Anak Mengidap Autis, Orangtua Lakukan 5 Hal Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Anak Mengidap Autis, Orangtua Lakukan 5 Hal Ini

Halodoc, Jakarta - Coba tebak, kira-kira berapa jumlah pengidap autisme secara global? Menurut data dari WHO, autisme terjadi pada 1 dari 160 anak di seluruh dunia. Cukup banyak, bukan? 

Hal yang perlu dipahami, menjadi orangtua dari anak yang mengidap autis tidaklah mudah. Banyak hal yang mesti dilakukan, dipertimbangkan, ataupun dipahami. Mulai dari terapi hingga cara membesarkan Si Kecil. 

Nah, berikut beberapa hal yang mungkin bisa ibu lakukan ketika mengetahui anak didiagnosis dengan autisme. 

1. Slow Down! 

Menerima kabar kalau Si Kecil mengidap autis bukanlah hal yang mudah. Sangat wajar bila orangtua merasa sedih, panik, apapun namanya yang membuat perasaan jadi kacau. 

Mungkin banyak orang-orang disekeliling ibu yang menyarankan pentingnya intervensi dini. Pada dasarnya, memang ada kebenaran di dalam saran tersebut, tetapi tak ada salahnya untuk menarik napas terlebih dahulu. Tujuannya jelas, agar ibu bisa memahami kenyataan mengenai kondisi anak. 

Singkat kata, jangan panik hanya karena ibu belum memulai puluhan jenis terapi, sehari setelah anak didiagnosis mengidap autis. 

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Inilah Penyebab Autisme pada Anak

2. Bertukar Pengalaman

Bertemu atau bertukar pengalaman dengan orangtua lain yang memiliki anak autis amat bermanfaat. Mendengar orangtua lain berbicara mengenai anak mereka yang mengidap autis mungkin seperti menatap cermin. Tak ada hal-hal yang bisa menghibur diri. 

Akan tetapi, lama-kelamaan tindakan ini bisa membuat ibu lebih merasa tenang kok. Bertukar pengalaman dengan orangtua lain, artinya ibu mendapatkan wawasan baru mengenai cara membesarkan Si Kecil yang tengah mengidap autis.  

3. Jadilah orangtua, Bukannya Tutor

Secara teori, ibu memang harus mempraktikkan semua komunikasi dan latihan perilaku yang direkomendasikan para profesional di rumah. Namun, ada kalanya hal-hal ini justru membuat ibu lelah atau bahkan stres. Oleh sebab itu, jadilah Ibu atau orangtua untuk anak terlebih dahulu, alih-alih menjadi tutor dengan berbagai macam saran dari profesional. Ingat, anak membuatkan kita lebih dari mereka membutuhkan pelajar untuk berkomunikasi atau hal lainnya. 

4. Jangan Mengubah Diri Si Kecil

Ada garis tipis antara keinginan untuk membantu anak atau “menavigasi” mereka dari untuk mengerti dunia non-autis. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan sekali-kali mengubah diri anak untuk menjadi anak yang “normal”. Biarkan mereka melakukan apa yang diinginkan untuk bersantai. 

Sebab, bila Ibu memaksakan kehendak atau menekan anak, justru tindakan ini bisa membuat anak merasa bersalah. Ingatlah, autisme tidak bisa disembuhkan, kita dan masyarakatlah yang perlu berubah. 

5. Bersiaplah untuk Menyesuaikan Komunikasi

Berkomunikasi dengan anak yang mengidap autis, ada kalanya tidak mudah. Mereka memerlukan waktu lebih untuk memahami apa yang dikatakan orang lain. Oleh sebab itu, carilah cari terbaik untuk menyesuaikan komunikasi dengan dirinya. 

Misalnya, mengajukan pertanyaan pada mereka lebih lambat dan jelas. Agar komunikasi lebih efektif, Ibu kok meminta bantuan profesional untuk mempelajari cara berkomunikasi dengan Si Kecil. Ibu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Mudah, kan?

Baca juga: Inilah 6 Terapi untuk Tangani Autisme pada Anak

Tidak Merespon hingga Menghindari Kontak Mata

Mengetahui anak didiagnosis autisme memang berat. Namun, lebih dini mengetahui anak mengidap autisme, berarti ibu bisa mempersiapkan segala hal yang ibu dan anak butuhkan. 

Maka dari itu, tak ada salahnya untuk berkenalan dengan gejala-gejala autisme. Andaikan Ibu menukan gejala-gejala di bawah ini, segeralah temui dokter anak untuk mendapatkan penanganan dan saran medis yang tepat. 

Nah, berikut beberapa gejala autisme yang perlu diketahui:

  1. Tidak merespon bila namanya disebut. Anak yang normal akan merespon bila namanya disebut. Hanya 20 persen anak yang mengidap autis akan merespon bila namanya disebut.

  2. Tidak merespon emosi. Anak yang normal sangat sensitif dengan emosi orang lain. Sedangkan anak dengan autisme, lebih kecil kemungkinannya untuk tersenyum ketika menanggapi senyuman orang lain.

  3. Tidak meniru kebiasaan orang lain. Anak dengan autisme tidak suka meniru. Anak dengan kondisi normal cenderung meniru ketika seseorang tersenyum, menepuk, ataupun melambaikan tangan.

  4. Tidak suka bermain yang “berpura-pura”. Anak perempuan berumur dua atau tiga tahun biasanya suka mengasuh boneka miliknya, atau berperan sebagai seorang “ibu”. Sedangkan anak dengan autisme, hanya fokus pada boneka tersebut.

Selain hal-hal di atas, ciri-ciri autisme juga bisa ditandai dengan:

  • Lebih senang menyendiri, seperti ada di dunianya sendiri.

  • Cenderung tak memahami pertanyaan atau petunjuk sederhana. 

  • Sering mengulang kata (echolalia), tapi tak memahami penggunaannya secara tepat. 

  • Menghindari dan menolak kontak fisik dengan orang lain. 

  • Tak bisa memulai atau meneruskan percakapan, bahkan hanya untuk meminta sesuatu. 

  • Enggan berbagi, bermain, ataupun berbicara dengan orang lain.

  • Sering menghindari kontak mata dan kurang menunjukkan ekspresi.

  • Nada bicaranya tidak biasa, misalnya datar. 

  • Sering menghindari kontak mata. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Motherandbaby.co.uk. Diakses pada 2019. 13 Things I Wish I'd Known When My Son was Diagnosed with Autism. 
WebMD. Diakses pada 2019. What Are the Symptoms of Autism?