Ad Placeholder Image

6 Ciri Kucing Peliharaan yang Mengalami Cacingan

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Biasanya kucing peliharaan yang cacingan akan menunjukkan gejala bulu kusam dan penampakan cacing di dalam kotoran.

6 Ciri Kucing Peliharaan yang Mengalami Cacingan6 Ciri Kucing Peliharaan yang Mengalami Cacingan

DAFTAR ISI


Melihat hewan peliharaan kesayangan mengalami masalah kesehatan tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi setiap pemilik kucing. Salah satu masalah yang paling sering ditemui adalah penemuan parasit pada kotoran atau muntahan kucing. Seringkali, pemilik dikejutkan dengan keberadaan parasit yang bergerak-gerak. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan penting mengenai apa sebenarnya penyebab kucing cacingan warna putih tersebut.

Kondisi cacingan pada kucing bukan sekadar masalah kenyamanan bagi hewan peliharaan, tetapi juga merupakan isu kesehatan yang serius. Parasit internal ini hidup di dalam saluran pencernaan kucing, mencuri nutrisi penting yang seharusnya diserap oleh tubuh hewan. Akibatnya, kucing bisa mengalami malnutrisi, penurunan berat badan yang drastis, anemia, hingga masalah pertumbuhan, terutama pada anak kucing (kitten) yang sistem imunnya belum berkembang sempurna.

Selain berdampak buruk pada kesehatan kucing, infeksi parasit ini juga membawa risiko kesehatan bagi manusia di sekitarnya. Beberapa jenis cacing yang menginfeksi kucing bersifat zoonosis, artinya dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Anak-anak yang sering bermain di lantai atau area berpasir memiliki risiko tertinggi tertular parasit ini jika kebersihan tidak dijaga dengan baik.

Oleh karena itu, mengenali penyebab kucing cacingan warna putih sangatlah penting. Dengan memahami dari mana cacing ini berasal, bagaimana siklus hidupnya, dan apa saja jenisnya, kamu bisa mengambil langkah pencegahan yang tepat. Mari kita bahas secara mendalam mengenai jenis-jenis cacing putih pada kucing, penyebab infestasinya, serta bagaimana cara mengatasinya agar anabul dan keluarga di rumah tetap sehat dan aman.

Jenis Cacing Warna Putih pada Kucing

Sebelum membahas penyebabnya, penting untuk mengetahui bahwa istilah “cacing warna putih” biasanya merujuk pada dua jenis parasit usus yang paling umum menyerang kucing, yaitu cacing pita (tapeworms) dan cacing gelang (roundworms). Keduanya memiliki bentuk fisik dan siklus hidup yang berbeda.

1. Cacing Pita (Dipylidium caninum atau Taenia taeniaeformis)

Cacing pita adalah parasit yang panjang dan pipih, menyerupai pita. Namun, pemilik kucing jarang melihat cacing ini dalam bentuk utuh. Biasanya, yang terlihat adalah segmen-segmen tubuh cacing pita (disebut proglotid) yang putus dan keluar bersama feses kucing. Segmen ini berwarna putih atau krem dan berukuran kecil seperti butiran beras atau biji wijen. Saat baru keluar, segmen ini bisa terlihat bergerak-gerak di sekitar anus kucing atau di fesesnya. Ketika mengering, warnanya berubah menjadi kekuningan dan menempel pada bulu di sekitar bokong kucing.

2. Cacing Gelang (Toxocara cati)

Berbeda dengan cacing pita, cacing gelang memiliki bentuk tubuh yang silindris, panjang, dan berwarna putih pucat atau kekuningan, sangat mirip dengan mi spageti. Cacing dewasa bisa mencapai panjang sekitar 7 hingga 12 sentimeter. Kucing yang terinfeksi cacing gelang dalam jumlah banyak seringkali memuntahkan cacing ini atau mengeluarkannya secara utuh melalui kotoran. Cacing gelang sangat berbahaya, terutama bagi anak kucing, karena dapat menyumbat usus dan merampas nutrisi esensial.

Penyebab Kucing Cacingan Warna Putih

Penyebab kucing cacingan warna putih sangat bergantung pada jenis cacing yang menginfeksinya. Kucing tidak bisa secara tiba-tiba menghasilkan cacing di dalam tubuhnya; mereka harus menelan telur cacing atau inang perantara (intermediate host) yang membawa larva cacing tersebut. Berikut adalah berbagai penyebab dan jalur penularannya:

1. Tertelan Kutu (Penyebab Utama Cacing Pita)

Penyebab paling umum dari infeksi cacing pita (Dipylidium caninum) adalah kutu. Kutu kucing sering kali bertindak sebagai inang perantara bagi larva cacing pita. Siklusnya dimulai ketika larva kutu memakan telur cacing pita yang ada di lingkungan (misalnya di karpet atau tempat tidur kucing). Saat kutu tersebut tumbuh dewasa, larva cacing pita juga berkembang di dalam tubuh kutu.

