• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Dampak Negatif Pola Asuh Orangtua Terlalu Protektif

5 Dampak Negatif Pola Asuh Orangtua Terlalu Protektif

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Setiap orangtua pasti ingin memastikan bahwa anak-anaknya terlindungi dari bahaya dan tumbuh menjadi orang dewasa yang mandiri, tangguh, dan percaya diri. Namun, terkadang rasa kekhawatiran yang terlalu berlebihan terhadap anak membuat orangtua menjadi sangat protektif. 

Orangtua yang protektif selalu memastikan bahwa anak-anak mereka tidak akan terluka secara fisik atau emosional. Mereka ingin melindungi anak-anak mereka dari bahaya, rasa sakit, rasa tidak bahagia, pengalaman negatif, penolakan, kegagalan dan kekecewaan. 

Baca juga: Inilah 6 Jenis Pola Asuh Anak yang Bisa Diterapkan Orangtua

Dampak Negatif dari Pola Asuh yang Terlalu Protektif

Alih-alih bertujuan untuk kebaikan, pola asuh yang terlalu protektif justru lebih banyak memberikan dampak negatif, seperti:

1. Tidak Percaya Diri dan Tidak Mandiri

Anak yang diasuh secara protektif umumnya memiliki kepercayaan diri yang rendah dan kurang mandiri. Anak-anak ini terbiasa dihujani dengan perhatian dan cinta dari orangnya. Selain itu, orangtua akan selalu memastikan sang anak aman dari bahaya. Dengan terus-menerus diawasi dan dilindungi, anak-anak tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan kepada diri sendiri bahwa mereka dapat melakukan sesuatu hal yang besar. 

2. Mudah Cemas dan Depresi

Pola asuh yang terlalu protektif pada awalnya berasal dari kecemasan orangtua. Orangtua yang protektif sadar bahwa dunia adalah tempat yang buruk dan berbahaya. Orangtua pun khawatir jika Si Kecil mudah terluka secara fisik atau emosional. Oleh karena itu, mereka berusaha penuh untuk melindungi anak dengan memantaunya secara berlebihan.

Misalnya, teman sebaya anak perlu disetujui terlebih dahulu oleh orang tua dan anak hanya diperbolehkan untuk berinteraksi dengan siapa saja yang dianggap orangtua aman dan pantas. Tujuannya supaya anak jauh dari "pengaruh buruk" yang bisa dibawa oleh teman-temannya.

Ketika orangtua terus-menerus takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada anak mereka, orangtua otomatis akan selalu menawarkan perlindungan, nasihat, dan pendapat mereka dalam setiap kesempatan. Hal ini tentu membuat anak mudah cemas dan depresi ketika dihadapkan oleh sesuatu yang sulit dan harus ditangani oleh dirinya sendiri. 

Baca juga: Waspada, Ini 5 Dampak Memaksa Kehendak pada Anak

3. Pemalu dan Mudah Ragu

Orangtua yang selalu melindungi anaknya akan menumbuhkan asumsi dalam diri anak bahwa di luar sana memang banyak kejahatan. Hal ini akan menumbuhkan sifat ragu dan pemalu dalam dirinya, sehingga ia akan merasa ragu-ragu setiap membuat keputusan. Anak juga bisa menjadi terlalu sensitif dan terlalu waspada terhadap kritik dan ketidaksetujuan dari orang lain. Mereka menjadi suka menebak-nebak diri sendiri dan suka menilai diri sendiri setiap kali orangtuanya menganggap bahwa dirinya melakukan atau mengatakan sesuatu yang salah.

4. Bergantung pada Orang Lain

Dampak negatif lain dari pola asuh orangtua yang terlalu protektif membuat anak menjadi bergantung dengan orang lain dan tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini adalah hasil dari orangtua yang selalu mencampuri urusan anak dan selalu membantu anak setiap mengalami kendala dan hambatan. Anak pun tidak memiliki kesempatan untuk menemukan solusi sebagai jalan keluar dan pada akhirnya selalu mengandalkan orangtuanya. 

5. Sering Berbohong

Orangtua yang protektif cenderung mengekang kebebasan anak. Anak yang merasa terkekang tentu berpotensi untuk selalu berbohong. Kebohongan yang dilakukannya semata-mata untuk membuatnya aman dari kemarahan orangtua apabila tidak berhasil melakukan apa yang orangtua inginkan. 

Baca juga: Benarkah Orangtua Over Protektif Bisa Sebabkan Gangguan Jiwa pada Anak?

Jika ibu punya pertanyaan mengenai pola asuh anak, hubungi psikolog lewat aplikasi Halodoc saja. Ibu bisa berbincang sepuasnya kapanpun dan dimanapun ibu inginkan via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Psychcentral. Diakses pada 2020. Are You an Overprotective Parent?.
Psychology Today. Diakses pada 2020. Yes, Overprotective Parenting Harms Kids.