Mitos atau Fakta Pengidap Paraplegia Enggak Bisa Memiliki keturunan?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Mitos atau Fakta Pengidap Paraplegia Enggak Bisa Memiliki keturunan?

Halodoc, Jakarta - Pernah mendengar penyakit paraplegia? Dalam dunia medis, paraplegia merupakan kondisi hilangnya kemampuan untuk menggerakan anggota tubuh bagian bawah, meliputi kedua tungkai dan organ panggul. Pengidap paraplegia bisa merasakan hal ini sementara atau bahkan permanen bergantung dari penyebabnya.

Paraplegia ini berbeda dengan paraparesis yang masih bisa menggerakan kedua tungkai meski kekuatannya berkurang. Sedangkan pengidap paraplegia, sama sekali enggak bisa menggerakkan kedua tungkai. Yang bikin resah, katanya pengidap paraplegia tak bisa memiliki keturunan. Kira-kira mitos atau fakta, ya?

Baca juga: Jaga Kesehatan Saraf, Ini Bedanya Paraplegia dengan Paraparesis

Gejala yang Bervariasi

Sebelum lebih jauh menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya untuk berkenalan dulu dengan gejala penyakit ini. Gejala paraplegia ini cukup bervariasi, bahkan bisa berubah dari hari ke hari. Ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti proses regenerasi dan penyembuhan, pengobatan, dan penyakit yang mendasari.

Nah, berikut gejala penyerta yang sering dikeluhkan pengidap paraplegia.

  • Hilangnya kemampuan motorik dari pinggang ke bawah.

  • Penurunan libido.

  • Hilangnya kemampuan sensorik (tidak dapat merasakan sensasi) pada daerah di bawah lesi.

  • Gangguan BAK dan BAB.

  • Infeksi sekunder pada bagian tubuh yang mengalami paralisis, umumnya luka dekubitus atau penyakit kulit.

  • Sensasi fantom atau sensasi aneh yang tidak dapat dijelaskan, sensasi setruman listrik, atau sensasi lainnya pada tubuh bagian bawah.

  • Terganggunya aktivitas seksual dan kesuburan.

  • Perubahan mood, pada umumnya depresi.

  • Kenaikan berat badan, terutama jika asupan kalori tidak sesuai dengan aktivitas fisik yang berkurang.

  • Abnormalitas pada sistem saraf otonom yang ditemukan dalam bentuk ketidaknormalan denyut nadi dan tekanan darah.

  • Nyeri kronis.

Baca juga: Awas, Ini 4 Faktor yang Meningkatkan Risiko Cedera Saraf Tulang Belakang

Penyebab dan Faktor Risiko Paraplegia

Dalam kebanyakan kasus, paraplegia disebabkan oleh masalah pada otak atau sumsum tulang belakang. Keduanya berfungsi untuk bekerjasama dalam menerima impuls sensorik dan mengirimkan impuls motorik. Karena itu, jika salah satunya tidak berfungsi dengan seharusnya, sinyal yang seharusnya diterima dan dikirim dapat menjadi lemah atau bahkan tidak ada.

Cedera sumsum tulang belakang ini umumnya terjadi karena kecelakaan bermotor, jatuh, cedera pada olahraga, luka tembak, hingga kecelakaan pada operasi atau tindakan medis lainnya.

Meski kebanyakan kerusakan otak dan sumsum tulang belakang bersifat traumatik, namun ada kondisi medis lain yang bisa menyebabkan kerusakan organ-organ pada sistem saraf pusat tersebut. Misalnya:

  • Stroke.

  • Infeksi otak atau sumsum tulang belakang.

  • Cedera saraf tulang belakang.

  • Penyakit genetik, seperti genetic spastic paraplegia.

  • Multiple sclerosis.

  • Spina bifida.

  • Penyakit autoimun.

  • Tumor atau penyebarannya yang menyebabkan kompresi pada tulang belakang.

  • Kelainan sumsum tulang belakang, seperti syrinx.

  • Kekurangan oksigen karena tersedak, komplikasi kelahiran, dan cedera lainnya.

Pengidap Paraplegia Tak Bisa Memiliki Keturunan?

Meski terganggunya aktivitas seksual dan kesuburan merupakan salah satu gejala dari penyakit ini, namun belum ada studi pasti mengenai pertanyaan di atas. Dengan kata lain, tak bisa dipastikan kalau pengidap paraplegia mengalami kemandulan.

Baca juga: Awas, Cedera Saraf Tulang Belakang Bisa Berujung Kematian

Yang pasti, paraplegia ini memang dapat menyebabkan masalah pada kesuburan. Contohnya, paraplegia yang disebabkan karena cedera tulang belakang. Nah, meski setiap cedera tulang belakang kasusnya berbeda-beda, namun ada kemungkinan pria jadi tidak subur.

Ketidaksuburan seorang pria setelah mengalami cedera tulang belakang, merupakan gabungan dari beberapa gangguan fungsi yang harusnya terjadi saat hubungan intim.

Cedera saraf tulang belakang ini bisa merusak saraf-saraf yang mengatur mekanisme ereksi. Sebab, mekanisme ini diatur oleh saraf dalam tulang belakang yang letaknya kira-kira setinggi punggung bawah.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!