Tes Medis untuk Diagnosis Disfungsi Seksual

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Tes Medis untuk Diagnosis Disfungsi Seksual

Halodoc, Jakarta – Bagi pasangan suami istri (pasutri), berkurangnya gairah seksual bisa memengaruhi keharmonisan rumah tangga.  Dalam istilah medis, kondisi ini dinamakan disfungsi seksual. 

Siapa saja berpotensi mengalami disfungsi seksual, tapi risikonya semakin tinggi seiring pertambahan usia. Lantas, bagaimana cara mendiagnosa disfungsi seksual? Ketahui faktanya di sini.

Baca Juga: Perlu Tahu, 5 Tanda Disfungsi Seksual pada Wanita

Kenali Gejala Disfungsi Seksual

Pada wanita, disfungsi seksual disebabkan karena masalah dalam respons seksual, orgasme, dan nyeri saat berhubungan intim. Sedangkan pada wanita, disfungsi seksual menyangkut disfungsi ereksi, impotensi, gangguan ejakulasi, dan kehilangan gairah seksual. 

Jika dibiarkan, kondisi ini memengaruhi kehidupan seksual pasangan dan menurunkan rasa percaya diri pengidapnya. Kabar baiknya adalah, disfungsi seksual bisa dipulihkan asal mendapat pengobatan yang tepat. Jangan ragu untuk berbicara dengan dokter Halodoc jika kamu mengalami gejala mirip disfungsi seksual.

Baca Juga: 5 Penyebab Pria Bisa Alami Disfungsi Ereksi

Cara Diagnosis Disfungsi Seksual

Diagnosis disfungsi seksual diawali dengan menanyakan gejala dan pemeriksaan fisik. Untuk menetapkan diagnosis, berikut ini beberapa tes yang perlu dilakukan:

  • Tes darah untuk memeriksa kadar hormon dan faktor risiko penyakit, seperti diabetes dan tingginya kadar kolesterol dalam darah;

  • Tes untuk memantau ereksi saat tidur pada malam hari. Tes ini bisa mengidentifikasi adanya gangguan ereksi akibat faktor fisik atau psikologis;

  • Tes vaskuler dilakukan pada pria, bertujuan untuk memeriksa aliran darah ke penis;

  • Tes pengujian sensori, bertujuan untuk memeriksa kekuatan impuls saraf pada bagian tubuh tertentu.

Bila diperlukan, dokter merujuk pengidap ke dokter spesialis lain, seperti dokter spesialis urologi, endokrinologi, neurologi, terapis seksual, dan terapis lain untuk memastikan diagnosis dan menentukan pengobatan yang tepat.

Kalau kamu punya keluhan disfungsi seksual dan mengganggu hubungan dengan pasangan, jangan ragu berbicara dengan dokter ahli. Tanpa harus antre, kamu bisa membuat janji dengan dokter secara online di rumah sakit pilihan di sini

Baca Juga: Ini Alasan Terapi Psikologi Bantu Pulihkan Disfungsi Seksual 

Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Disfungsi Seksual

  • Konsumsi obat. Obat flibanserin diberikan untuk wanita pra-menopause dengan hasrat seksual rendah. Sementara obat tadalafil, sildenafil, atau vardenafil diberikan pada pria untuk meningkatkan aliran darah ke penis. Pada kasus ejakulasi dini, diberikan obat promescent untuk mengurangi sensitivitas penis dan mengendalikan ejakulasi.

  • Terapi estrogen, dianjurkan bagi wanita dengan kadar estrogen rendah. Terapi ini bertujuan untuk menjaga elastisitas vagina dengan meningkatkan aliran darah dan pelumas. Terapi biasanya diberikan dalam bentuk cincin vagina, krim, atau tablet.

  • Terapi testosteron, baik berupa suplemen atau terapi pengganti, diberikan pada pria dengan kadar testosteron rendah.

  • Terapi psikologi untuk membantu pengidap mengatasi kecemasan, rasa takut, atau perasaan bersalah yang berdampak pada fungsi seksualnya.

  • Penggunaan alat bantu, seperti alat pompa (vakum) dan vibrator, tujuannya untuk membantu pengidap mengatasi permasalahan seksualnya. 

  • Pemasangan implan penis, dipertimbangkan bagi pria dengan gangguan ereksi.

Agar pengobatan yang dijalani maksimal, pengidap disfungsi seksual dianjurkan untuk menerapkan gaya hidup sehat. Di antaranya adalah dengan rutin berolahraga, mengelola stres, menghindari konsumsi alkohol, dan berhenti merokok.