Ketika kucing merasa gatal akibat gigitan kutu, mereka akan menjilat atau menggigit bulunya untuk membersihkan diri (grooming). Dalam proses ini, kucing secara tidak sengaja menelan kutu yang terinfeksi. Di dalam saluran pencernaan kucing, kutu tersebut hancur, melepaskan cacing pita muda yang kemudian menempel pada dinding usus kucing dan tumbuh menjadi dewasa.

2. Memakan Hewan Buruan yang Terinfeksi

Bagi kucing yang sering dibiarkan bermain di luar rumah (outdoor cats), kebiasaan berburu tikus, burung, atau kadal adalah penyebab utama cacingan. Hewan-hewan pengerat kecil seringkali terinfeksi larva cacing gelang atau jenis cacing pita lainnya (Taenia taeniaeformis). Ketika kucing memakan mangsanya yang terinfeksi, larva tersebut berpindah ke saluran pencernaan kucing, menetap, dan berkembang biak di sana.

3. Penularan dari Induk ke Anak Kucing

Anak kucing sangat rentan terhadap cacing gelang. Penyebab utama infeksi pada kitten adalah penularan dari induknya melalui air susu (ASI kucing) selama masa menyusui. Jika induk kucing pernah terinfeksi cacing gelang di masa lalu, larva yang dorman (tertidur) di dalam jaringan tubuhnya dapat aktif kembali saat ia hamil dan menyusui. Larva ini kemudian masuk ke dalam kelenjar susu dan tertelan oleh anak kucing. Inilah sebabnya mengapa banyak anak kucing yang baru lahir sudah mengalami cacingan parah meskipun belum pernah keluar rumah.

4. Menelan Telur Cacing dari Lingkungan yang Terkontaminasi

Telur cacing gelang yang dikeluarkan melalui feses kucing yang terinfeksi dapat bertahan hidup di tanah atau pasir selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kucing dapat terinfeksi secara tidak sengaja jika mereka berjalan di atas tanah yang terkontaminasi, kemudian menjilati cakar mereka saat grooming. Selain itu, kucing yang mengendus kotoran kucing lain yang sakit juga berisiko menghirup atau menelan telur mikroskopis tersebut.

Faktor Pemicu Risiko Tinggi Cacingan pada Kucing
  1. Kucing sering dibiarkan berkeliaran di luar rumah (outdoor).
  2. Kucing tidak rutin diberikan obat pencegah kutu.
  3. Lingkungan rumah (terutama litter box) yang jarang dibersihkan.
  4. Interaksi dengan kucing liar atau hewan lain yang status kesehatannya tidak diketahui.
  5. Anak kucing yang lahir dari induk yang tidak pernah diberikan obat cacing secara rutin.

Gejala dan Tanda-tanda Kucing Cacingan

Selain melihat langsung penyebab kucing cacingan warna putih di kotoran, ada beberapa tanda klinis yang perlu diwaspadai oleh setiap pemilik. Infeksi yang ringan mungkin tidak menunjukkan gejala yang jelas, tetapi infeksi berat dapat mengancam nyawa. Tanda-tanda yang umum meliputi:

  • Perut Buncit (Potbelly): Sangat umum terjadi pada anak kucing. Tubuh mereka mungkin kurus, tetapi perutnya terlihat sangat membesar dan keras.
  • Penurunan Berat Badan: Meskipun nafsu makan kucing normal atau bahkan meningkat, berat badan mereka terus menyusut karena nutrisi diserap oleh cacing.
  • Bulu Kusam dan Kasar: Kucing yang sehat memiliki bulu yang berkilau. Kurangnya nutrisi akibat cacingan membuat bulu menjadi kusam, kering, dan mudah rontok.
  • Muntah dan Diare: Cacing dapat mengiritasi dinding usus, menyebabkan diare (terkadang berdarah) atau muntah. Pada kasus cacing gelang, kucing bisa memuntahkan cacing tersebut.
  • Kelesuan (Lethargy): Kucing menjadi tidak aktif, lemah, dan lebih banyak tidur.
  • Menyeret Bokong (Scooting): Karena rasa gatal di sekitar anus yang disebabkan oleh segmen cacing pita, kucing mungkin akan menyeret bokongnya di karpet atau lantai.

