22 February 2019

Inilah Alasan Pasangan Enggan Menjalani Cek Pra Nikah

Cek Pra Nikah

Halodoc, Jakarta - Sejak kemunculan saran untuk menjalani cek pra nikah, banyak pasangan yang enggan melakukannya. Para pasangan menganggap bahwa pemeriksaan kesehatan sebelum menikah tidaklah penting. Padahal, cek pra nikah ini sangat diperlukan untuk mengetahui kesehatan reproduksi kedua belah pihak, juga untuk mengetahui kesiapan masing-masing untuk mempunyai anak. Di samping itu, cek pra nikah ini sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit menular seksual dan penyebaran HIV/AIDS.

Banyak alasan yang menjadi penyebab keengganan pasangan untuk melakukan cek pra nikah. Di antaranya karena alasan biaya pemeriksaan yang terlalu mahal, sampai kurangnya informasi yang dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Kurangnya keterbukaan pada pasangan juga menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, banyak pria atau wanita yang malu apabila ketahuan pasangannya mengidap penyakit tersebut. Para pasangan juga khawatir pernikahan akan dibatalkan jika ketahuan mengidap suatu penyakit yang merugikan pasangannya.

Padahal, jika sudah ketahuan sejak dini sebelum menikah, penyebaran penyakit ke pasangan yang sehat pun tidak akan terjadi. Pasangan akan diarahkan pada konseling, jika diketahui ada yang terserang suatu penyakit. Keputusan dapat berupa apakah pasangan mau melanjutkan pernikahan atau tidak, atau memilih solusi menggunakan kondom saat berhubungan intim, hingga memilih opsi hamil melalui cara inseminasi.

Cek kesehatan pra nikah memang belum begitu banyak dilakukan di Indonesia. Namun, apabila kamu ingin melakukannya, pemeriksaan ini terdapat di beberapa klinik, rumah sakit, maupun laboratorium pemeriksaan kesehatan swasta. Biasanya, pemeriksaan berfokus pada penyakit infeksi dan penyakit yang memengaruhi kesehatan reproduksi, serta penyakit bawaan yang mungkin diturunkan.

Berikut beberapa jenis cek kesehatan sebelum pra nikah yang biasanya dilakukan:

  1. Berbagai Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan laju endap darah atau yang dikenal hematologi rutin (complete blood count) untuk mengetahui kesehatan individu secara umum. Pemeriksaan akan memeriksa komponen darah untuk mendeteksi kondisi anemia, leukimia, reaksi inflamasi dan infeksi, penanda sel darah tepi, tingkat hidrasi, dan dehidrasi polisitemia pada individu.

Pemeriksaan hematologi rutin juga bertujuan untuk mengetahui adanya risiko melahirkan keturunan dengan thalassemia dan hemofilia. Pemeriksaan ini juga perlu diperkuat dengan pemeriksaan hemoglobin HPLC, ferritin, dan badan inklusi HbH serta hematologi.

  1. Pemeriksaan Golongan Darah dan Rhesus

Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui kecocokan rhesus dan efeknya terhadap ibu dan bayi. Jika calon pasangan memiliki rhesus yang berbeda, kemungkinan ibu akan mengandung anak dengan rhesus yang berbeda. Hal ini berbahaya bagi kesehatan anak dalam kandungan, karena dapat merusak sel darah dan menyebabkan anemia dan organ dalam bayi.

  1. Deteksi Infeksi Menular Seksual

Pemeriksaan dilakukan dengan uji VDRL atau RPR dengan menggunakan sampel darah. Keduanya berfungsi untuk mendeteksi antibodi yang bereaksi terhadap penyakit sifilis serta treponema pallidum. VDRL dapat menghasilkan hasil positif yang salah terhadap penyakit sifilis jika seseorang juga mengalami beberapa penyakit seperti HIV, malaria, dan pneumonia saat pemeriksaan.

  1. Deteksi Infeksi Hepatitis B

Pemeriksaan dilakukan dengan deteksi penanda awal infeksi Hepatitis B. Jika HBsAg menetap dalam darah selama lebih dari 6 bulan, berarti telah terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan HBsAg bertujuan untuk mencegah transmisi hepatitis B kepada pasangan melalui hubungan intim, serta dampak buruknya kepada janin seperti cacat dan kematian akibat penularan kongenital selama kehamilan.

Itulah mengapa cek kesehatan pra nikah perlu dilakukan. Jika kamu masih ragu atau masih mempertimbangkannya, kamu bisa berdiskusi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.