia 4 tahun, dan frekuensinya semakin menurun seiring berkembangnya kemampuan verbal anak. Namun pada beberapa kasus, tantrum juga bisa berubah menjadi perilaku berkelanjutan, jika tidak disikapi dengan baik oleh orangtua. 

Tantrum yang parah dan tidak normal terjadi ketika anak tak lagi hanya menangis dan berteriak-teriak saja, tetapi juga melukai diri sendiri, orang lain, atau menghancurkan benda-benda. Tantrum yang normal biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun, dengan reaksi berupa menangis, memukul lengan atau kaki, atau menjatuhkan diri ke lantai. Setelah tantrum mereda, suasana hati anak akan kembali normal seperti biasa.

Baca juga: Anak Tantrum, Ini Sisi Positifnya untuk Orang Tua

Orangtua perlu waspada jika tantrum berlanjut setelah anak berumur 4 tahun, dan muncul reaksi berlebihan dengan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Selain itu, waspada juga jika durasi tantrum anak meningkat atau lebih dari 15 menit, lebih dari 5 kali dalam sehari, atau suasana hati anak terus memburuk setelah tantrum reda.

3. Tantrum Adalah “Caper” yang Meledak-ledak

Usia balita merupakan masa peralihan dari bayi menjadi anak-anak. Ketika masih bayi, orientasi Si Kecil hanya berpusat pada dirinya sendiri, sedangkan ketika masa balita ia harus beradaptasi dengan banyak orang di sekitarnya. Saat itulah keinginan untuk mengaktualisasi diri muncul.

Namun, pada saat yang bersamaan, kemampuan interaksi dan komunikasinya masih berkembang, kosakata yang dimiliki masih sangat terbatas, sehingga Si Kecil pun merasa kesulitan berekspresi. Hal itu membuatnya frustasi dan akhirnya ia gunakan tantrum sebagai manifestasi ekspresinya. Dengan tantrum, Si Kecil sebenarnya ingin mengungkapkan bahwa ia butuh dilihat dan diperhatikan, alias “caper”. Sayangnya, sering kali emosi yang diluapkan terlihat berlebihan dan meledak-ledak.

Baca juga: 4 Cara untuk Mencegah Anak Mengalami Tantrum

4. Orangtua Perlu Tetap Tenang dan Jangan Terpancing Emosi

Ketika anak sedang tantrum, hal terbaik yang bisa dilakukan orangtua adalah tetap tenang dan memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya. Abaikan ia hingga menjadi tenang dengan sendirinya. Jangan pernah terpancing emosi, apalagi memukul anak. Jangan juga “menyogok” anak dengan sesuatu untuk menghentikan tantrumnya.

Sebab, anak bisa jadi akan memahami bahwa tantrum merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hadiah. Hal penting lainnya yang perlu dilakukan orangtua ketika Si Kecil tantrum adalah mengawasinya agar tidak membahayakan diri sendiri. Lalu setelah anak selesai tantrum, peluk dan tenangkanlah ia, sambil perlahan ajari cara bicara yang tepat ketika menginginkan sesuatu.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Temper tantrums in toddlers: How to keep the peace.