• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini yang Harus Diperhatikan saat Isolasi di Rumah Terkait Virus Corona

Ini yang Harus Diperhatikan saat Isolasi di Rumah Terkait Virus Corona

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Hingga hari ini (16/3), 8 pasien virus corona di Indonesia telah dinyatakan sembuh. Meskipun angka terbilang masih sedikit, namun hal ini menegaskan bahwa virus corona penyebab COVID-19 bisa disembuhkan. 

Pasien yang dinyatakan positif mengidap COVID-19 diisolasi di berbagai rumah sakit di Indonesia. Tujuannya jelas, untuk mencegah penyebaran virus misterius tersebut.

Namun, bagaimana dengan orang yang mengeluh gejala infeksi saluran pernapasan atau jenis sakit tenggorokan yang tergolong ringan (salah satu gejala COVID-19)? Sebenarnya kelompok ini secara volunter atau rekomendasi petugas kesehatan, untuk melakukan isolasi di rumah. 

Pertanyaannya, apa yang harus diperhatikan ketika melakukan isolasi di rumah atau self isolation

Baca juga: Cara Hadapi Ancaman Virus Corona di Rumah

Catat, Berbeda dengan Karantina

Sebelum lebih jauh, ada baiknya untuk memahami terlebih dahulu mengenai self isolation atau isolasi diri. Hal yang perlu digarisbawahi, self isolation terkait virus corona ini berbeda dengan karantina. Karantina berarti menghindari diri dari orang lain atau situasi sosial sebanyak mungkin.

Ada beberapa poin kapan kamu perlu melakukan karantina. Salah satunya bila berkontak dengan pengidap COVID-19, tetapi tubuh masih sehat atau setelah berpergian dari negara terjangkit. Lalu, bagaimana dengan isolasi diri terkait virus corona? 

Nah, isolasi diri di rumah terkait virus korona artinya, tinggal di di dalam rumah dan menghindari kontak dengan orang lain. Dengan kata lain, tinggal di rumah, tidak pergi kerja, sekolah, atau ke tempat-tempat umum lainnya.

Tujuannya jelas, untuk mencegah penularan COVID-19 pada orang lain. Pertanyaannya, kapan perlu melakukan isolasi diri terkait virus corona di rumah? 

  • Jika memiliki gejala COVID-19.

  • Sebelum dites untuk mendeteksi COVID-19.

  • Ketika menunggu hasil tes.

  • Jika memiliki hasil tes positif untuk COVID-19.

Self-isolation, Apa yang Harus Dilakukan?

Hal yang perlu ditegaskan, banyak yang harus diperhatikan terkait self isolation terkait gejala corona (sakit tenggorokan ringan) di rumah. Nah, berikut ini tips yang bisa dilakukan: 

  • Ruangan isolasi (pasien) idealnya terpisah dengan anggota keluarga yang lain.

  • Jaga jarak dengan orang sehat minimal 1 atau 2 meter. 

  • Selalu menggunakan masker untuk mencegah penyebaran virus.

  • Terapkan etika batuk dan bersin, menggunakan tisu, langsung buang ke tempat sampah tertutup, dan cuci tangan sampai bersih.

  • Hindari pemakaian barang pribadi bersama. Misalnya, alat makan, alat mandi, linen (pakaian dan kain lainnya), dan lainnya. 

  • Cuci alat makan dengan air dan sabun hingga bersih dan kering. 

  • Tissue, sarung tangan, dan pakaian yang terpakai oleh pasien harus dimasukkan ke wadah linen khusus, dan terpisah. 

  • Cuci pakaian dengan mesin cuci suhu 60–90 derajat Celsius dengan deterjen. 

  • Pembersihan dan desinfektan rutin area yang tersentuh.

  • Batasi jumlah perawat yang merawat pasien, pastikan perawat selalu dalam kondisi sehat.

  • Batasi pengunjung atau membuat daftar yang mengunjung. 

  • Tetap berada di rumah dan dapat di kontak. 

  • Jika harus keluar rumah, gunakan masker, dan hindari menggunakan transportasi umum dan hindari tempat ramai.

  • Buatlah sirkulasi udara dengan baik atau ventilasi ruangan yang baik (buka jendela). 

Baca juga: Flu Vs COVID-19, Mana yang Lebih Berbahaya?

Selain hal-hal di atas, ada pula self monitoring yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Direkomendasikan untuk seseorang yang terpapar kasus COVID-19 positif, atau memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit.  

  • Durasi : 14 hari dari kontak atau paparan terakhir. 

  • Jika muncul gejala, lakukan self-isolation  

  • Kontak/telepon layanan kesehatan. 

Baca juga: Potensi Virus Corona di Transportasi Umum dan Pencegahannya

Saat Isolasi Diri Kuatkan Sistem Imun

Virus corona dan virus lainnya punya satu kesamaan. Virus bersifat self limiting disease, alias bisa mati dengan sendirinya. Bagaimana dengan obat-obatan? Obat-obatan tersebut hanya ditujukan untuk mengatasi gejala yang timbul. Lalu, bagaimana cara membunuh virus tersebut?

Singkatnya, kalau daya tahan tubuh baik, maka tubuh melawan virus tersebut. Nah, pertanyaan selanjutnya, bagaimana mana cara meningkatkan sistem imun atau kekebalan tubuh? Tidak sulit, tentunya dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti:

  • Istirahat yang cukup. Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur 7–8 jam dan remaja sekitar 9–10 jam.

  • Perbanyak makan sayur dan buah. Kandungan vitamin dan mineral sayur dan buah memperkuat sistem imun tubuh.

  • Hindari Stres. Stres yang tidak terkendali dan berkepanjangan bisa meningkatkan hormon kortisol. Dalam jangka panjang, hormon kortisol ini bisa menurunkan kekebalan sistem imun.

  • Hindari rokok dan alkohol. Paparan asap rokok dan alkohol secara berlebih dapat merusak sistem imun.

Baca juga: 10 Fakta Virus Corona yang Wajib Diketahui

Cara-cara meningkatkan sistem imun di atas, juga bisa dilakukan oleh orang sehat yang ditambah dengan:

  • Rutin berolahraga. Rekomendasi 30 menit setiap hari. Olahraga yang murah dan mudah seperti berjalan kaki.

Hal yang perlu ditegaskan, self isolation ini hanya direkomendasikan untuk gejala awal corona seperti sakit tenggorokan ringan. Andaikan gejala tidak membaik, bahkan semakin berkembang, segeralah temui dokter atau petugas kesehatan untuk penanganan yang tepat. 

Yuk, pastikan sakitmu bukan karena virus corona! Andaikan dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan kepada dokter. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa bertanya langsung pada dokter lewat atau melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit rujukan COVID-19 yang dekat tempat tinggalmu melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Referensi: 

Self Isolation. Dr. dr. Erlina Burhan MSc. Sp.P(K). Diakses pada 2020. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI - RSUP Persahabatan, Satgas Waspada dan Siaga COVID-19 PB IDI .
Health Service Executive. Diakses pada 2020. Self-isolation and self-quarantine.
BBC. Diakses pada 2020. Coronavirus: Should I self-isolate and how do I do it?