24 August 2018

5 Syarat yang Harus Dipenuhi Jika Menjadi Donor Sperma

donor sperma

Halodoc, Jakarta - Menurut The Guardian, donor sperma menjadi pekerjaan “sampingan” paling menjanjikan untuk mendapatkan penghasilan ekstra di tahun 2011. Kok bisa? Pasalnya, di negara Barat banyak wanita dan pasangannya mengalami infertilitas. Di Inggris saja, setidaknya satu di antara tujuh pasangan punya masalah dengan kesuburan. Nah, donor sperma atau sel telur inilah yang terkadang menjadi alternatif lain yang mereka gunakan.

Baca juga: Enggak Hanya Taoge, Ini 5 Makanan Penyubur Sperma

Melansir Men’s Health, andaikan klien bisa mendapatkan sperma yang diharapkan dari pendonor, nantinya bank sperma akan membayar pendonor sebesar (Rp1,4 - 1,8 miliar). Angka yang fantastis, bukan?

Namun, jangan mengira menjadi donor sperma itu gampang. Sebab beberapa bank sperma punya prosedur ketat dan kualifikasi yang tinggi untuk menerima calon pendonor. Menurut direktur laboratorium dan  Bank of New England Cryogenic Center, seleksi donor sperma tak hanya menyoal kesehatan pendonor, tapi juga dilihat secara subjektif. Ini karena klien menginginkan sperma dari sosok pria yang “sempurna”. Masuk akal sih alasannya, pastinya klien ingin memiliki keturunan yang cerdas, sehat, dan tampan atau cantik. Ya, pokoknya mendekati sempurna.

Lalu, apa sih syarat yang mesti dipenuhi untuk menjadi pendonor sperma?

1. Seleksi Latar Belakang

 

 

Calon pendonor mesti memberitahu kondisi mereka secara detail. Mulai dari kondisi genetik, riwayat keluarga, berat badan, tinggi badan, ras, warna mata, penggunaan narkoba atau rokok, hingga riwayat pekerjaan. Nantinya pihak bank sperma akan memilih calon donor terbaik sesuai keinginan klien.

Setelah itu, pihak bank sperma akan melakukan wawancara dengan pendonor. Tujuannya jelas, untuk memastikan bahwa si pendonor masuk ke dalam kategori “orang baik”. Tak cuma itu, pihak bank juga akan menilai penampilan pendonor, lho. Jadi, bagi pendonor yang penampilannya kurang menarik, jangan harap bisa lolos di tahap ini. Kata direktur laboratorium dan Bank of New England Cryogenic Center, proses ini memang sangat subjektif.

 

2. Melihat Kondisi Fisik

 

Menurut pihak bank sperma, kebanyakan klien mereka akan meminta sperma berdasarkan warna kulit, mata, hingga rambut calon pendonor. Para klien tentunya akan memilih pria dengan penampilan menarik yang punya indeks massa tubuh ideal. Contoh kecilnya, calon pendonor yang memiliki banyak jerawat atau botak mungkin tak akan dipilih sebagai pendonor. Sekali lagi, klien benar-benar mencari sosok yang nyaris sempurna.

Baca juga: Harus Tahu Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Kualitas Sperma

 

3. Tes Kesehatan

 

Tahap selanjutnya adalah tes kesehatan. Di sini calon pendonor akan melalui tes darah untuk memeriksa masalah kesehatan yang ada dalam dirinya. Tujuannya untuk memastikan tak ada penyakit yang bisa ditularkan ke anak atau janin. Di tahap ini para ahli akan meninjau dengan cermat gaya hidup calon pendonor.

Andaikan ada perilaku yang berisiko yang dapat mengundang penyakit (seperti HIV), pastinya calon pendonor tak akan lolos di tahap ini. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan Federal Drug Administration (FDA) dan American Society for Reproductive Medicine. Katanya, pria dengan HIV, hepatitis, atau herpes enggak boleh menjadi pendonor sperma.

4. Mesti Berpendidikan

Fisik oke, kesehatan prima, penampilan nyaris sempurna, lalu apa lagi? Meski ketiganya sudah dimiliki calon pendonor, tapi kalau masalah otak alias pendidikan tak mumpuni, rasanya sulit untuk menjadi calon pendonor sperma. Enggak cuma itu saja sih, para ahli juga akan menanyakan informasi calon pendonor menyangkut hobi, minat, hingga kebiasaannya.

Singkatnya, para klien pastinya akan memilih sperma dari pria cerdas dan berpendidikan tinggi. So, calon pendonor yang berpendidikan rendah atau tanpa gelar sarjana, jangan harap bisa lolos di tahap ini. Pasalnya, para klien ingin mendapatkan anak yang cerdas dan penuh motivasi. 

Baca juga: Pengantin Baru Wajib Konsumsi Makanan Untuk Tingkatkan Kesuburan

5. Pemeriksaan Sperma

Ini merupakan tahap yang tak kalah penting. Di tahap ini para ahli akan memeriksa sperma untuk memastikan jumlahnya cukup tinggi dan sehat. Tahap ini amat berkaitan dengan usia pendonor, sebab bank sperma tak akan menerima pria yang berusia di atas 40 tahun. Alasannya jelas, sperma dari pria yang lebih tua umumnya tak lebih sehat ketimbang pria muda. Oleh sebab itu, para ahli biasanya akan memilih sperma yang berasal dari pria berusia 18-39 tahun. Bahkan, ada bank sperma yang menentukan 34 tahun sebagai batas maksimal.

Nah, sudah tahu kan syarat menjadi donor sperma, tertarik mencobanya?

Punya keluhan kesehatan atau masalah kesuburan? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!