• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Saja Hal yang Bisa Sebabkan Distimia?

Apa Saja Hal yang Bisa Sebabkan Distimia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Distimia merupakan salah satu jenis dari gangguan mental depresi. Ada beberapa jenis depresi yang bisa menyerang seseorang, mulai dari depresi ringan hingga depresi yang cukup parah, termasuk distimia. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, sebab bisa mengganggu kualitas hidup pengidapnya hingga berisiko mengancam nyawa. 

Salah satu jenis depresi adalah depresi persisten alias distimia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi depresi yang terjadi dalam jangka waktu panjang atau bersifat kronis. Gejala yang ditimbulkan pada kondisi ini sebenarnya sama dengan depresi pada umumnya. Namun, distimia bisa berlangsung dalam waktu yang lama, bahkan hingga bertahun-tahun. 

Baca juga: Jaga Kesehatan, Ini Bedanya Gangguan Stres Akut dan PTSD

Hal yang Menyebabkan Distimia

Merasa sedih, hampa, atau putus asa adalah hal yang alami dan wajar dialami siapa saja. Namun hati-hati, jika perasaan tersebut berlangsung lama dan terus bertahan bisa berujung pada depresi. Secara umum, depresi adalah gangguan mental yang sering ditandai dengan rasa sedih berkepanjangan. Kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan membuat pengidapnya cenderung menarik diri dari pergaulan.

Depresi bukan rasa sedih biasa dan harus segera ditangani dengan tepat. Jika dibiarkan begitu saja, depresi bisa menetap dan mengganggu kualitas hidup pengidapnya. Depresi yang berlangsung dalam waktu lama atau menahun disebut dengan distimia. 

Seseorang dikatakan mengalami depresi persisten alias distimia jika muncul atau merasakan gejala depresi yang menetap dalam waktu lama. Gejala depresi terus-menerus dirasakan, setidaknya selama 2 bulan. Selain itu, pengidap depresi ini biasanya juga akan mengalami gejala yang hilang dan timbul dalam kurun waktu dua tahun atau lebih. 

Gejala depresi yang satu ini umumnya tidak selalu berat, tidak, seperti depresi mayor. Namun, orang dengan gangguan mental distimia biasanya akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan menjalani aktivitas sehari-hari. Pada kondisi yang parah, depresi bisa menyebabkan pengidapnya merasa tidak berarti, kepercayaan diri yang rendah, hingga memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.  

Penyebab pasti kondisi ini masih belum diketahui. Namun, ada faktor-faktor yang disebut bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami distimia, di antaranya:

1.Faktor Biologis 

Salah satu faktor yang diduga bisa menjadi penyebab depresi persisten adalah faktor biologis, yaitu perubahan pada organ otak. 

2.Gangguan Zat Kimia pada Otak

Distimia juga disebut berisiko terjadi karena ada gangguan zat kimia pada otak. Hal ini memiliki peran dalam menjaga suasana hati atau mood, sehingga berhubungan pula dengan depresi. 

3.Riwayat Keluarga 

Faktor genetik ternyata juga memainkan peran dalam meningkatkan risiko terjadinya depresi. Distimia disebut lebih rentan menyerang orang yang memiliki orangtua atau anggota keluarga lain dengan gangguan yang sama. 

Baca juga: Depresi dan Bipolar, Apa Perbedaannya?

4.Pengalaman Traumatis 

Seperti halnya depresi berat, peristiwa traumatis, misalnya kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan ,atau tingkat stres yang tinggi dapat memicu gangguan depresi persisten. Jika gejala gangguan ini terus bertahan atau bahkan bertambah buruk, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk mendapat pertolongan segera. 

Cari tahu lebih lanjut seputar depresi persisten alias distimia dengan bertanya pada ahli psikologi di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi psikolog atau psikiater melalui Video/Voice Call dan Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar psikologis dan sampaikan keluhan mental pada ahlinya yang terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Persistent depressive disorder (dysthymia). 
Healthline. Diakses pada 2020. Persistent Depressive Disorder (Dysthymia).
Harvard University. Diakses pada 2020. Dysthymia.