Ad Placeholder Image

4 Penyakit Tidak Menular (PTM) Kini Mengintai Usia Muda

8 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   14 Oktober 2025

Penyakit tidak menular makin sering menyerang usia muda. Cari tahu penyebab dan cara mencegahnya.

4 Penyakit Tidak Menular (PTM) Kini Mengintai Usia Muda4 Penyakit Tidak Menular (PTM) Kini Mengintai Usia Muda

DAFTAR ISI


Selama ini, banyak orang menganggap penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung, diabetes, hipertensi, atau kanker hanya menyerang orang tua.

Namun, kenyataannya sekarang tidak begitu. Remaja dan orang dewasa muda juga mulai banyak yang terkena penyakit ini.

Menurut laporan Global Burden of Disease (GBD) yang dirilis di jurnal The Lancet tahun 2025, dunia sedang menghadapi “tantangan kesehatan baru.” Meskipun angka kematian secara umum menurun, angka kematian remaja justru naik.

Hal ini disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat, termasuk stres, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, dan kebiasaan makan tidak seimbang.

Situasi Penyakit Tidak Menular di Skala Global

Studi GBD yang dilakukan di lebih dari 200 negara menemukan bahwa rata-rata usia harapan hidup dunia sekarang mencapai 71–76 tahun.

Sayangnya, remaja dan orang muda (20–39 tahun) justru semakin banyak meninggal karena bunuh diri, kecanduan narkoba, dan penyakit kronis seperti diabetes dan jantung.

Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), Christopher Murray, menjelaskan bahwa dua dari tiga kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

Setelah pandemi mereda, COVID-19 bahkan turun jauh dalam daftar penyebab kematian. Kini, penyakit akibat gaya hidup kembali mendominasi.

Kondisi di Indonesia

Lantas, bagaimana kondisi di Indonesia? Begini penjelasannya:

1. Penyakit Kronis Makin Banyak

Di Indonesia, penyakit tidak menular juga mendominasi. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023, lebih dari 70 persen kematian disebabkan oleh PTM.

Kasus diabetes meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir, hipertensi dialami satu dari tiga orang dewasa, dan obesitas juga terus naik.

2. Remaja Jadi Kelompok yang Paling Rentan

Masalah ini bukan hanya milik orang dewasa. Berdasarkan laporan WHO tahun 2022, perilaku remaja di Indonesia masih jauh dari gaya hidup sehat:

  • Hanya 16% remaja yang berolahraga 60 menit sehari.
  • 40% remaja minum minuman manis setiap hari.
  • 27% makan cepat saji lebih dari tiga kali seminggu.
  • 14% remaja laki-laki dan 5% perempuan sudah pernah merokok.
  • Penggunaan vape meningkat pesat, dari 1% (2015) menjadi 8% (2023).

3. Kesehatan Mental Juga Jadi Masalah Serius

Masalah fisik sering kali berjalan beriringan dengan masalah mental. Sekitar 1 dari 10 remaja Indonesia mengalami depresi berat, dan 15% pernah berpikir untuk bunuh diri.

Sayangnya, hanya sedikit yang mendapat bantuan profesional karena layanan kesehatan mental masih sulit diakses di banyak daerah.

Jika tidak diatasi, Indonesia bisa kehilangan generasi mudanya karena penyakit kronis, depresi, dan gaya hidup tidak sehat.

Apa Itu PTM?

Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyakit kronis yang tidak menular dari orang ke orang.

Faktor penyebabnya umumnya kombinasi antara gaya hidup tidak sehat (seperti merokok, pola makan buruk, dan kurang aktivitas fisik) serta faktor metabolik (seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas).

Yang mengkhawatirkan, penyakit-penyakit ini kini banyak ditemukan pada kelompok usia produktif dan remaja.

Beberapa contoh penyakit tidak menular yang umum terjadi antara lain:

1. Penyakit Jantung dan Stroke

Kedua penyakit ini terjadi karena gangguan pada pembuluh darah, baik karena penumpukan lemak (aterosklerosis) maupun tekanan darah tinggi.

