• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Silent Reflux, Diam-Diam tapi Mematikan

Silent Reflux, Diam-Diam tapi Mematikan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu merasa nyeri pada dada, mual, dan mulas setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu? Jika iya, bisa jadi itu tanda naiknya asam lambung dalam tubuh. Sayangnya, kondisi ini bisa terjadi tanpa gejala. Itu mengapa kondisi ini juga disebut “silent reflux”.

Dikutip dari Medical News Today, refluks laringofaringeal, sebutan lain dari silent reflux ini, terjadi ketika asam lambung bersentuhan dengan esofagus atau pita suara. Hal ini mengakibatkan iritasi, rasa tidak nyaman, dan sensasi seperti terbakar terjadi. Sayangnya, kondisi ini baru terasa setelah gejala yang lebih serius muncul dan menyebabkan kerusakan tertentu.

Baca juga: Ini Bedanya Sakit Maag dengan Tukak Lambung

Gejala Silent Reflux

Sering kali, tidak sedikit orang yang salah mengartikan silent reflux dengan GERD. Padahal, keduanya adalah masalah kesehatan yang berbeda. Silent reflux sering terjadi tanpa diikuti sensasi heartburn atau menimbulkan sedikit gejala. Sementara itu, salah satu gejala GERD adalah munculnya sensasi heartburn.

Berikut ini gejala silent reflux yang membedakannya dari penyakit GERD, dikutip dari Healthline:

  • Asma;
  • Suara serak;
  • Kesulitan menelan;
  • Tenggorokan terasa pahit;
  • Nyeri atau sensasi terbakar pada tenggorokan;
  • Keinginan untuk terus membersihkan tenggorokan.

Kalau kamu mengalami salah satu dari beberapa keluhan tadi, jangan diabaikan. Segera periksa ke rumah sakit agar kamu bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.

Kamu bisa memanfaatkan aplikasi Halodoc, baik untuk berobat ke rumah sakit terdekat, beli obat, cek lab, atau bertanya pada dokter spesialis kapan saja dan di mana saja. 

Baca juga: Benarkah GERD Bisa Memicu Kematian Mendadak?

Faktor Risiko dan Komplikasi Silent Reflux

Silent reflux bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ada beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah kesehatan ini, termasuk: 

  • Kehamilan;
  • Kelebihan berat badan;
  • Pengosongan lambung yang lambat;
  • Gaya hidup, antara lain diet, makan berlebih, kebiasaan merokok, dan minum alkohol;
  • Sfingter esofagus yang rusak atau tidak berfungsi. Sfingter esofagus berperan untuk mengalirkan makanan masuk ke lambung dan mencegah refluks lambung memasuki esofagus kembali. Kerusakan ini berdampak pada naiknya kembali asam lambung ke esofagus.

Jadi, jangan menyepelekan silent reflux, karena kondisi ini memicu komplikasi serius apabila tidak segera ditangani. Tidak hanya menyebabkan iritasi dan kerusakan jangka panjang pada tenggorokan dan laring.

WebMD menuliskan, silent reflux yang terjadi pada bayi dan anak-anak juga memicu sejumlah komplikasi, termasuk:

  • Penyempitan area bawah pita suara;
  • Infeksi telinga berulang;
  • Penumpukan cairan telinga tengah.

Pada orang dewasa, silent reflux bisa melukai tenggorokan dan bagian pita suara. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kanker di daerah tersebut, memengaruhi bagian paru-paru, dan memperburuk kondisi kesehatan seperti asma, emfisema, atau bronkitis. 

Baca juga: Asam Lambung Naik, Ini Cara Penanganan Pertamanya

Diagnosis dan Pengobatan

Apabila kamu terbukti mengidap silent reflux, dokter meresepkan obat untuk menghentikan kerusakan akibat silent reflux (bukan memperbaiki kerusakan).

Biasanya, dokter menyarankan untuk menguatkan sfingter esofagus, sehingga bisa mencegah naiknya asam lambung kembali ke kerongkongan di kemudian hari.

Selain itu, kamu juga disarankan untuk mengubah gaya hidup. Hindari makan atau minum sebelum tidur dan kurangi konsumsi makanan yang bisa menjadi pemicunya, seperti makanan berminyak, pedas, atau asam.

 

Referensi:

Medical News Today. Diakses pada 2020. What is Silent Reflux and What Can I Do about It?
Healthline. Diakses pada 2020. What You Should Know about Silent Reflux
WebMD. Diakses pada 2020. Laryngopharyngeal Reflux (Silent Reflux)