Sesak Napas Saat Hamil, Benarkah Bisa Sebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Sesak Napas Saat Hamil, Benarkah Bisa Sebabkan Kematian?

Halodoc, Jakarta – Sesak napas saat hamil termasuk keluhan yang wajar. Bertambahnya usia kehamilan dan perkembangan janin menjadi pemicu utamanya. Tapi, apakah sesak napas saat hamil bisa sebabkan kematian? Pertanyaan ini menjadi sorotan setelah pada 30 Januari 2019 lalu, artis bernama Saphira Indah, meninggal dunia karena sesak napas pada usia kehamilannya enam bulan.

Baca Juga: Ini 6 Penyebab Ibu Hamil Mengalami Sesak Napas

Apa Penyebab Sesak Napas pada Tiap Trimester Kehamilan?

1. Trimester Pertama

Meski masih berukuran kecil, janin pada trimester ini bisa menyebabkan sesak napas. Kondisi diperparah dengan pembesaran diafragma, otot pemisah jantung dan paru - paru dari perut ibu hamil. Diafragma membantu proses bernapas saat hamil karena melalui pergerakannya, udara masuk ke paru – paru.

Namun saat ukurannya membesar, diafragma berpotensi menutup jalan napas ibu hamil dan menyebabkan sesak napas. Perubahan pola napas lainnya disebabkan oleh peningkatan hormon progesteron, membuat ibu hamil bernapas lebih cepat dibanding biasanya.

2. Trimester Kedua

Sesak napas lebih terasa pada trimester kedua. Pasalnya pada trimester ini, aliran darah meningkat dan memacu jantung bekerja lebih keras agar darah menuju plasenta dan seluruh tubuh. Beban kerja jantung berlebih ini yang menyebabkan sesak napas pada trimester kedua, selain ukuran uterus yang semakin membesar.

3. Trimester Ketiga

Jalur napas pada trimester ketiga bisa semakin lega atau sulit, tergantung pada ukuran dan posisi kepala janin dalam kandungan. Penyebabnya adalah sebelum janin mendekati panggul, kepalanya seperti berada di bawah tulang rusuk dan menekan diafragma, sehingga kebanyakan ibu hamil mengalami sesak napas. Kondisi ini terjadi pada minggu ke-31 hingga ke-34 kehamilan.

Adakah Cara Mencegah Sesak Napas Saat Hamil?

Selain tiga hal di atas, sesak napas saat hamil disebabkan oleh masalah medis tertentu. Misalnya asma, gagal jantung (kardiomiopati peripartum), dan emboli paru yang terjadi saat hamil. Lantas, apakah ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegah situasi ini?

  • Atur posisi yang nyaman saat duduk dan berdiri. Posisi ini memungkinkan uterus menjauhi diafragma, sehingga jalur napas ibu hamil semakin lega.

  • Tidur dengan meletakkan bantal di bawah punggung atas. Cara ini mendorong uterus ke bawah dan memberikan ruang bernapas lebih besar. Tidur pada posisi ke kiri membantu rahim menjauhi aorta, arteri besar yang menyalurkan darah kaya oksigen ke seluruh tubuh.

  • Berlatih relaksasi atau teknik bernapas. Lakukan teknik ini saat ibu mulai merasakan sulit bernapas.

  • Hindari aktivitas yang berat. Jika merasa lelah, segera beristirahat karena aktivitas berat memicu kelelahan yang menyulitkan ibu hamil bernapas.

Bisakah Sesak Napas Saat Hamil Sebabkan Kematian?

Meski jarang terjadi, sesak napas bisa menyebabkan kematian ibu hamil. Sesak napas menghambat aliran darah kaya oksigen ke seluruh tubuh sehingga jika dibiarkan tanpa penanganan, sesak napas membuat tubuh ibu hamil kekurangan oksigen dan meningkatkan risiko kematian. Maka itu, pergi ke dokter segera jika ibu sering mengalami sesak napas saat hamil. Perlu diwaspadai jika sesak napas saat hamil disertai gejala lain, seperti tubuh membiru, jantung berdebar lebih cepat, nyeri saat bernapas, dan mengi.

Baca Juga: 5 Cara untuk Mengatasi Sesak Napas pada Ibu Hamil

Kalau ibu mengalami sesak napas atau keluhan lain saat hamil, segera bicara pada dokter Halodoc agar saran mendapatkan penanganan yang tepat. Gunakan fitur Contact Doctor yang ada di Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!