Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
Waspada, Virus Herpes Mampu Sebabkan Sarkoma Kaposi

Halodoc, Jakarta – Pernah dengar sarkoma kaposi? Penyakit ini merupakan jenis kanker yang muncul karena adanya infeksi virus. Ternyata, virus herpes menjadi penyebab utama penyakit ini bisa terjadi. Sarkoma kaposi ditandai dengan pertumbuhan jaringan abnormal berupa bercak-bercak berwarna merah atau ungu. Bercak ini bisa ditemukan di bawah kulit, di tepi mulut, hidung, kelenjar limfa, dan di bagian tubuh lainnya. 

Baca juga: Ini 4 Pengobatan Sarkoma Jaringan Lunak yang Tepat

Secara umum, kanker terjadi karena adanya pertumbuhan sel abnormal yang kemudian menyerang sel tubuh normal. Seiring berjalannya waktu, sel abnormal ini akan berkembang secara berlipat ganda menjadi sel kanker yang ganas. Dalam penyakit sarkoma kaposi, virus herpes menyerang sel-sel endothelial dan menyebabkan sel-sel tersebut tumbuh secara cepat. Meski begitu, tidak semua infeksi ini akan menyebabkan sarkoma kaposi. Risiko meningkat pada orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah atau orang dengan kondisi tertentu, misalnya HIV, lanjut usia, atau tengah menjalani transplantasi organ. 

Cara Penyebaran Virus pada Penyakit Sarkoma Kaposi 

Penyebab paling umum serangan sarkoma kaposi adalah virus herpes (HHV-8). Kabar buruknya, virus yang satu ini bisa dengan mudah menular, terutama melalui hubungan seksual maupun kontak non-seksual, misalnya dari ibu ke bayi. Jenis kanker yang satu ini umum terjadi pada orang yang mengidap AIDS. Pada kondisi ini, sarkoma kaposi disebabkan oleh interaksi antara HIV. 

Baca juga: Ini Cara untuk Diagnosis Sarkoma Jaringan Lunak

Risiko sarkoma kaposi pada pengidap AIDS juga terjadi akibat sistem imun yang melemah, serta infeksi virus HHV-8 akibat aktivitas seksual. Gejala yang muncul bisa bermacam-macam, tergantung pada jenis penyakit dan organ yang terserang. Secara umum, kondisi ini sering ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada kulit dan di dalam mulut. Bercak yang muncul berwarna merah atau ungu, namun tidak menyebabkan munculnya benjolan dan tidak memicu rasa nyeri. Bercak yang muncul biasanya menyerupai lebam, dan semakin lama bisa menonjol atau berkumpul menyebabkan bercak yang lebih besar.

Untuk mendiagnosis penyakit ini, seseorang biasanya akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan HIV. Selain itu, biasanya akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti CT scan, biopsi kulit, dan endoskopi. Hingga kini, belum ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit sarkoma kaposi. Namun, pengobatan tetap diperlukan untuk mengatasi gejala dan mencegah penyakit ini berkembang menjadi lebih buruk. 

Namun pada sarkoma yang masih memiliki ukuran kecil dan jumlahnya tidak banyak, cenderung masih bisa ditangani. Ada beberapa prosedur yang bisa dilakukan untuk menangani kondisi ini, yaitu dengan radioterapi, kemoterapi, dan krioterapi. Jika dilihat dari jenis dan penyebabnya, sarkoma dibagi menjadi empat. Ada sarkoma kaposi pada pengidap HIV, sarkoma kaposi klasik, sarkoma kaposi pada orang yang menjalani transplantasi organ, dan sarkoma kaposi endemik di afrika. 

Meski tidak bisa disembuhkan, penanganan yang terlambat bisa berbahaya. Penanganan yang tepat bisa membantu memperlambat perkembangan penyakit, misalnya dengan melakukan terapi untuk menaikkan sistem kekebalan tubuh. Pada pengidap HIV, sarkoma kaposi bisa diatasi dengan pemberian obat untuk mencegah virus berlipat ganda. 

Baca juga: Kenali Tingkatan Keparahan Sarkoma Jaringan Lunak

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit sarkoma kaposi dan cara mengatasinya dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!