03 April 2018

4 Jenis Autis yang Perlu Diketahui

4 Jenis Autis yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta – Secara umum autis adalah ketidakmampuan berkomunikasi dengan orang lain dan memahami dunia melalui cara-cara umum yang biasa diketahui orang lainnya secara naluriah.

Biasanya tanda-tanda atau gejala awal yang menandakan kalau seorang anak mengidap autis adalah kurangnya atau keterlambatan berbahasa lisan saat usianya menginjak 1-6 tahun, penggunaan bahasa yang berulang-ulang serta memainkan permainan yang itu-itu saja, menghindari kontak mata dan tidak ada minat berinteraksi dengan teman-teman sebaya. (Baca juga Hari Autis Sedunia, Kenali dan Beri Perhatian Khusus bagi Anak)

Ternyata setelah diteliti lebih lanjut ada banyak jenis penyakit autis yang memiliki penanganan berbeda-beda. Berikut adalah beberapa diantaranya:

  1. Autistic Disorder

Sering juga disebut dengan mindblindness dimana anak yang mengidap jenis penyakit autis ini tidak memiliki kemampuan memahami permasalahan dari sudut pandang orang lain. Hidup di dunianya sendiri dan tidak memahami peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sebagian dikarenakan ketidakmampuan untuk menafsirkan emosi. Anak-anak dengan ciri sikap seperti ini bukan berarti tidak memiliki keunggulan, malahan banyak yang punya kemampuan berhitung, seni, musik dan memori yang lebih tinggi dibanding anak-anak kebanyakan.

  1. Asperger Syndrome

Tidak seperti autistic disorder, asperger syndrome lebih bisa berinteraksi dengan orang lain dan tidak memiliki masalah dalam keterlambatan berbahasa. Bahkan beberapa anak justru memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik tapi hanya pada bidang yang memang disenanginya. Sekilas orang melihat kalau asperger syndrome ini tidak memiliki empati.

Mereka memiliki empati, memahami sebuah peristiwa tapi tidak bisa memberikan respons yang umum dilakukan orang-orang. Kalau secara penampakan fisik, anak-anak yang mengidap jenis penyakit autis tipe ini masih bisa berkomunikasi secara normal tapi tidak menampakkan ekspresi, kecenderungan mendiskusikan diri sendiri ataupun hal-hal yang dianggapnya menarik.

  1. Childhood Disintegrative Disorder

Sebuah kondisi dimana anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik, bahasa dan fungsi sosialnya. Biasanya anak yang mengidap jenis penyakit autis ini mengalami perkembangan normal sampai di usia dua tahun. Setelah dua tahun, anak akan kehilangan keterampilan yang diperolehnya secara perlahan menginjak usia tiga atau empat bahkan 10 tahun.

Penyebab gangguan ini karena terjadi ketidaksinkronan kerja sistem saraf di dalam otak. Banyak para ahli yang menganggap childhood disintegratice disorder adalah sebagai bentuk perkembangan dari autis itu sendiri. Tidak seperti dua jenis autis sebelumnya, justru anak sempat memiliki kemampuan-kemampuan verbal, motorik dan interaksi sosial tetapi seiring pertambahan usia malah mengalami kemerosotan.

  1. Pervasive Developmental Disorder (Not Otherwise Specified)

Biasanya syndrome ini menjadi hasil diagnosa terakhir ketika ada tambahan dari gejala-gejala yang dialami anak salah satunya adalah interaksi dengan teman-teman imajinatif anak. Gejalanya lebih kompleks ketimbang tiga jenis autis yang diuraikan sebelumnya. Contohnya tidak bisa menanggapi perilaku orang baik secara lisan maupun non-lisan, tahan terhadap perubahan dan sangat kaku dalam rutinitas, sulit mengingat sesuatu dan lain sebagainya.

Kalau orangtua ingin tahu lebih banyak mengenai jenis-jenis autis dan bagaimana penanganan terbaik untuk anak yang mengidap jenis penyakit autis tertentu, bisa kontak langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor orangtua bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Sudah banyak para ahli, salah satunya dari Autism-Society yang menegaskan kalau autis bukanlah sebuah kekurangan seperti gangguan berpikir ataupun kecerdasan. Di mata orang-orang “normal” mungkin saja ada yang salah ataupun tidak biasa dari koordinasi indera-indera anak autis, padahal sebenarnya justru kemampuan mereka mengolah informasi lebih mumpuni ketimbang orang pada umumnya. Kesadaran pengetahuan dan penanganan autis yang perlu semakin digalakkan agar anak-anak pengidap autis dapat punya kesempatan mengembangkan diri dan menjadi mandiri seperti anak-anak lainnya.