• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Pandemi COVID-19 Tingkatkan Diabetes pada Remaja
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Pandemi COVID-19 Tingkatkan Diabetes pada Remaja

Alasan Pandemi COVID-19 Tingkatkan Diabetes pada Remaja

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 17 November 2022

“Remaja yang pernah terinfeksi COVID-19 berisiko lebih tinggi mengalami diabetes, meskipun mereka tidak pernah mengidap penyakit tersebut sebelumnya. Menurut riset virus corona diduga dapat menyerang sel-sel pankreas.”

Alasan Pandemi COVID-19 Tingkatkan Diabetes pada RemajaAlasan Pandemi COVID-19 Tingkatkan Diabetes pada Remaja

Halodoc, Jakarta – COVID-19 bukan hanya bisa menyerang pernapasan, tapi juga bisa membuat seseorang rentan terkena berbagai penyakit. Menurut sebuah studi baru-baru ini di Morbidity and Mortality Weekly Report, infeksi yang disebabkan oleh virus corona tersebut bisa meningkatkan risiko diabetes di kalangan anak-anak dan remaja.

Meskipun pengidap diabetes sudah diketahui berisiko lebih tinggi mengalami COVID-19 yang parah, bukti yang berkembang menunjukkan bahwa penyakit tersebut bisa menyebabkan diabetes baru. 

Pada studi sebelumnya sudah ditemukan bahwa rata-rata 14 persen orang dewasa yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, mengalami serangan diabetes baru. Hal itu ternyata tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa saja, tapi juga pada anak-anak remaja.

Menyerang Sel-Sel Pankreas

Menurut Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat (AS), penelitian selama dua tahun terakhir pandemi menunjukkan, COVID-19 dikaitkan dengan gejala diabetes yang lebih buruk bagi mereka yang sudah mengidap penyakit tersebut. 

Di samping itu, laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan risiko diabetes, khususnya untuk anak muda di bawah 18 tahun. Hal ini menurut data AS yang dikumpulkan selama pandemi dari Maret 2020 hingga akhir Juni 2021.

Melansir dari JAMA Network Open, menurut database Health Verity yang memiliki data untuk hampir 900.000 pasien anak, sekitar setengahnya mengidap COVID-19 antara Maret 2020 dan Juni 2021. Di antara pasien dengan COVID-19, diagnosis diabetes baru adalah 31 persen lebih mungkin daripada mereka yang tidak memiliki penyakit.

Menurut penulis studi, COVID-19 bisa secara langsung menyebabkan diabetes baru dengan menyerang sel pankreas yang mengekspresikan reseptor enzim pengubah angiotensin 2 (ACE2). Ini adalah adalah enzim yang menempel pada permukaan sel beberapa organ, seperti paru-paru, jantung, ginjal, dan usus. Semakin banyak ACE2 pada pankreas bisa menyebabkan kerusakan parah pada organ tersebut. Pankreas yang rusak tidak bisa menghasilkan insulin yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah.

Selain itu, stres hiperglikemia akibat infeksi COVID-19 juga bisa menjadi alasan di balik meningkatnya diabetes pada remaja yang mengalami COVID-19. Stres hiperglikemia adalah kondisi tingginya kadar gula dalam darah yang muncul pada saat seseorang mengidap suatu penyakit, padahal orang tersebut terbukti tidak mengidap diabetes sebelumnya. 

COVID-19 juga bisa mengubah metabolisme glukosa yang bisa memicu diabetes. Penulis peneliti mencatat, infeksi virus tersebut bisa menyebabkan prediabetes berkembang menjadi diabetes.

Itulah mengapa para dokter dianjurkan untuk waspada dan melakukan skrining diabetes pada anak-anak dan remaja yang memiliki riwayat infeksi COVID-19.

Waspadai Gejalanya

Gejala diabetes sebenarnya tergantung pada seberapa tinggi kadar gula darah. Pada beberapa orang, mereka tidak mengalami gejala apalagi bila mereka memiliki prediabetes atau diabetes tipe 2. Namun, diabetes tipe 1 biasanya menimbulkan gejala secara cepat dan lebih parah.

Karena sering kali tidak bergejala, orang tua diharapkan waspada bila anak pernah terkena COVID-19. Sebaiknya periksakan kadar gula darah anak secara berkala. Segera temui dokter bila anak mengalami gejala diabetes berikut:

  • Merasa lebih haus dari biasanya.
  • Sering buang air kecil.
  • Berat badan menurun, padahal tidak sedang diet.
  • Merasa lelah dan lemah.
  • Mudah tersinggung atau mengalami perubahan suasana hati lainnya.
  • Penglihatan kabur.

Tips Mencegah Diabetes pada Remaja Setelah COVID-19

Agar anak yang pernah terinfeksi COVID-19 bisa terhindar dari diabetes, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Berusahalah untuk menurunkan berat badan dengan cara yang sehat bila memiliki kelebihan berat badan.
  • Berolahraga secara teratur. Tips ini bisa membantu menjaga sensitivitas insulin dan berat badan, sehingga mencegah diabetes.
  • Ubah pola makan menjadi lebih sehat secara bertahap. Misalnya, mulai kurangi minuman manis dan perbanyak makan sayur.

Itulah penjelasan mengenai COVID-19 yang bisa menyebabkan diabetes pada remaja. Untuk memeriksakan kondisi kesehatan anak, ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc saja. Caranya, tinggal buat janji di rumah sakit pilihan ibu melalui aplikasi. Ibu bisa menentukan dokter dan waktu kunjungan yang diinginkan. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

banner halodoc
Referensi:
JAMA Network Open. Diakses pada 2022. COVID-19 Linked With Increased Incidence of Youth Diabetes.
CTV News. Diakses pada 2022. Type 1 diabetes risk increases in young people following COVID-19 infection, studies suggest.
MedRxiv. Diakses pada 2022. Highly ACE2 Expression in Pancreas May Cause Pancreas Damage After SARS-CoV-2 Infection.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diabetes.
Wexner Medical Center. Diakses pada 2022. Why are people developing diabetes after having COVID-19?