Anak Muda Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Anak Muda Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental

Halodoc, Jakarta –  Tidak percaya? Faktanya, ada banyak faktor yang sangat bisa meningkatkan risiko anak muda mengembangkan depresi salah satunya adalah memiliki masalah yang berdampak negatif pada harga diri, seperti obesitas, masalah teman sebaya, intimidasi jangka panjang, atau masalah akademik.

Pernah menjadi korban atau kekerasan (bullying), mengidap penyakit yang berkelanjutan, seperti asma, diabetes, dan menjadi minoritas dalam lingkungan pergaulan adalah faktor-faktor yang menempatkan anak muda pada posisi rentan alami gangguan kesehatan mental.

Baca juga: Ketahui Obsesi Seksual yang Dialami Pengidap OCD

Menurut hasil survei yang dipublikasikan oleh The Royal Women Hospital, sebanyak 75 persen anak muda yang membutuhkan bantuan profesional kesehatan mental tidak memeriksakan dirinya dan membiarkan gejala gangguan. 

Tamsin Ford, psikiatri dari University of Exeter mengatakan 24 persen orang berusia lima hingga 19 tahun yang memiliki gangguan mental berada dalam keluarga yang memiliki masalah, baik secara ekonomi maupun emosi. Hanya 10 persen anak muda yang dari keluarga yang berfungsi sehat yang mengalami gangguan kesehatan mental. 

Menjaga Kesehatan Mental Sejak Dini

Kesejahteraan emosional anak-anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka. Kesehatan mental yang memungkinkan anak-anak dan orang muda untuk mengembangkan ketahanan untuk mengatasi apa pun ketika “dilempar” dalam realita. 

Baca juga: 4 Gangguan Mental yang Rentan Dialami Mahasiswa

Karenanya sebagai orang tua, sangat penting untuk aware dengan perkembangan kesehatan mental anak. Orang tua dapat mengembangkan hal-hal berikut ini sejak dini untuk meminimalkan risiko gangguan mental anak, seperti: 

  1. Menerapkan pola makan sehat dan berolahraga teratur

  2. Memiliki waktu dan kebebasan untuk bermain, di dalam dan di luar ruangan

  3. Menjaga komunikasi yang baik kepada anak, seperti menanyakan apa yang dia rasakan dan alami di keseharian 

  4. Pastikan anak merasakan kalau dia disayangi dan aman

  5. Menerima siapa pun dan menerima apa yang mereka kuasai

  6. Mengembangkan kemampuan anak untuk mengatasi masalah 

Sebagian besar hal yang terjadi pada anak-anak tidak menyebabkan masalah kesehatan mental sendiri, tetapi peristiwa traumatis dapat memicu masalah bagi anak-anak dan remaja yang sudah rentan.

Perubahan sering bertindak sebagai pemicu, seperti pindah rumah atau sekolah, kelahiran saudara baru, misalnya. Beberapa anak yang mulai bersekolah merasa senang mendapatkan teman baru dan melakukan kegiatan baru, tetapi ada juga yang merasa cemas memasuki lingkungan baru.

Baca juga: Kepribadian Narsisistik Picu Depresi Hingga Keinginan Bunuh Diri, Kok Bisa?

Remaja sering mengalami gejolak emosi ketika pikiran dan tubuh mereka berkembang. Bagian penting dari tumbuh dewasa adalah menerima siapa dirinya. Beberapa orang muda merasa sulit untuk melakukan transisi ke dewasa ini dan dapat bereksperimen dengan alkohol, obat-obatan, atau zat lain yang dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Kalau kamu pernah mengalami masalah traumatis masa kecil yang mengganggu emosi dan psikologi, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Anak Muda, Lakukan Ini untuk Kesehatan Mental

Tidak ada cara pasti untuk mencegah depresi. Namun, strategi ini dapat membantu. Kamu bisa melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Ambil langkah-langkah untuk mengendalikan stres, meningkatkan ketahanan, dan meningkatkan harga diri untuk membantu menangani masalah ketika muncul

  2. Jangkau persahabatan dan dukungan sosial, terutama di saat krisis

  3. Dapatkan perawatan pada tanda paling awal dari suatu masalah untuk membantu mencegah depresi memburuk

  4. Pertahankan perawatan yang berkelanjutan, jika disarankan, bahkan setelah gejala reda, untuk membantu mencegah kekambuhan gejala depresi