06 July 2018

6 Trauma Akibat Kekerasan Seksual

Trauma akibat kekerasan seksual, kekerasan seksual

Halodoc, Jakarta – Kekerasan seksual adalah perilaku tidak diinginkan yang terkait dengan seks, baik disampaikan dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Ini termasuk pelecehan gender (seperti lelucon cabul), perilaku menggoda, pelanggaran seksual (seperti menyentuh area tubuh secara paksa), hingga permintaan untuk melakukan seks.

Baca juga: Orangtua Perlu Tahu, Pendidikan Seks Tidak Tabu untuk Anak

 

Kekerasan seksual bukan hanya terjadi pada wanita, melainkan juga pria. Perilaku ini tentu tidak bisa dibiarkan, sebab kebanyakan korban akan mengalami trauma yang berkepanjangan. Itu mengapa korban kekerasan seksual perlu pendampingan khusus untuk memulihkan trauma yang dialaminya.  

Berikut adalah enam trauma akibat kekerasan seksual yang perlu diketahui:

1. Depresi

Depresi adalah trauma umum yang dialami oleh korban kekerasan seksual. Trauma ini muncul dalam bentuk penyalahan diri dan perasaan negatif seperti sedih, marah, tidak bahagia, dan putus asa). Misalnya, korban merasa kejadian ini sebenarnya bisa dihindari jika ia melawan atau melarikan diri segera. Jika dibiarkan terus-menerus, penyesalan diri bisa berujung pada depresi.

2. Gangguan Makan

Kekerasan seksual juga bisa memengaruhi persepsi korban terhadap tubuhnya. Hal inilah yang bisa menyebabkan korban kekerasan seksual mengalami gangguan makan. Misalnya, menjadikan aktivitas makan sebagai bentuk pelampiasan dari trauma yang dialami. Gangguan makan yang dialami bisa berupa anoreksia nervosa, bulimia, dan binge eating.

Baca juga: Gangguan Makan yang Perlu Diketahui

3. Sindrom Trauma Perkosaan

Sindrom ini disebut juga Rape Trauma Syndrome (RTS). Ini bukanlah gangguan atau penyakit kejiwaan, melainkan respons alami dari seseorang yang sehat secara psikologis dan fisik terhadap trauma perkosaan. Gejala yang dialami biasanya berupa kebingungan mental, mudah kaget, merasa takut dan cemas, serta gangguan fisik seperti insomnia, sakit kepala, mual, dan muntah. Tak jarang, korban pemerkosaan juga mengalami ketakutan akan seks, merasa pemerkosaan tidak pernah terjadi (penolakan), hingga kehilangan gairah dan minat seksual.

4. Disosiasi

Disosiasi adalah pelepasan diri dari kenyataan (realitas). Ini adalah bentuk pertahanan yang digunakan otak untuk mengatasi trauma akibat kekerasan seksual. Trauma ini biasanya terjadi dalam bentuk amnesia sebagian, berpindah-pindah tempat dan memiliki identitas baru, hingga kepribadian ganda.

5. Hypoactive Sexual Desire Disorder

Trauma ini disingkat dengan IDD/HSDD, yaitu kondisi yang ditandai dengan menurunnya hasrat seksual atau keengganan untuk berhubungan seksual. Kondisi ini terjadi karena aktivitas seksual bisa mengingatkan korban terhadap peristiwa buruk yang dialaminya.

6. Dyspareunia

Dyspareunia adalah nyeri yang dirasakan selama atau setelah berhubungan seksual. Kondisi ini paling banyak dialami oleh wanita, meskipun pria juga berisiko untuk mengalaminya. Gejala yang dialami berupa rasa sakit pada Miss V, dan akan semakin terasa saat terjadinya penetrasi (Mr P masuk ke dalam Miss V). Kondisi ini dinamakan vaginismus, yaitu gangguan di mana otot di sekitar Miss V mengencang dengan sendirinya saat penetrasi seksual.

Baca juga: 5 Cara Menghadapi Pelecehan Seksual

Itulah enam trauma akibat kekerasan seksual. Meskipun tidak selalu mudah untuk ditangani, trauma ini bisa dikelola dengan baik jika mendapat dukungan dan bantuan yang tepat. Kalau kamu punya pertanyaan lain, gunakan aplikasi Halodoc saja. Sebab melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa berbicara pada dokter yang tepercaya kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, yuk download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!