• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 3 Gangguan Kesehatan yang Mungkin Terjadi Bila Ibu Hamil Puasa

3 Gangguan Kesehatan yang Mungkin Terjadi Bila Ibu Hamil Puasa

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
undefined

Halodoc, Jakarta – Meskipun diperbolehkan, ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil tidak dianjurkan untuk berpuasa. Misalnya jika ibu hamil mengidap diabetes melitus, gangguan pencernaan, mengeluarkan flek atau perdarahan, dan mengalami dehidrasi. Sebab jika dipaksakan, berpuasa dalam kondisi tersebut justru bisa membahayakan kondisi ibu dan janin di dalam kandungan. (Baca juga: 6 Tips Puasa Bagi Ibu Hamil yang Tidak Boleh Disepelekan)

Tanda Bahaya pada Ibu Hamil yang Puasa

Sebaiknya, ibu perlu mengetahui tanda bahaya yang mungkin terjadi saat berpuasa. Sebab jika beberapa tanda berikut muncul, ibu perlu segera membatalkan puasa dan bicara dengan dokter. (Baca juga: Puasa Saat Hamil, Boleh atau Tidak)

  • Perubahan pergerakan janin dalam perut.
  • Berat badan tidak naik atau pun turun selama hamil.
  • Mengalami dehidrasi, sakit kepala, demam, dan muntah.
  • Merasakan rasa sakit seperti kontraksi.
  • Merasakan pusing, lemah, dan lelah berlebihan.

Bahaya Puasa untuk Ibu Hamil

Berikut adalah beberapa gangguan kesehatan pada ibu hamil yang mungkin terjadi jika berpuasa: (Baca juga: Tips Aman Puasa bagi Ibu Hamil)

1. Dehidrasi

Kebutuhan cairan saat berpuasa dan tidak berpuasa tentu berbeda. Sebab saat hamil, kebutuhan cairan adalah sekitar 3 liter atau setara dengan 8-12 gelas sehari. Jika asupan cairan kurang dari anjuran tersebut, maka ibu hamil berisiko untuk mengalami dehidrasi saat puasa.

Kondisi ini ditandai dengan munculnya rasa haus, warna urine lebih gelap, mulut kering, mudah mengantuk, kelelahan, sakit kepala, sembelit, sesak napas, hingga jantung berdetak lebih cepat. Saat kondisi ini terjadi, ibu hamil dianjurkan untuk segera membatalkan puasa. Sebab jika tidak, dehidrasi saat hamil bisa menyebabkan:

  • Air ketuban terlalu sedikit. Kondisi ini bisa memengaruhi pertumbuhan janin di dalam kandungan, keguguran, hingga kematian janin dalam rahim.
  • Persalinan prematur. Dehidrasi juga bisa memicu kontraksi palsu atau “Braxton Hicks”, yaitu kontraksi palsu yang menyebabkan perut terasa kencang di bagian perut dan hanya berlangsung sebentar (sekitar 1-2 menit).
  • Komplikasi yang serius. Misalnya produksi air susu ibu (ASI) yang lebih sedikit dan bayi mengalami kelainan bawaan saat lahir.

2. Stres Tubuh

Kadar gula yang menurun drastis saat puasa bisa memicu stres tubuh pada ibu hamil. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa membahayakan kondisi ibu dan janin di dalam kandungan. Hal ini didukung oleh studi dari Universitas Zurich, Jerman. Studi tersebut melaporkan bahwa stres bisa memicu pelepasan Corticotropin-Releasing Hormone (CRH), yaitu hormon yang bisa memicu peningkatan hormon kortisol yang masuk melalui plasenta dan menyebabkan kontraksi awal hingga kelahiran prematur.

3. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Studi yang dipublikasikan dalam An International Journal of Obstetrics and Gynaecology melaporkan bahwa puasa bisa menyebabkan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Rendahnya berat badan bayi ini diduga akibat pertambahan berat badan ibu yang lebih sedikit karena perubahan pola makan dan asupan nutrisi selama berpuasa. Sayangnya, peneliti belum bisa menjelaskan lebih lanjut apakah BBLR berdampak pada kesehatan bayi setelah lahir.

(Baca juga: Tips Memenuhi Nutrisi Saat Berpuasa bagi Ibu Hamil)

Jika ibu masih ragu untuk berpuasa, ibu bisa bicara ke dokter Halodoc. Ibu hanya perlu download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play. Setelah itu, ibu bisa masuk ke fitur Contact Doctor di aplikasi Halodoc untuk bicara pada dokter kapan saja dan di mana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, ayo gunakan aplikasi Halodoc sekarang juga untuk mendapatkan rekomendasi saran dari dokter tepercaya!