20 March 2018

Alasan Pola Asuh Otoriter Enggak Baik untuk Anak

Alasan Pola Asuh Otoriter Enggak Baik untuk Anak

Halodoc, Jakarta – Memang pada dasarnya setiap orangtua berhak memilih jenis pola asuh untuk diterapkan dalam membesarkan anaknya. Mulai dari pola asuh otoriter, permisif, atau autoritatif, sah-sah saja kok dipilih sebagai pedoman mendidik Si Kecil. Namun, sebelum memilih pola asuh tersebut, ada baiknya jika berkenalan dahulu agar tahu plus-minusnya dari pola asuh yang akan dipilih.

  1. Pola Asuh Permisif

Menurut ahli, pola asuh ini enggak memberikan batasan yang tegas pada anak. Biasanya orangtua akan mengikuti apapun yang anak inginkan, sehingga Si Kecil cenderung enggak memiliki keteraturan dan kemampuan untuk meregulasi diri. Enggak cuma itu, orangtua biasanya juga memberikan kebebasan pada anak dan memberikan tuntutan yang minim kontrol pada perilaku anak.

  1. Pola Asuh Otoriter

Orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter, enggak memberikan ruang diskusi pada anak. Dengan kata lain, peraturan dibuat untuk mengontrol anak, dan sering kali terbilang keras dengan alasan mendidik. Orangtua dengan pola asuh otoriter cenderung memberikan kontrol yang sangat kuat pada perilaku anak. Anak harus patuh dan mengikuti apa yang dikatakan orangtua. Jika melanggar, maka enggak jarang konsekuensinya adalah hukuman fisik.   

  1. Pola Asuh Autoritatif

Nah, yang satu ini merupakan pola asuh yang paling disarankan ahli untuk orangtua praktikkan. Pola asuh ini memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten. Selain itu, pola asuh autoritatif enggak menggunakan kekerasan dalam mengasuh anak. Orangtua akan mendorong adanya diskusi dengan anak. Contohnya, seperti menjelaskan pada Si Kecil mengapa orangtua memberikan aturan tertentu. Sederhananya, orangtua enggak membebaskan dan menerima begitu saja perilaku anak, tapi juga enggak memberikan kontrol yang berlebihan. Menariknya, anak akan diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggungjawab pada pilihannya.


Otoriter Bikin Anak Agresif

Pola asuh otoriter umumnya enggak memberikan kesempatan anak memilih. Enggak cuma itu, pola asuh ini juga biasanya menyertakan hukuman fisik yang bisa berdampak buruk pada fisik dan mental anak. Menyangkut mental, cara didik ini bisa membuat anak  berprilaku agresif, tak percaya diri, dan pemalu.

Menurut ahli, agresivitas ini akan terbentuk dari kemarahan atau perasaan negatif yang tertumpuk. Nah, seiring anak mendapatkan hukuman fisik, maka mungkin saja ia menjadi marah dengan keadaan, lalu menyalurkannya dalam bentuk agresivitas pada orang lain. Ujung-ujungnya, pola asuh otoriter akan membuat anak kurang memiliki motivasi internal untuk menentukan perilaku yang tepat. Alhasil, anak akan merasa takut dan cemas serta kurang terpenuhinya rasa aman dan kasih sayang yang mendasar.

Lalu, bagaimana dengan dampak fisiknya? Yang satu ini dijamin akan membuat kamu menyesal. Dampak pada mental mungkin bisa sembuh seiring bergulirnya waktu, tapi bagi fisik lain ceritanya. Menurut ahli, hukuman fisik bisa membuat anak luka, cedara, bahkan cacat seumur hidup.

Jauh Dari Kebahagiaan

Hasil studi dari University College London mengatakan, anak yang sejak kecil selalu dikontrol kehidupannya, ternyata tidak bahagia dan memiliki kesehatan mental yang rendah. Bahkan, efek jangka panjangnya amat memperihatinkan. Kata ahli, efek jangka panjang dari pola asuh otoriter mirip dengan kondisi mental orang yang pernah ditinggal meninggal oleh seorang yang dekat dengannya. Menyedihkan, bukan?

Pada dasarnya memang enggak ada satu tipe pola asuh yang ideal. Sebagai orangtua, bisa saja mengombinasikan beberapa tipe pola asuh sesuai dengan kondisi anak. Misalnya, menerapkan pola asuh otoriter untuk anak yang memiliki masalah perilaku yang berkaitan dengan aturan jam malam.

Yang perlu diingat bila ingin menerapkan pola asuh otoriter, meskipun di mata kamu anak-anak enggak punya pengalaman, tapi seharusnya mereka tetap diberikan hak untuk memberikan pendapat.

Punya masalah kesehatan dan ingin bertanya pada ahlinya? Orangtua bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc untuk berdiskusi mengenai masalah ini. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.