15 August 2018

Anak Mudah Lupa, Waspada Gangguan Kognitif Ringan

anak mudah lupa, demensia, penyakit mudah lupa

Halodoc, Jakarta –  Lupa adalah satu hal yang normal dan bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Pada beberapa kondisi, mudah lupa bisa terjadi karena pertambahan usia, dan rentan dialami orang yang sudah memasuki usia senja. Mudah lupa pada orang yang sudah lanjut usia bisa saja terjadi karena penurunan fungsi otak yang menyebabkan berkurangnya daya ingat, kemampuan berpikir, hingga menurunnya kecerdasan mental seseorang.

Berita buruknya, saat ini mudah lupa ternyata tidak hanya dialami lansia, sering lupa bahkan sudah menyerang orang yang usianya masih relatif muda. Sebenarnya, masalah ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, sebab ada beberapa kondisi lupa yang masih normal dan wajar terjadi. Beberapa ciri lupa yang wajar pada anak adalah lupa peristiwa dari waktu ke waktu atau lupa kejadian yang sudah lalu. Hal ini normal karena pada dasarnya memori otak manusia dibagi menjadi dua kategori, yaitu yang berisi informasi penting yang tak mungkin dilupakan dan memori yang harus kembali diingat karena tidak selalu muncul di pikiran.

Baca juga: Anak Mudah Lupa, Apa yang Salah?

Selain itu, sering lupa pada usia muda juga bisa terjadi karena kurang fokus saat menerima suatu informasi. Sehingga, otak tidak menangkap secara utuh. Alhasil, otak anak mungkin akan kesulitan untuk mengingat kembali informasi tersebut pada kemudian hari. Namun, jika reaksi lupa pada anak sudah terlalu sering dan mulai mencurigakan, ibu harus waspada.

Bisa jadi ia mengalami gangguan kognitif. Mudah lupa pada orang yang masih berusia muda sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan otak dan kemampuan kognitif. Sering lupa bisa jadi tanda adanya gangguan kognitif ringan, yaitu satu kondisi yang menyebabkan terjadinya penurunan kognitif. Hal itu berkaitan dengan sel saraf otak yang berperan sebagai organ pengingat atau pemikir.

Gangguan kognitif ringan pada seseorang bisa terjadi karena adanya kerusakan pada bagian otak. Umumnya, kerusakan yang terjadi serupa dengan yang dialami pengidap demensia. Namun karena tergolong sebagai gangguan yang cenderung ringan, masalah ini biasanya tidak akan terlalu berpengaruh pada aktivitas harian.

Gejala yang paling sering muncul dari kondisi ini adalah sering lupa di mana terakhir meletakkan barang pribadi. Melupakan janji yang sudah dibuat, hingga mudah lupa dan sulit mengingat nama seseorang. Gangguan kognitif ringan juga bisa membuat seseorang kesulitan dalam membuat jadwal dan perencanaan, bahkan mungkin sulit dalam melakukan penilaian.

Baca juga: Ini Perkembangan Ideal Anak dari 1 – 3 Tahun

Gangguan kognitif ringan memiliki gejala yang tidak spesifik, bahkan sangat umum yaitu mudah lupa. Maka dari itu, sangat penting dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh untuk memastikan kemungkinan seseorang mengalami gangguan kognitif ringan atau tidak.  Pemeriksaan ini akan melihat riwayat pengobatan, kesehatan mental, hingga riwayat demensia pada keluarga.

Penurunan kemampuan kognitif bisa terjadi pada siapa saja, tetapi sebaiknya dicegah sedini mungkin. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan fisik dan mencegah terjadinya penurunan kognitif. Di antaranya adalah rutin beraktivitas fisik, mengontrol tekanan darah dan kadar gula, berhenti merokok, serta menerapkan gaya hidup sehat dan pola makan seimbang.

Baca juga: Harus Tahu, Anak-Anak Juga Butuh Medical Check Up

Selain itu, menjaga kesehatan tubuh juga bisa dilakukan dengan rutin mengonsumsi suplemen dan vitamin tambahan. Lebih mudah beli vitamin dan produk kesehatan lain di aplikasi Halodoc. Dengan layanan antar, pesanan akan dikirim ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!