06 June 2018

5 Komplikasi Saat Melahirkan yang Mungkin Terjadi

5 Komplikasi Saat Melahirkan yang Mungkin Terjadi

Halodoc, Jakarta – Melahirkan memang tak pernah menjadi proses yang mudah bagi ibu. Terlebih pada kelahiran anak pertama. Perasaan cemas, khawatir, dan takut pasti akan terus melanda menuju proses persalinan. Pasalnya, melahirkan tak selalu berjalan lancar seperti harapan semua ibu. Ada beberapa komplikasi saat melahirkan yang mungkin terjadi, seperti berikut ini:

Bayi Sungsang

Bayi sungsang menjadi masalah yang sering terjadi saat melahirkan. Biasanya, masalah ini terjadi pada usia kehamilan tahap akhir. Inilah mengapa ibu perlu memeriksakan kandungan secara rutin ke dokter, tentunya untuk mengetahui posisi janin di dalam rahim.

Jika ternyata bayi di dalam perut berada dalam posisi sungsang, ibu bisa mengembalikan posisinya seperti semula dengan berbagai cara alami yang disarankan oleh dokter.

Namun, jika ternyata cara tersebut tidak berhasil dan Si Jabang Bayi masih berada dalam posisi sungsang saat akan dilahirkan, proses kelahiran normal tidak bisa ibu lakukan. Solusinya, ibu bisa melahirkan si kecil melalui proses Caesar untuk mengurangi risiko cacat pada bayi.

Cephalopelvic Disproportion (CPD)

Adalah kondisi kepala hingga bahu bayi dengan ukuran yang terlalu besar untuk bisa melalui panggul ibu jika ibu memilih persalinan secara normal. Tentu saja, ini membuat proses persalinan jadi lebih lambat.

CPD sendiri disebabkan karena sang ibu mengidap diabetes dengan usia saat melahirkan di atas 35 tahun. Gaya hidup yang tidak sehat menjadi pemicu terjadinya CPD pada ibu hamil.

Sama halnya seperti bayi sungsang yang tidak bisa kembali ke posisi normal, operasi caesar menjadi satu-satunya solusi yang bisa ibu pilih saat melahirkan supaya proses persalinan tidak memakan waktu yang terlalu lama.

(Baca juga: Benarkah Pola Makan Ibu Menentukan Jenis Kelamin Janin?)

Persalinan Terhambat

Komplikasi saat melahirkan selanjutnya yang mungkin terjadi adalah terhambatnya proses persalinan. Kondisi ini sangat umum terjadi pada ibu yang baru akan melahirkan anak pertama. Perut ibu masih belum berada dalam kondisi siap melahirkan, dan kondisi ini menyebabkan tubuh ibu akan membutuhkan waktu lebih lama dalam berkontraksi.

Biasanya, dokter kandungan akan memberikan obat hormon untuk memicu kontraksi atau oksitosin agar rahim ibu menjadi lebih sering berkontraksi dan bayi di dalam perut bisa segera dilahirkan.

Fetal Distress

Tak hanya ibu, stres juga dialami bayi yang akan dilahirkan. Fetal distress adalah kondisi yang mengacu pada berbagai permasalahan persalinan. Biasanya, istilah ini digunakan oleh dokter jika detak jantung bayi mengalami gangguan.

Kondisi pelvis ibu yang belum terbuka dengan sempurna membuat janin yang sudah siap dilahirkan bisa mengalami kekurangan oksigen. Hal ini tentu saja sangat membahayakan untuk si kecil. Umumnya, proses persalinan Caesar akan direkomendasikan jika ibu mengalami komplikasi ini.

(Baca juga: Hati-Hati, Bahaya Anorexia pada Ibu Hamil!)

Bayi Terlilit Tali Pusar

Selama dalam kandungan, bayi akan selalu aktif bergerak. Kondisi ini bisa membuatnya rentan terlilit tali pusar, meski bisa terlepas dengan sendirinya selama masa kehamilan. Meski begitu, bayi yang terlilit tali pusar selama proses kelahiran akan menjadi hal yang membahayakan, terlebih ketika aliran darah ke bayi tidak lancar akibat tertekannya tali pusar. Akibatnya, bayi bisa mengalami penurunan detak jantung. Jika begitu, ibu tidak bisa melahirkan secara normal.

 

Itu tadi beberapa komplikasi saat melahirkan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk menjaga kehamilan sebaik mungkin, juga rutin memeriksakan kandungan ke dokter. Ibu juga harus memenuhi asupan nutrisi dan vitamin sesuai dengan anjuran dokter. Supaya lebih mudah, ibu bisa membelinya lewat aplikasi Halodoc. Vitamin yang ibu pesan akan diantarkan hanya dalam waktu satu jam, lho. Yuk, download aplikasi Halodoc di ponsel ibu sekarang juga!