Alami Baby Shaming Seperti Tasya Kamila? Ini Cara Hadapinya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alami Baby Shaming Seperti Tasya Kamila? Ini Cara Hadapinya

Halodoc, Jakarta - Sedang bahagia-bahagianya menikmati momen kebersamaan dengan sang buah hati, Tasya Kamila harus dilanda rasa kesal. Bagaimana tidak? Si kecil, Arrasya Wardhana Bachtiar, yang saat ini baru menginjak usia 2 bulan, mendapat baby shaming dari para warganet di media sosial. 

Baby shaming adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan body shaming yang ditujukan pada bayi. Body shaming sendiri adalah sejenis bullying yang dilakukan dengan mengomentari bentuk fisik seseorang. Meski kerap dibalut dengan nada candaan, baby shaming dapat meninggalkan luka di hati sang ibu. 

Baca juga: Anak Mengalami Cyber Bullying, Orang Tua Harus Apa?

Apalagi ibu baru seperti Tasya, yang sedang berusaha menikmati suka dan duka menjadi seorang ibu. Komentar-komentar seperti: “Kak jidat anaknya lebar, kak hidung si dedek dipencet-pencet dong biar mancung, Arrasya kurang gembul, masih kurus keliatannya,” jelas dirasa sangat mengganggu.

Meski sempat geram dan mengungkapkannya lewat sebuah postingan instagram, Tasya mengaku tidak ambil pusing. Dukungan suami dan keluarga membuatnya bisa menghadapi berbagai baby shaming yang ditujukan pada anaknya, tanpa harus terpuruk secara mental. Namun dalam sebuah wawancara, Tasya mengaku khawatir jika hal yang dialaminya juga terjadi pada ibu lain yang kurang mendapat support system sepertinya. 

Hadapi Baby Shaming dengan Cara Ini

Kemudahan mendapat informasi dan berekspresi di media sosial membuat siapa saja bisa membuat komentar dan kritikan sesuka hatinya. Kasus baby shaming Putra kecil Tasya menjadi buktinya. Pelaku baby shaming mungkin saja hanya bermaksud bercanda, iseng, atau spontan saja, tanpa berpikir panjang bahwa komentarnya akan melukai perasaan ibu dari si bayi. 

Perilaku baby shaming juga membuktikan bahwa sebaik apapun kehidupan seseorang, termasuk memiliki seorang bayi yang lucu, akan selalu ada orang yang berkomentar buruk. Mirisnya, hal itu tidak bisa dikendalikan. Satu-satunya yang bisa dikendalikan dan kelola dengan baik adalah mental atau pikiran sendiri. 

Baca juga: Tahun Ajaran Baru, Ini Tipe Anak yang Rentan Alami Bullying 

Bagaimanapun caranya, jangan biarkan komentar buruk orang lain merusak mental dan kehidupan. Maka, berikut beberapa hal yang bisa menjadi tips bagi para ibu, jika anak terkena baby shaming:

1. Jangan Merespon 

Umumnya, manusia memiliki refleks untuk merespon dan melawan ketika ada sesuatu yang mengusik. Namun, tidak melakukan apa-apa ketika orang mengatakan hal buruk tentang bayi kamu adalah cara terbaik untuk menghadapi baby shaming. 

Meski sulit menahan diri untuk tidak membela, atau menjelaskan apa yang ada di pikiran, berusahalah. Biarkan siapapun berkomentar, jangan terpengaruh, hingga mereka lelah sendiri dan menghentikan celotehan tidak berdasarnya. 

2. Jangan Salahkan Diri Sendiri

Tasya dan semua ibu baru di luar sana tentu mengalami banyak kegundahan dan kebingungan di masa-masa awal menjadi seorang ibu. 2 bulan pertama pun menjadi fase yang rentan bagi ibu mengalami baby blues, sehingga dukungan penuh dan komentar positif sebenarnya sangat dibutuhkannya.

Namun jika ada yang orang melakukannya, jangan pernah sekalipun menyalahkan diri sendiri, atau merasa telah menjadi ibu yang buruk. Sandarkan diri sepenuhnya pada pasangan dan keluarga, dan percayalah bahwa semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang salah, kecuali mereka yang melontarkan komentar buruk tanpa pikir panjang.

Jika dibutuhkan, ibu juga bisa curhat seputar baby shaming dan pengelolaan emosi dengan psikolog di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Talk to a Doctor, kamu bisa mengobrol langsung dengan psikolog yang kamu mau melalui Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Supaya Anak Tidak Jadi Pembully, Begini Cara Mendidiknya

3. Fokus pada Anak

Selain tidak menyalahkan diri sendiri, ibu juga perlu meningkatkan fokus dan kedekatan dengan sang buah hati. Ingatlah masa-masa bahagia saat mengandungnya, dan mendengar tangisannya untuk pertama kalinya. Tataplah lekat si kecil, temukan kebahagian dan kedamaian dari wajah mungilnya.

Terimalah si kecil sepenuhnya, terlepas dari berbagai kekurangan yang dikomentari orang. Sebab tidak ada manusia yang terlahir sempurna, bukan? Jadi yang perlu ibu lakukan adalah memastikannya tumbuh dan berkembang dengan baik.

4. Tutup Akun Media Sosial

Ini sebenarnya merupakan pilihan terakhir. Ibu bisa memulainya dengan mengurangi jumlah postingan foto si kecil, atau tidak membaca komentar-komentar di postingan. Namun jika dirasa hal-hal itu sulit dilakukan, mengapa tidak coba untuk tutup saja akun media sosialnya?

Dengan menutup akun, momen intim dengan si kecil mungkin justru akan terbangun dengan sangat baik. Setelah shaming mereda, usia anak sudah lebih besar, atau setelah ibu bisa membangun mental yang kuat, ibu bisa buka akun baru lagi kok.