14 August 2018

4 Alasan Harus Kurangi Makan Jeroan

kurangi makan jeroan,jeroan,mengurangi makan jeroan

Holodoc, Jakarta - Jeroan alias isi perut (babat, usus, limpa, dan sebagainya) bukanlah makanan yang asing untuk masyarakat Indonesia. Bahkan, makanan ini sebenarnya sudah menjadi bagian dari “budaya” kuliner. Menariknya lagi, penduduk di belahan bumi sana seperti Spanyol, Skotlandia, Turki, Korea, Jepang, Italia, juga suka mengonsumsi jeroan, lho.

Baca juga: Suka Makan Steik, Kenali Dulu Jenis Steik dan Kematangannya

Mengonsumsi isi perut hewan memang jadi kegemaran beberapa orang. Namun, yang mesti diingat, terlalu banyak mengasup makanan ini bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Nah, berikut alasan mengapa kamu harus kurangi makan jeroan demi kesehatan di masa depan.

 

1. Menyebabkan dan Memperburuk Asam Urat

 

Pecinta jeroan mesti hati-hati, sebab konsumsi makanan ini bisa meningkatkan kadar zat purin dalam tubuh. Zat ini diproduksi secara alami di dalam tubuh dan juga ditemukan pada makanan tertentu, salah satunya jeroan. Nah, tingginya kadar purin inilah yang bisa menyebabkan asam urat.

Kata ahli, semakin tingginya purin yang dihasilkan makanan yang kamu makan, maka semakin tinggi pula kadar asam urat yang dikeluarkan tubuh. Kadar purin yang tinggi dalam tubuh akan berubah menjadi kristal dan menumpuk di sekitar sendi dan jaringan tubuh lainnya. Itulah alasan sendi menjadi nyeri dan bengkak. Oleh sebab itu, pengidap asam urat mesti kurangi makan jeroan agar asam urat tak semakin memburuk.

2. Kadar Vitamin A Meningkat

 

Pada dasarnya asupan vitamin memang diperlukan tubuh agar segala fungsi tubuh bekerja dengan baik. Namun, kelebihan vitamin A bisa menimbulkan masalah tertentu, lo. Misalnya kelebihan vitamin A. Berdasarkan National Institutes of Health, jumlah vitamin A yang aman dikonsumsi perhari tak lebih dari 10.000 IU. Lalu, apa hubungannya kelebihan vitamin A dengan jeroan?

Baca juga: Daging Kambing vs Daging Sapi Lebih Sehat Mana?

Nah, ternyata kandungan vitamin A di dalam jeroan sangat tinggi. Kata ahli, konsumsi vitamin A yang berlebihan bisa menumpuk di dalam tubuh sehingga menyebabkan masalah kesehatan. Misalnya, kerusakan hati, mual, dan sakit kepala.


3. Meningkatkan Kolesterol Tubuh

Sekali lagi, bagi kamu yang suka mengonsumsi makanan ini, sebaiknya segeralah kurangi makan jeroan. Pasalnya, makanan ini memiliki kadar lemak dan kolesterol yang tinggi. Menurut rekomendasi asupan lemak dari WHO, konsumsi lemak sebaiknya tidak lebih dari 30 persen dari asupan total energi per hari.

Bila ditelisik dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementrian Kesehatan RI, takaran konsumsi lemak untuk wanita sekitar 75 gram lemak. Sedangkan pria sekitar 91 gram lemak per harinya.

Selain itu, para ahli di American Heart Association juga menganjurkan bahwa usia dewasa sebaiknya perlu menurunkan kadar kolesterol tubuh. Oleh sebab itu, konsumsi lemak semestinya tidak lebih dari 5-6 persen dari jumlah total kalori harian yang dianjurkan.

Ingat, kadar kolesterol yang tinggi bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Misalnya, menyumbat pembuluh darah, kenaikan berat badan, stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.

Baca juga: Inilah Manfaat dan Risiko Mengonsumsi Daging Merah

4. Masalah Kehamilan

Dari berbagai makanan pantangan ibu hamil, jeroan termasuk salah satu yang mesti ibu waspadai. Pasalnya, makanan ini banyak mengandung vitamin A dan retinol yang bisa menyebabkan kelainan pada janin yang dikandung, terutama pada bulan pertama kehamilan. Kata ahli, kelainan ini bisa berupa kelainan jantung, mata, hidung, sumsung tulang belakang, dan cacat pada saluran pencernaan dan ginjal.

Tak cuma itu, tingginya kolesterol dalam jeroan juga bisa menyumbat pembuluh darah ibu. Imbasnya, janin di dalam kandungan bisa kekurangan suplai oksigen dan nutrisi. Nah, bagi kamu yang tengah mengandung, kurangi makan jeroan demi terjaganya kesehatan tubuh kamu dan janin.

Kamu juga bisa mendiskusikan masalah di atas melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!