Apakah EEG dan Brain Mapping Bisa Menyebabkan Komplikasi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Apakah EEG dan Brain Mapping Bisa Menyebabkan Komplikasi?

Halodoc, Jakarta – EEG adalah tes yang mendeteksi kelainan pada gelombang otak atau dalam aktivitas listrik otak. Selama prosedur, elektroda yang terdiri dari piringan logam kecil dengan kabel tipis ditempelkan ke kulit kepala.

Elektroda mendeteksi muatan listrik kecil yang dihasilkan dari aktivitas sel-sel otak.  Selama EEG, penyedia layanan kesehatan biasanya mengevaluasi sekitar 100 halaman atau layar komputer dari aktivitas. Ini dilakukan untuk mengetahui bentuk gelombang dasar, tetapi juga memeriksa semburan energi singkat dan respons terhadap rangsangan. Selengkapnya ada di bawah ini!

Bisa Menyebabkan Kejang?

EEG telah digunakan selama bertahun-tahun dan dianggap sebagai prosedur yang aman. Tes ini tidak menyebabkan ketidaknyamanan. Aktivitas rekaman elektroda tidak menghasilkan sensasi apa pun. Selain itu, tidak ada risiko terkena sengatan listrik.

Baca juga: 8 Penyakit yang Bisa Didiagnosis Lewat Pemeriksaan EEG

Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, EEG dapat menyebabkan kejang pada seseorang dengan gangguan kejang. Hal ini disebabkan oleh lampu yang berkedip-kedip atau pernapasan yang dalam yang menjadi bagian dalam prosedur EEG. Jika kamu mendapatkan kejang, penyedia layanan kesehatan akan segera mengobatinya.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai proses EEG dan brain mapping, tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orang tua. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Risiko lain mungkin ada, tergantung pada kondisi medis spesifik kamu. Pastikan untuk mendiskusikan masalah apapun dengan penyedia layanan kesehatan Anda sebelum prosedur. Faktor atau kondisi tertentu dapat mengganggu pembacaan tes EEG. Ini termasuk:

  1. Gula darah rendah (hipoglikemia) disebabkan oleh puasa.

  2. Gerakan tubuh atau mata selama tes (tetapi ini jarang, jika pernah, maka secara signifikan mengganggu interpretasi tes).

  3. Penerangan, terutama yang terang atau berkedip.

  4. Obat-obatan tertentu, seperti obat penenang.

  5. Minuman yang mengandung kafein, seperti kopi, cola, dan teh (jenis minuman ini kadang-kadang dapat mengubah hasil EEG, tetapi tidak pernah mengganggu secara signifikan dengan interpretasi tes).

  6. Rambut berminyak atau penggunaan semprotan rambut.

Kapan EEG Dibutuhkan?

EEG digunakan untuk mengevaluasi beberapa jenis gangguan otak. Ketika seseorang memiliki epilepsi, aktivitas kejang akan muncul sebagai gelombang cepat pada EEG. Orang-orang yang memiliki lesi di otaknya, yang dapat disebabkan oleh tumor atau stroke, mungkin memiliki gelombang EEG yang lambat, tergantung pada ukuran dan lokasi lesi.

Baca juga: 4 Persiapan sebelum Lakukan EEG dan Brain Mapping

Tes EEG ini juga dapat digunakan untuk mendiagnosis gangguan lain yang memengaruhi aktivitas otak, seperti penyakit Alzheimer, psikosis tertentu, dan gangguan tidur yang disebut narkolepsi. EEG juga dapat digunakan untuk menentukan aktivitas listrik keseluruhan otak (misalnya, untuk mengevaluasi trauma, keracunan obat, ataupun tingkat kerusakan otak pada pasien koma). 

EEG juga dapat digunakan untuk memantau aliran darah di otak selama prosedur bedah. Mungkin ada alasan lain bagi penyedia layanan kesehatan untuk merekomendasikan EEG. Setelah tes selesai, elektroda akan dilepas dan pasta elektroda akan dicuci dengan air hangat. Kamu mungkin perlu mencuci rambut lagi di rumah.

Jika kamu mengonsumsi obat penenang untuk tes, kamu mungkin diminta untuk beristirahat sampai reaksi obat penenang hilang. Iritasi kulit atau kemerahan mungkin ada di lokasi di mana elektroda ditempatkan, tetapi ini akan hilang dalam beberapa jam.

Penyedia layanan kesehatan akan memberi tahu kapan kamu dapat melanjutkan obat apa pun yang berhenti diminum sebelum tes. Selain itu, kamu juga akan diberi petunjuk tambahan tergantung pada situasi kesehatan yang sedang dialami.

Referensi:

Johns Hopkins. Diakses pada 2019. What is an EEG?
Epilepsy Foundation. Diakses pada 2019. Brain Mapping: Electrical Stimulation.