22 February 2019

Stop Mom Shaming, Perbedaan Pandangan Setiap Ibu Perlu Dihargai

mom shaming, ibu dalam membesarkan anak

Halodoc, Jakarta - Berkumpul bersama teman sesama ibu, atau posting sesuatu di media sosial terkadang sudah tidak mengasyikan lagi, jika teman-teman ibu memberikan komentar yang tidak mengenakkan seputar “keibuan”. Semakin banyak terjadi penerimaan sikap nyinyir tentang cara menjadi ibu. Banyak pihak-pihak yang merasa disalahkan dengan adanya sikap mom shaming ini. Padahal, mereka yang berkomentar pun tidak mengerti dengan kondisi sebenarnya.

Perbedaan cara pandang ibu dalam membesarkan seharusnya bisa dipahami dan dihargai. Kita perlu ingat bahwa setiap orangtua dilatari oleh norma budaya, motivasi, dan tujuan pengasuhan anak yang juga beragam.

Pada beberapa kasus, informasi dari orang lain dapat memotivasi para ibu untuk belajar dan melakukan inovasi dalam melakukan pengasuhan anak mereka. Namun, di sisi lain, walaupun tujuan kritik dimaksudkan untuk membangun, kebanyakan ibu merasa nasihat itu tidak benar-benar membantu dan sia-sia.

Baca juga: Timbang Menimbang Pola Asuh untuk Anak

Sebagian ibu-ibu merasa nasihat atau kritik orang lain tidak banyak membantu menjadikannya orangtua yang lebih baik. Sebagian lagi ibu-ibu merasa dirinya terlalu banyak disalahkan dan tidak diberi cukup otoritas untuk mengatur sendiri cara mengasuh anak mereka.

Tindakan mom shaming sebenarnya suatu bentuk seorang ibu memvalidasi kemampuan pengasuhan mereka sendiri. Mungkin ibu tidak menyadari pernah melakukan mom shaming. Jika ibu pernah melakukan kritik di bawah ini,  sebenarnya ibu telah melakukan mom shaming. Tindakan yang sebaiknya dihindari tersebut, antara lain:

  1. Mengkritik Cara Menyusui

Ibu perlu memahami bahwa tidak semua ibu dapat menyusui, atau memilih untuk tidak menyusui karena berbagai alasan. Apapun cara yang dipilih ibu lain, sebenarnya tidak masalah. Jadi jika ibu pernah bertanya pada seorang ibu lain “Kok, menyusuinya pakai botol?” atau “Kenapa anaknya nggak dikasih ASI, malah susu formula?”, ujaran tersebut termasuk dalam kritik atas pilihan seorang ibu.

Baca juga: Pola Asuh Beda dengan Pasangan, Harus Bagaimana?

  1. Mempertanyakan Tumbuh Kembang Anak

Pertanyaan seperti “Kok anaknya belum bisa merangkak?” atau “Udah umur setahun, tapi kok anaknya belum bisa ngomong?”, sebenarnya tidak perlu ibu tanyakan. Perlu dipahami bahwa setiap bayi berbeda dan mereka berkembang dengan laju yang berbeda pula. Pertanyaan tersebut akan membuat seorang ibu sangat khawatir.

  1. Mengomentari Pilihan Ibu untuk Bekerja atau Ibu Rumah Tangga

Jika ibu mengeluarkan pernyataan “aku kangen bekerja” atau “pasti bosan banget kalau harus tinggal di rumah sepanjang hari”, sebaiknya berhati-hatilah. Pernyataan tersebut, meskipun disampaikan secara halus dan pasif, sebenarnya dapat menilai pilihan ibu lain.

Pilihan bekerja atau tinggal di rumah pun sebenarnya bukan pilihan sama sekali. Terutama jika seorang ibu perlu tinggal di rumah atau kembali bekerja untuk alasan keuangan, kesehatan, atau lainnya. Ibu hanya harus menghargai keputusan ibu lain.

  1. Mengomentari Bentuk Tubuh Ibu Lain

Berkomentar seperti “habis melahirkan sudah langsing saja, memangnya sempat pergi ke gym?” seharusnya jangan dilakukan. Sebaiknya hindari berkomentar tentang tubuh postpartum ibu lain.

Baca juga: Ini Pola Asuh Sehat untuk Tumbuh Kembang Anak

  1. Mempertanyakan Pilihan Proses Kelahirannya

Beberapa ibu memilih untuk melahirkan secara normal, sedangkan beberapa ibu lainnya memilih secara caesar. Setiap ibu memiliki hak untuk memilih bagaimana ia membawa bayinya ke dunia. Dengan mempertanyakan, menilai, atau mengkritik pilihannya tidak akan membantu ibu lain sama sekali. Ibu hanya perlu memahami dan menghargai keputusannya.

Jadi, menjadi pengkritik atau pelaku mom shaming terhadap ibu lainnya sebenarnya tidak akan membantu sama sekali. Karena kondisi setiap ibu berbeda-beda. Sebagai sesama ibu, sebaiknya ibu bisa saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Daripada nyinyir soal cara mengasuh anak atau hal lain seputar keibuan, lebih baik diskusikan langsung dengan dokter ahlinya melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.