• Home
  • /
  • Stunting Akibat Gizi Buruk, Ini 3 Faktanya

Stunting Akibat Gizi Buruk, Ini 3 Faktanya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Stunting Akibat Gizi Buruk, Ini 3 Faktanya

Halodoc, Jakarta – Ibu, pernahkah mendengar istilah stunting? Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami oleh balita atau anak-anak. Kondisi ini ditandai dengan panjang atau tinggi badan yang kurang dibandingkan dengan anak seusianya. Stunting bisa disebabkan oleh gizi yang buruk sejak dari masa kehamilan, infeksi berulang, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai atau lingkungan yang tidak sehat.

Buletin yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan, jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia masuk ke peringkat ketiga sebagai prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara. Data prevalensi balita stunting ini dihimpun oleh World Health Organization (WHO) dari tahun 2005-2017. Melihat angka stunting di Indonesia cukup tinggi, ibu perlu mengetahui fakta-fakta berikut sebagai upaya pencegahan stunting pada anak.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Mengenai Stunting

  1. Gizi Buruk Menjadi Penyebab Utama

Kesehatan dan perkembangan anak wajib diperhatikan sejak masih dalam kandungan. Sejak ibu masih hamil hingga anak lahir dan 1.000 hari pertama kehidupannya menjadi masa-masa yang wajib diperhatikan gizinya. Nutrisi yang baik selama periode ini membentuk anak untuk kehidupan yang sehat di kemudian hari.

Dikutip dari WHO, sebesar 20 persen anak-anak yang mengalami stunting disebabkan oleh ibu yang kekurangan gizi. Gizi yang tidak terpenuhi selama kelahiran sampai bayi mencapai dua tahun juga menjadi penyebab utama stunting pada anak-anak.

  1. Berkaitan dengan Tingkat Perekonomian

Tingkat ekonomi yang baik berbanding lurus dengan nutrisi yang diperoleh anak-anak. Sebagian besar stunting ternyata dialami oleh anak-anak dengan ekonomi keluarga yang kurang berkecukupan. Selain itu, Bank Dunia menemukan bahwa investasi dalam program peningkatan gizi jauh lebih besar daripada biayanya. Mengabaikan pengembangan nutrisi sumber daya manusia suatu negara menyebabkan kerugian langsung maupun tidak langsung dalam produktivitas akibat kondisi fisik yang buruk dan pengembangan kognitif yang buruk pula.

Baca Juga: Cegah Anak Stunting dengan 4 Cara Ini

Mengingat angka stunting di Indonesia masih cukup tinggi dan melebihi standar dari standar WHO, yakni tidak lebih dari 15 persen, pemerintah perlu bekerja keras untuk menurunkan angka ini tahun demi tahun. Kabar baiknya, Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan menyebutkan, angka stunting di Indonesia menurun setiap tahunnya. Sebelumnya, angka stunting mencapai 37,2 persen pada Riskesdas 2013 dan turun menjadi 30,8 persen pada 2018. Di tahun 2019, angka stunting kembali menurun mencapai 27,67 persen. 

  1. Tidak Bisa Diobati, Namun Bisa Dicegah

Anak yang terlanjur mengalami stunting, hampir tidak ada harapan untuk diobati. Perawatan hanya berkisar untuk mencegah risiko penyakit dikemudian hari. Langkah pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memenuhi asupan gizi selama masa kehamilan. Bagi ibu hamil, pastikan untuk memenuhi makanan yang sehat dengan nutrisi seimbang setiap harinya. Suplemen tambahan juga bisa dikonsumsi untuk memenuhi nutrisi ibu. 

Baca Juga: Ayo Cari Tahu MPASI Terbaik untuk Mencegah Stunting

Ibu juga harus memastikan Si Kecil mendapatkan ASI sampai umurnya mencapai dua tahun. Selama pemberian ASI ibu harus memenuhi gizi harian untuk mempertahankan produksi ASI. Kalau ibu butuh mengonsumsi suplemen, bisa konsultasikan kepada ahli gizi terlebih dahulu tentang dosis dan keamanannya. Ibu bisa menghubungi ahli gizi melalui aplikasi Halodoc, kapan saja dan di mana saja.

Referensi :
WHO. Diakses pada 2020. Stunting in a nutshell.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2020. Stunting.
The World Bank. Diakses pada 2020. Indonesia Accelerates Fight Against Childhood Stunting.
UNICEF. Diakses pada 2020. Stunting.