21 August 2018

Anak Krakatau Erupsi, Waspada Bahaya Abu Vulkanik Bagi Kesehatan

anak gunung krakatau meletus, bahaya abu vulkanik,gunung krakatau

Halodoc, Jakarta - Karena letaknya di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), tak jarang Indonesia mengalami gempa bumi atau letusan gunung berapi. Nah, dari banyaknya gunung berapi di Tanah Air, Anak Gunung Krakatau hingga kini masih aktif mengeluarkan letusan.

Pada Sabtu (18/08) lalu, gunung yang letaknya di Selatan Sunda ini bahkan erupsi sebanyak 576 kali dalam sehari. Menurut ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tinggi letusannya mencapai 100 - 500 meter dari puncak kawah. Letusan ini juga disertai dengan lontaran pasir, batu pijar, abu vulkanik, dan suara dentuman.

Baca juga: Hidup Lebih Sehat dengan Menjaga Kesehatan Paru-paru

Untungnya, meski sering meletus dalam sehari, letusan itu tak ada yang menimbulkan kerusakan. Sebab letusannya yang terjadi hanya dalam skala kecil, tapi beruntun. Meski begitu, abu vulkanik yang dikeluarkan dari gunung ini enggak boleh dianggap enteng. Apalagi bagi kamu yang tinggal di daerah yang terpapar oleh abu tersebut.

Lalu, apa sih bahaya abu vulkanik yang keluar saat Anak Gunung Krakatau meletus?

1 Mengiritasi Kulit

 Abu vulkanik yang keluar ketika gunung berapi meletus terdiri dari beragam kandungan. Mulai dari silika, mineral, dan bebatuan. Nah, unsur yang paling umum seperti natrium, kalsium, kalium, magnesium, florida, sulfat, dan klorida. Ingat, bahan-bahan tersebut bersifat asam yang bisa menimbulkan iritasi.

Enggak cuma itu, selain bersifat asam abu vulkanik juga terdiri dari bermacam debu, partikel dan pollen yang bisa menimbulkan alergi. Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin, bahaya abu vulkanik pada seseorang yang berbakat alergi, bisa meningkatkan risiko mengalami alergi bila terpapar bahan-bahan tersebut.

2. Berakibat Fatal bagi Paru

 Ketika Anak Gunung Krakatau meletus, letusan itu akan mengeluarkan gas seperti sulfurdioksida (S02), hidrogen sulfide (H2S), karbonmonoksida (CO), nitrogen (NO2), dan karbondioksida (CO2). Kata ahli, semua zat ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Sedangkan abu vulkanik beda lagi, abunya mengandung mineral kuarsa, kristobalit atau tridimit. Zat ini merupakan kristal silika bebas atau silikon dioksida (SiO2) yang bisa menyebabkan penyakit paru yang fatal atau silikosis. Kata ahli, abu silikosis sangat halus dan menyerupai pecahan kaca.  

Baca juga: Waspada Penyakit Asidosis Respiratorik yag Menyerang Paru-paru

Penyakit yang umum terjadi pada pekerja tambang ini sangat berbahaya. Biasanya pengidapnya akan mengalami gejala seperti iritasi pada hidung, meler, sakit tenggorokan yang disertai batuk kering, sesak napas, dan mengi dengan dahak berlebihan.

3. Ganggu Pernapasan

Menurut ahli kesehatan paru, bahaya abu vulkanik dari letusan gunung  berapi juga bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan paru. Debu vulkanik sendiri berukuran amat kecil, kira-kira kurang dari 10 mikron. Debu dengan uluran ini amat berpotensi mengganggu pernapasan. Sementara itu, debu dengan ukuran kurang dari lima mikron lebih gawat lagi. Debu super kecil ini bisa menembus saluran pernapasan bagian bawah atau organ paru-paru.

 4. Efek Akut dan Kronik

 Abu vulkanik seperti yang keluar dari ketika Anak Gunung Krakatau meletus,  bisa menimbulkan dampak akut dan kronik bagi kesehatan. Menurut dokter ahli pernapasan, efek akut ini terdiri dari iritasi saluran dan gangguan napas. Gejalanya bisa berupa hidung berlendir, sakit tenggorokan, batuk kering, hingga sesak napas. Efek akut ini juga akan diidap oleh seseorang yang sudah memiliki gangguan pernapasan. Misalnya, bronkitis, emfisema, asma, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) lainnya.

Baca juga: Bukan Cuma Paru-paru, Tuberkulosis Juga Serang Organ Tubuh Lain

Lain efek akut, lain pula kronik. Efek yang satu ini disebabkan oleh pajanan abu vulkanik dalam waktu yang relatif lama. Awas, bahaya abu vulkanik yang bisa berefek kronik ini dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru. Kata ahli, pajanan abu vulkanik ini biasanya memerlukan waktu tahunan hingga dapat mengakibatkan PPOK. Tak cuma itu, efek kronik juga bisa menyebabkan silikosis pada jaringan paru.

Punya keluhan kesehatan pada saluran pernapasan? Jangan panik, kamu bisa lho bertanya langsung pada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!