11 February 2019

8 Cara Mendeteksi Penyakit Myasthenia Gravis pada Anak

Myasthenia Gravis, penyakit autoimun, deteksi penyakit myasthenia

Halodoc, Jakarta - Gangguan Myasthenia gravis pada anak dipicu oleh adanya gangguan penghantaran sinyal saraf menuju otot. Gangguan hantaran sinyal ini diduga disebabkan oleh suatu kondisi autoimun. Autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami kelainan, sehingga menyerang jaringan dan saraf yang sehat pada tubuh.

Melemahnya otot menunjukkan gejala utama penyakit myasthenia gravis. Indikasi tersebut memiliki kecenderungan untuk semakin parah jika otot yang lemah sering digunakan. Karena gejala myasthenia gravis biasanya akan membaik setelah otot diistirahatkan, kelemahan otot ini akan hilang dan timbul secara bergantian, tergantung pada aktivitas pengidap. Namun semakin lama, penyakit ini akan semakin parah, dan akan mencapai puncaknya beberapa tahun setelah gejala awal muncul.

Kelemahan otot ini biasanya tidak terasa sakit, tapi sebagian pengidap akan merasa nyeri saat gejala kambuh, terutama ketika melakukan aktivitas fisik. Jika seseorang diduga mengidap kondisi autoimun ini, berikut cara mendeteksi gangguan tersebut:

  1. Tes Darah

Proses ini digunakan untuk mendeteksi keberadaan antibodi yang menghambat atau merusak reseptor. Pada orang normal, kadar antibodi ini hampir tidak pernah terdeteksi. Pengidap myasthenia gravis umumnya akan memiliki kadar antibodi reseptor asetilkolin yang tinggi pada darahnya.

  1. Pemeriksaan Neurologi

Kondisi saraf kamu akan diperiksa dengan menguji refleks, kekuatan otot, sensasi sentuhan dan penglihatan, tonus otot, koordinasi, serta keseimbangan.

  1. Uji Kantung Es

Dokter biasanya akan menjalankan pengujian ini jika pengidap mengalami penurunan kelopak mata. Dokter akan menaruh kantung es di atas kelopak mata yang tertutup selama beberapa menit, kemudian mengangkatnya. Kemudian dokter akan menganalisis kelopak mata pengidap.

  1. Uji Edrofonium

Obat edrophonium chloride akan disuntikkan untuk mencegah hancurnya senyawa asetilkolin. Dengan begitu, kekuatan otot akan kembali untuk sementara. Jika kamu tidak mengidap myasthenia gravis, obat ini tidak akan memicu reaksi apapun. Cara ini hanya boleh dijalani oleh pengidap yang diduga mengidap myasthenia gravis, karena berpotensi memicu gangguan pernapasan serta detak jantung sebagai efek samping.

  1. Stimulasi Saraf Repetitif

Dokter akan melekatkan elektrode pada lapisan di atas otot, kemudian dialirkan gelombang listrik. Fungsi pengujian ini adalah mengukur kemampuan saraf untuk mengirimkan sinyal pada otot.

  1. Elektromiografi (EMG)

Tes ini akan mengukur aktivitas elektrik yang mengalir dari saraf ke otot

  1. MRI atau CT Scan

Merupakan cara mendeteksi keberadaan tumor serta keabnormalan dalam kelenjar timus.

  1. Uji Fungsi Paru

Dokter mungkin akan menjalani pengujian ini apabila dicurigai adanya gangguan pernapasan akibat penyakit ini.

Gangguan myasthenia crisis ini berpotensi menimbulkan komplikasi. Salah satu komplikasi yang cukup berbahaya dari myasthenia gravis adalah timbulnya myasthenic crisis. Kondisi tersebut terjadi ketika otot-otot pernapasan melemah, sehingga kamu akan kesulitan bernapas. Itu sebabnya, pengidap komplikasi myasthenic crisis membutuhkan pertolongan darurat dengan alat bantu pernapasan.

Bukan hanya itu, pengidap myasthenia gravis juga rentan terserang berbagai penyakit autoimun lainnya, seperti lupus, rematik, maupun masalah tiroid. Untuk itu, kamu perlu berdiskusi lebih lanjut dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!