Kondisi ini bisa menyebabkan serangan jantung, gagal jantung, atau penyumbatan pembuluh darah di otak yang berujung pada stroke.

Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia.

2. Diabetes

Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan baik, sehingga kadar gula darah meningkat.

Jika tidak dikontrol, diabetes dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan ginjal, kebutaan, hingga penyakit jantung.

Faktor pemicu utamanya adalah pola makan tinggi gula, berat badan berlebih, dan kurangnya aktivitas fisik.

3. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi disebut juga sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala apa pun.

Kondisi ini membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah, yang lama-kelamaan dapat merusak pembuluh darah, ginjal, dan otak. Tanpa pengobatan, hipertensi bisa memicu stroke dan gagal jantung.

4. Kanker dan Gangguan Ginjal

Kanker terjadi akibat pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam tubuh. Sementara gangguan ginjal dapat muncul akibat tekanan darah tinggi atau diabetes yang tidak terkontrol.

Kedua penyakit ini sering memerlukan pengobatan jangka panjang dan biaya besar, sehingga menjadi beban kesehatan masyarakat yang cukup berat.

Penyebab Meningkatnya PTM di Kalangan Remaja

Ada beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan kasus PTM di kalangan usia muda:

1. Gaya Hidup Tidak Sehat

Pola makan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) pada remaja.

Kini, banyak anak muda terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji yang tinggi lemak jenuh, garam, dan gula, tetapi minim serat dan nutrisi penting.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah, kolesterol, serta risiko obesitas sejak dini.

Selain itu, tren minuman manis seperti boba, kopi susu, dan soda juga menambah asupan kalori berlebih yang sulit dibakar oleh tubuh.

Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat menimbulkan gangguan metabolik seperti resistensi insulin, cikal bakal dari diabetes tipe 2.

Yuk, ketahui juga Berbagai Tips & Trik Menjalani Hidup Sehat berikut ini.

2. Kurang Aktivitas Fisik (Sedentary Lifestyle)

Kemajuan teknologi membawa kemudahan, tetapi juga memicu gaya hidup kurang gerak. Banyak remaja menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, baik untuk belajar, bermain gim, atau bersosialisasi di media sosial.

Aktivitas fisik yang minim membuat pembakaran kalori berkurang, menyebabkan penumpukan lemak dan gangguan metabolisme.

Menurut WHO, remaja membutuhkan minimal 60 menit aktivitas fisik sedang hingga berat setiap hari. Sayangnya, sebagian besar tidak mencapai target ini.

Akibatnya, risiko hipertensi, penyakit jantung, dan obesitas meningkat secara signifikan bahkan sebelum usia 25 tahun.

3. Merokok dan Paparan Asap Rokok

Kebiasaan merokok masih menjadi ancaman besar bagi kesehatan generasi muda. Industri rokok kini menggunakan strategi pemasaran yang agresif, terutama melalui media sosial dan influencer, untuk menarik minat remaja.

Berdasarkan Global Youth Tobacco Survey 2023, sekitar 1 dari 10 remaja Indonesia mengaku merokok secara aktif.

Rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya, termasuk nikotin dan tar, yang dapat merusak paru-paru, pembuluh darah, dan jantung.

Bahkan, remaja yang tidak merokok langsung tetapi sering terpapar asap rokok (perokok pasif) juga berisiko tinggi mengalami penyakit pernapasan dan gangguan kardiovaskular di kemudian hari.

4. Stres dan Pola Tidur Buruk

Tekanan akademik, ekspektasi sosial, hingga penggunaan gawai hingga larut malam menjadi kombinasi yang membuat banyak remaja kekurangan tidur dan mudah stres.

Kurangnya istirahat dan stres kronis dapat meningkatkan kadar hormon kortisol dalam tubuh, yang berperan dalam penumpukan lemak di perut dan peningkatan gula darah.

Selain itu, tidur yang tidak teratur juga mengganggu keseimbangan hormon leptin dan ghrelin, dua hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang.

Akibatnya, remaja lebih mudah makan berlebihan dan mengalami kenaikan berat badan. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu obesitas dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta diabetes.

5. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga

Selain faktor gaya hidup, riwayat keluarga juga berperan penting dalam risiko munculnya PTM. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung memiliki peluang lebih besar untuk mengalami hal serupa.

Namun, genetik bukanlah vonis mutlak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola hidup sehat, seperti mengatur pola makan, rutin berolahraga, tidak merokok, dan menjaga berat badan ideal bisa menurunkan risiko tersebut.

Dengan kata lain, faktor keturunan hanya menjadi potensi, bukan kepastian, dan bisa dikendalikan dengan gaya hidup yang lebih baik.

Dampak PTM bagi Individu dan Negara

Peningkatan PTM bukan hanya masalah medis, tapi juga sosial dan ekonomi.

  • Beban kesehatan meningkat: Pengidap PTM membutuhkan pengobatan jangka panjang dan kontrol rutin, yang membebani fasilitas kesehatan.
  • Produktivitas menurun: Pekerja atau pelajar yang menderita penyakit kronis lebih sering absen, menurunkan kinerja dan hasil belajar.
  • Biaya pengobatan tinggi: PTM menyedot hingga 70 persen anggaran kesehatan nasional karena sifatnya kronis dan berkelanjutan.
  • Beban psikologis: Pengidap PTM juga sering mengalami stres, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup karena pengobatan seumur hidup.

Cara Mencegah Penyakit Tidak Menular (PTM)

Pencegahan menjadi langkah paling efektif dan murah untuk mengurangi beban PTM. Berikut langkah-langkah yang bisa kamu lakukan:

1. Konsumsi Makanan Sehat

Kurangi makanan olahan, gorengan, serta minuman tinggi gula. Pilih makanan tinggi serat seperti sayur, buah, biji-bijian, dan ikan. Yuk, ketahui info lain tentang Makanan Sehat- Jenis, Manfaat & Khasiatnya di sini.

2. Aktif Bergerak Setiap Hari

Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang. Aktivitas ini membantu menjaga berat badan ideal dan tekanan darah stabil.

3. Hindari Rokok dan Alkohol

Rokok meningkatkan risiko serangan jantung, kanker, dan penyakit paru. Tidak ada batas aman untuk merokok, bahkan perokok pasif pun berisiko.

4. Tidur dan Kelola Stres dengan Baik

Tidur cukup 7–8 jam per malam dan kelola stres dengan meditasi, olahraga, atau aktivitas yang kamu sukai. Stres kronis terbukti meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah.

5. Cek Kesehatan Secara Berkala

Lakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara rutin, terutama jika memiliki riwayat keluarga penderita PTM. Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan efektif.

Kesimpulan

Penyakit tidak menular kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, termasuk kalangan muda. Dengan meningkatnya gaya hidup tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik, risiko PTM muncul lebih awal dari yang dibayangkan.

Pencegahan melalui pola makan sehat, olahraga teratur, dan pemeriksaan kesehatan rutin perlu dijadikan gaya hidup, bukan sekadar imbauan.

Itulah penjelasan seputar penyakit tidak menular yang perlu kamu ketahui. Jika kamu punya pertanyaan lain terkait kondisi ini, hubungi dokter spesialis penyakit dalam di Halodoc saja!

Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat sekaligus meresepkan obat.

Jangan khawatir, dokter di Halodoc tersedia 24 jam sehingga kamu bisa menghubunginya kapan pun dan dimana pun. Tunggu apa lagi? Klik banner di bawah ini untuk menghubungi dokter terpercaya:

Referensi:
The Lancet. Diakses pada 2025. Global Burden of Disease Report.
Kompas. Diakses pada 2025. Kematian Remaja Meningkat, Penyakit Tidak Menular Ancaman Terbesar.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2025. Noncommunicable diseases; Global Youth Tobacco Survey, Indonesia Report (2023).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2025. Laporan Profil Kesehatan Indonesia 2023.
Badan Pusat Statistik (BPS). Diakses pada 2025. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024.
Healthline. Diakses pada 2025. Most Common Noncommunicable Diseases.
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Sitting risks: How harmful is too much sitting?
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2025. Understanding the stress response.