3 Faktor Risiko Gigantisme

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
risiko gigantisme, hormon pertumbuhan berlebihan

Halodoc, Jakarta - Gigantisme yang terjadi pada seseorang disebabkan oleh berlebihnya produksi hormon pertumbuhan pada anak-anak. Kondisi ini akan memengaruhi pengidapnya dalam hal tinggi dan berat badan. Kondisi ini masih termasuk langka, dan terjadi sebelum lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan di dalam tulang menutup.

Selama masa pertumbuhan, anak-anak yang mengalami gigantisme dapat memiliki ukuran tinggi dan berat badan di atas rata-rata. Meski begitu, gigantisme tidak mudah dikenali gejalanya dan awalnya dianggap sebagai fase pertumbuhan anak yang wajar.

Gigantisme berbeda dengan kondisi akromegali pada orang dewasa, yang terjadi ketika lempeng epifisis sudah menutup. Namun, baik gigantisme maupun akromegali sama-sama disebabkan oleh berlebihnya produksi hormon pertumbuhan yang dihasilkan oleh kelenjar pituitari atau hipofisis di otak.

Pada akromegali, pengidap biasanya baru dapat didiagnosis setelah mengidap gejala yang berat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan telatnya pengobatan, sehingga mengakibatkan komplikasi dan membahayakan nyawa.

Baca juga: Tubuh Tumbuh Tidak Wajar Ini yang Dimaksud Gigantisme

Kendala gigantisme yang tidak ditangani segera dapat menyebabkan kondisi serius dan memperparah risiko penyakit lain. Faktor risiko yang dapat terjadi, di antaranya adalah:

  1. Diabetes insipidus yang merupakan jenis diabetes yang jarang ditemui. Diabetes jenis ini ditandai dengan seringnya buang air kecil dan naiknya kadar gula dalam darah, karena ketidak seimbangan atau tidak berfungsinya hormon insulin.

  2. Berkurangnya sekresi hormon pada testis dan ovarium, yang menandai disfungsi seksual.

  3. Perkembangan mental yang rendah, akibat terganggunya fungsi kelenjar tiroid. Ini dapat terjadi pada pengidap gigantisme anak-anak maupun yang sudah dewasa.

Faktor risiko yang dialami pengidap gigantisme dapat terjadi akibat prosedur operasi, yaitu menurunnya hormon kelenjar hipofisis lainnya. Akibatnya, pengidap berisiko mengidap penyakit-penyakit seperti hipogonadisme, rendahnya kadar hormon tiroid (hipotiroidisme), insufisiensi adrenal (kekurangan hormon adrenal), serta diabetes insipidus.

Tumor pada kelenjar hipofisis juga dapat kambuh lagi. Kekambuhan muncul tergantung dari ukuran tumor dan kadar GH pengidap sebelum dilakukan tindakan operasi. Apabila tumor kambuh, obat-obatan menjadi pilihan untuk mengurangi gejala.

Baca juga: Perbedaan Antara Gigantisme dan Akromegali

Sementara itu, gejala yang dialami pengidap biasanya baru dikenali jika anak sudah mengalami pertumbuhan (tinggi) yang lebih besar daripada anak-anak sebayanya. Namun, agar dapat terdeteksi secara dini, kamu perlu mengenali gejala-gejala pengidap gigantisme, antara lain:

  • Tangan dan kaki yang berukuran sangat besar.

  • Wajah yang terasa kasar.

  • Jari kaki dan tangan terasa tebal.

  • Dahi dan dagu yang berukuran lebar.

  • Perkembangan masa puber yang terlambat.

  • Terdapat celah di antara gigi.

  • Memiliki gangguan pola tidur.

  • Mengeluarkan air susu ibu (ASI).

  • Sering berkeringat.

Gejala yang dialami tergantung pada seberapa besar ukuran tumor pada kelenjar hipofisis. Sebab, tumor yang berukuran besar dapat menyebabkan gejala tambahan akibat penekanan pada saraf otak. Pengidap gigantisme dapat mengalami sakit kepala, kelelahan, mual, gangguan penglihatan, kehilangan pendengaran, serta siklus menstruasi yang tidak normal.

Baca juga: Ketahui Komplikasi yang Bisa Disebabkan Oleh Gigantisme

Namun gejala-gejala yang dialami pengidap di atas bisa terjadi salah satu, lama kelamaan bertambah banyak yang tampak, seiring dengan bertambahnya usia. Namun, gejala juga bisa muncul sekaligus di usia dini. Atau sebenarnya, gejala-gejala tersebut sudah muncul sejak usia dini, tetapi tidak disadari oleh orangtua dan orang-orang di sekelilingnya.

Oleh karena itu, jika kamu melihat adanya gejala penyakit gigantisme, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter melalui aplikasi Halodoc, untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!