19 March 2019

Alami Cedera Kepala, Lakukan Pertolongan Pertama Cegah Epidural Hematoma

mencegah epidural hematoma, cedera kepala

Halodoc, Jakarta - Perdarahan di dalam otak umumnya disebabkan karena adanya cedera parah pada bagian kepala, berupa kecelakaan mobil atau motor, terjatuh, kekerasan fisik (berupa pukulan tangan, dengan benda tumpul, atau tendangan langsung ke kepala), maupun kecelakaan ketika berolahraga. Perdarahan di dalam otak atau yang juga dikenal dengan nama epidural hematoma ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja. Pasalnya, selaput yang menutupi otak tidak melekat pada tengkorak, tidak seperti orangtua dan anak-anak di bawah usia 2 tahun.

Penanganan epidural hematoma dilakukan tergantung pada tingkat keparahan dan gejala yang dialami. Pertolongan pertama yang mungkin diberikan adalah operasi pembedahan tengkorak kepala untuk menguras pendarahan dan mengurangi tekanan pada otak. Sebelum dibedah, langkah awal pengobatan untuk mengurangi pembengkakan adalah dengan obat manitol, gliserol, dan garam hipertonik. Setelah hematoma diangkat, kemudian akan diberikan obat untuk mencegah kejang. Kemungkinan pengidap akan mengonsumsi obat ini selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Baca juga: Sering Sakit Kepala Mungkin Saja Gejala Epidural Hematoma

Apabila perdarahan otak ini menyebabkan pengidap mengalami cacat atau luka seperti lemah dan kesulitan berjalan, kelumpuhan, serta kehilangan indra perasa. Untuk menanganinya, kamu akan dirujuk pada ahli terapi fisik yang akan membantu latihan dan kemampuan fisik kamu.

1. Pembedahan

Pada kebanyakan kasus, kamu akan disarankan untuk mengambil langkah pembedahan untuk mengevakuasi epidural hematoma. Jenis operasi yang biasa dilakukan adalah kraniotomi hematoma dan menurunkan tekanan pada otak. Sedangkan pada sebagian kasus lain, dokter bedah akan merekomendasikan aspirasi, yaitu dilakukannya pembuatan lubang kecil di kepala untuk menyedot hematoma. Prosedur ini biasanya hanya efektif pada hematoma yang berukuran sangat kecil dan tidak menyebabkan penekanan pada otak.

2. Pengobatan

Sebelum dilakukannya kraniotomi atau aspirasi, kamu akan diresepkan pengobatan untuk mengurangi peradangan dan tekanan di dalam tulang kepala. Setelah dilakukan evakuasi hematoma, kamu akan diresepkan pengobatan anti-kejang untuk membantu mencegah kejang. Kejang merupakan komplikasi akibat cedera kepala.

Baca juga: Cedera Benturan Bisa Disebabkan Hematoma

3. Terapi Rehabilitatif

Kamu biasanya akan disarankan untuk berdiskusi dengan terapis fisik, terapis okupasi, atau terapis lainnya. Hal ini bermanfaat untuk menangani gejala dan disabilitas akibat dari cedera seperti kelemahan, inkontinensia, kesulitan berjalan, kelumpuhan, dan hilangnya sensasi.

Epidural hematoma dapat dihindari dengan mencegah terjadinya cedera kepala. Beberapa upaya yang bisa kamu lakukan berikut akan menurunkan risiko mengalami cedera kepala:

  • Gunakan alat pelindung diri saat berkendara atau berolahraga.

  • Hindari mengonsumsi alkohol, terutama saat akan berkendara.

  • Berhati-hati dalam beraktivitas, dan bersihkan lingkungan dari benda-benda yang dapat membuat kamu terjatuh.

Selain itu, hal yang perlu kamu waspadai adalah komplikasi yang disebabkan oleh epidural hematoma. Orang yang mengalami epidural hematoma berisiko mengalami gejala tambahan akibat cedera otak, misalnya kejang. Biasanya, gejala tambahan ini muncul hingga 2 tahun setelah pengidap mengalami kecelakaan dan pada beberapa kasus dapat menghilang dengan sendirinya. Beberapa komplikasi yang akan dialami meliputi:

  • Koma.

  • Herniasi otak, yaitu kondisi ketika bagian otak bergeser atau pindah dari tempat awalnya.

  • Hidrosefalus, yaitu kondisi ketika terjadi peningkatan cairan serebrospinal di dalam otak yang mengganggu fungsi otak.

  • Lumpuh.

  • Mati rasa.

Baca juga: Jarang Terjadi, Pendarahan Otak Bisa Dikenali dengan Gejala Ini

Itulah yang perlu kamu waspadai mengenai epidural hematoma. Pencegahan juga dapat kamu lakukan dengan berdiskusi pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.