24 October 2018

3 Jenis Spina Bifida yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta – Spina bifida adalah kelainan bawaan lahir yang ditandai terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi. Kelainan ini bisa muncul di bagian mana saja pada tulang belakang jika tabung saraf bayi tidak tertutup sempurna, sehingga menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang dan saraf-saraf lain.

Bagaimana Spina Bifida Terjadi?

Pada kondisi normal, embrio membentuk tabung saraf yang berkembang menjadi tulang belakang dan sistem saraf. Jika proses ini tidak berjalan lancar, beberapa ruas tulang belakang tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menciptakan celah. Bila celah mencapai sebagian jaringan kulit seperti pada kulit di bagian punggung bawah, cairan otak yang mengelilingi sumsum tulang belakang bisa mendorongnya sehingga terbentuk kantung yang bisa terlihat di punggung bawah bayi.

Berikut tiga jenis spina bifida berdasarkan lokasi serta ukuran celah yang terbentuk:

1. Spina Bifida Okulta

Jenis ini termasuk paling umum dan ringan karena hanya menyebabkan terbentuknya celah kecil di antara ruas tulang punggung dan tidak memengaruhi saraf. Pengidap spina bifida jenis ini biasanya hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.

2. Meningokel

Jenis ini termasuk langka karena menyebabkan kondisi yang lebih parah dibanding spina bifida okulta. Pengidap spina bifida jenis ini ditandai dengan terbentuknya pembukaan yang cukup besar sehingga selaput pelindung sumsum tulang belakang mencuat keluar dari beberapa celah di tulang punggung dan membentuk kantung.

3. Mielomeningokel

Jenis ini termasuk yang paling serius karena ditandai dengan terbentuknya kantung berisi selaput dan sumsum tulang belakang yang menonjol keluar pada daerah punggung. Pada kasus yang berat, kantung ini tidak memiliki kulit sehingga Si Kecil rentan mengalami infeksi yang bisa mengancam jiwa.

Apa Saja Penyebab dan Gejala Spina Bifida?

Penyebab spina bifida belum diketahui secara pasti. Para ahli menduga ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kelainan bawaan lahir, di antaranya kekurangan asam folat, faktor genetik, jenis kelamin perempuan, konsumsi obat-obatan tertentu, dan masalah kesehatan (seperti diabetes dan obesitas).

Gejala yang dialami pengidap spina bifida bermacam-macam, tergantung lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang. Namun secara umum, gejala yang dialami berupa gangguan mobilitas, gangguan saluran kemih dan pencernaan, serta hidrosefalus.

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatan Spina Bifida?

Diagnosis spina bifida dilakukan dengan tes darah dan USG. Tes darah bertujuan untuk memeriksa alfa-fetoprotein yang terkandung dalam darah ibu hamil. Tingginya kadar alfa-fetoprotein menandakan janin berisiko mengidap kelainan tabung saraf, termasuk spina bifida. Cara memastikan diagnosis adalah dokter melakukan pemeriksaan USG untuk melihat kelainan struktur tertentu pada otak bayi. Kelainan tersebut bisa mengindikasikan kelainan bawaan lahir, salah satunya spina bifida.

Tes lain yang mungkin dilakukan adalah amniosentesis, yaitu prosedur pengambilan sampel cairan ketuban untuk diperiksa di laboratorium. Ibu perlu berbicara dengan dokter sebelum melakukan tes ini karena bisa membahayakan janin. Pemeriksaan setelah melahirkan juga diperlukan seperti USG, CT scan, atau MRI untuk menentukan tingkat keparahan dan membantu menentukan prosedur penanganan yang tepat.

Spina bifida biasanya diobati dengan prosedur operasi yang dilakukan segera setelah Si Kecil lahir, yaitu 1 - 2 setelah kelahiran. Tindakan ini bertujuan untuk menutup celah yang terbentuk sekaligus menangani hidrosefalus yang diidap Si Kecil. Perawatan lanjut yang perlu dilakukan adalah terapi okupasi atau terapi fisik, penggunaan alat bantu berupa tongkat atau kursi roda, serta konsumsi obat-obatan untuk menangani gangguan saluran kemih dan pencernaan.

Apakah Spina Bifida Bisa Dicegah?

Spina bifida bisa dicegah, salah satunya dengan mencukupi kebutuhan asam folat Si Kecil sejak sebelum dan selama masa kehamilan. Dosis asam folat yang dianjurkan sebanyak 400 mikrogram per hari. Ibu bisa mendapatkannya secara alami dengan mengonsumsi bayam, kuning telur, kacang-kacangan, dan brokoli. Ibu juga bisa mengonsumsi suplemen asam folat selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan asam folat.

Itulah jenis spina bifida yang perlu diketahui. Kalau ibu punya pertanyaan seputar kehamilan, jangan ragu bertanya ke dokter Halodoc. Ibu bisa menghubungi dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja melalui fitur Contact Doctor via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: