• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Orangtua Over Protektif Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa pada Anak?

Benarkah Orangtua Over Protektif Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Orangtua mana sih yang enggak kepingin anaknya tumbuh sehat dan selalu berada dalam keadaan aman? Itulah sebabnya, wajar saja toh orangtua sering mengkhawatirkan anaknya.

Akan tetapi, bila rasa khawatir tersebut berlebihan, inilah yang bisa membuat orangtua menjadi over protective pada anak. Nah, ini yang perlu kita perhatikan bersama. Sebab over protective terhadap bisa menimbulkan masalah baru nantinya,

Menurut Nathan H. Lents, Ph.D, seorang profesor biologi molekuler di John Jay College, University of New York, orangtua yang menerapkan pola asuh protektif bisa menyebabkan anak mengalami gangguan jiwa.

Baca juga: Inilah 6 Jenis Pola Asuh Anak yang Bisa Diterapkan Orangtua

Pola Asuh Protektif

Pola asuh yang diterapkan orangtua pada anak sangat berpengaruh besar bagi kesehatan mental sang anak di kemudian hari. Pola asuh yang baik dapat menghasilkan anak dengan kepribadian yang baik juga. Namun, pola asuh yang salah secara tidak langsung dapat membahayakan kehidupan sang anak. Tentunya tidak ada orangtua yang ingin mencelakai anaknya. Namun, rasa sayang yang berlebihan pada anak terkadang membuat orangtua tanpa sadar menerapkan pola asuh yang salah. 

Salah satu contoh pola asuh yang salah yang sering diterapkan oleh banyak orangtua adalah terlalu protektif. Pola asuh protektif adalah perilaku mengasuh anak yang cenderung terlalu mengekang anak demi menjaga keamanan atau menghindarkan anak dari celaka atau sesuatu yang buruk.

Baca juga: Kenal Lebih Dalam dengan Helicopter Parenting

Ciri-Ciri Orangtua Protektif

Terkadang beberapa orangtua tak sadar dirinya telah menerapkan pola asuh yang terlalu protektif. Nah, agar tak keliru, inilah ciri-ciri orangtua yang over protektif terhadap anaknya.

  • Menyediakan segala sesuatu untuk anak.

  • Menjaga anak dari kegagalan.

  • Tidak mengajarkan anak tentang tanggung jawab.

  • Terlalu menghibur anak.

  • Mengatur pertemanan anak.

  • Mengingatkan anak tentang bahaya terus-menerus.

  • Terus-menerus memeriksa keadaannya.

Kembali ke tajuk utama, apa sih dampak pola asuh protektif terhadap kesehatan mental anak?

Pengaruhi Kesehatan Mental Anak

Ingat, gangguan jiwa tidak selalu berarti gila, melainkan kondisi mentalnya tidak normal atau terganggu. Menurut Nathan, ada dua gangguan mental yang mungkin dialami anak yang tumbuh di bawah didikan orangtua protektif, yaitu stres jangka pendek dan kronis. Stres jangka pendek masih bisa diatasi dengan mudah. 

Anak bisa mengalami stres jangka pendek bila orangtua sering memarahi atau menegurnya, atau mengarahkan anak dengan persuasif, sehingga anak mengikuti kehendak orangtuanya. Sedangkan anak yang mengalami stres kronis, mungkin mendapatkan perlakuan yang lebih kejam dari orangtuanya.

Mereka biasanya tidak berdaya dan harus selalu mengikuti arahan dari orangtuanya. Bila tidak, mereka bisa mendapatkan hukuman berupa kekerasan fisik, mental, hingga pelecehan. Anak yang mengalami stres kronis bisa mengalami kecemasan, depresi, gangguan suasana hati, bahkan memberontak di masa depan.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Dampak Pola Asuh Permisif pada Anak

Selain itu, pola asuh protektif juga bisa menyebabkan anak mengalami gangguan kecemasan. Hal ini karena pola asuh protektif membuat anak tidak memiliki kesempatan untuk mengalami situasi yang baru dan cenderung merasa ketakutan menghadapi segala sesuatu. Anak yang terlalu diproteksi juga cenderung kurang terbiasa menghadapi tekanan dan kurang mampu untuk mengatasi situasi yang sulit.

Nah, mengetahui dampak buruk yang bisa terjadi pada anak akibat pola asuh protektif, orangtua dianjurkan untuk mengasuh anak secara bijak. Orangtua boleh memberikan aturan dan mengawasi anak, tetapi lakukanlah dengan bijak tanpa menggunakan hukuman fisik, apalagi ancaman.

Biarkan anak bertumbuh sesuai usianya dan memilih sesuai keinginannya. Orangtua hanyalah berperan sebagai pengawas serta mengarahkan anak bila ia berbuat salah atau menyimpang dari norma yang berlaku.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter dan psikolog melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Encyclopedia on Early Childhood Development. Diakses pada 2019. Parent-Child Relationships in Early Childhood and Development of Anxiety & Depression.
Very well Family. Diakses pada 2019. 9 Characteristic Signs of an Overprotective Parent.