Jika kamu melihat gejala-gejala ini, sangat disarankan untuk tidak menebak-nebak. Sebaiknya segera konsultasi ke dokter hewan agar mendapatkan diagnosis yang akurat. Dokter biasanya akan meminta sampel kotoran kucing untuk diperiksa di bawah mikroskop guna mendeteksi jenis telur cacing yang ada.

Bahaya Penularan Cacing Kucing ke Manusia (Zoonosis)

Mengatasi penyebab kucing cacingan warna putih bukan hanya soal kesehatan hewan peliharaan, tetapi juga melindungi keluarga. Beberapa cacing pada kucing bersifat zoonotik. Cacing gelang (Toxocara cati) adalah ancaman utama bagi manusia.

1. Toxocariasis pada Manusia

Manusia, terutama anak-anak, dapat terinfeksi telur cacing gelang jika mereka bermain di tanah atau kotak pasir yang terkontaminasi feses kucing, lalu memasukkan tangan yang kotor ke dalam mulut. Setelah tertelan, telur menetas menjadi larva di dalam usus manusia. Namun, karena manusia bukanlah inang alami cacing ini, larva tidak berkembang menjadi cacing dewasa di usus. Sebaliknya, larva tersebut akan bermigrasi menembus dinding usus dan menyebar ke berbagai organ tubuh, kondisi yang dikenal sebagai Visceral Larva Migrans (VLM). Jika larva bermigrasi ke mata, kondisi ini disebut Ocular Larva Migrans (OLM) yang dapat menyebabkan kebutaan permanen.

2. Infeksi Cacing Pita pada Manusia

Meskipun jarang, manusia (umumnya anak kecil) juga bisa terinfeksi cacing pita Dipylidium caninum. Hal ini terjadi jika seorang anak secara tidak sengaja menelan kutu kucing yang membawa larva cacing pita, misalnya saat mereka mencium atau bermain terlalu dekat dengan kucing yang berkutu.

Cara Mengatasi dan Mencegah Cacingan pada Kucing

Setelah mengetahui penyebab kucing cacingan warna putih, langkah selanjutnya adalah pengobatan dan pencegahan. Jangan pernah memberikan obat cacing manusia kepada kucing, karena dosis dan kandungannya bisa sangat beracun bagi hewan.

1. Pemberian Obat Cacing Secara Rutin

Pengobatan cacingan dilakukan dengan menggunakan obat antiparasit (dewormer atau anthelmintic) yang diresepkan oleh dokter hewan. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, sirup, atau tetes tengkuk (spot-on). Untuk pencegahan, anak kucing harus diberikan obat cacing mulai usia 2 minggu, kemudian diulang setiap 2 minggu hingga usia 8 minggu, dan dilanjutkan sebulan sekali hingga usia 6 bulan. Untuk kucing dewasa, pemberian obat cacing umumnya disarankan setiap 3 hingga 6 bulan sekali, tergantung gaya hidupnya. Kamu bisa beli obat cacing hewan yang aman dan terdaftar melalui apotek atau platform kesehatan terpercaya sesuai anjuran dokter.

2. Pemberantasan Kutu

Karena kutu adalah penyebab utama cacing pita, mengobati cacingnya saja tidak akan berhasil jika kutunya masih ada. Kucing akan terus kembali terinfeksi. Gunakan obat pembasmi kutu yang aman secara rutin setiap bulan. Selain itu, bersihkan lingkungan rumah dengan memvakum karpet, sofa, dan mencuci tempat tidur kucing menggunakan air panas untuk membunuh telur dan larva kutu.

3. Menjaga Kebersihan Kotak Pasir (Litter Box)

Bersihkan kotoran dari litter box setiap hari. Telur cacing gelang membutuhkan waktu beberapa minggu di lingkungan terbuka untuk menjadi infektif. Dengan membuang feses setiap hari, kamu memutus siklus hidup cacing sebelum mereka sempat menularkan infeksinya. Cuci bak pasir secara rutin dengan sabun dan air panas.

4. Batasi Aktivitas Berburu

Jika memungkinkan, peliharalah kucing di dalam rumah (indoor). Kucing yang berada di dalam ruangan memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk berburu hewan pengerat yang membawa parasit atau terpapar feses kucing liar di luar rumah.

Studi Terkait Infestasi Parasit pada Kucing

Veterinary Parasitology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa parasit gastrointestinal, termasuk Toxocara cati dan Dipylidium caninum, masih memiliki tingkat prevalensi yang sangat tinggi pada kucing peliharaan maupun kucing jalanan di berbagai wilayah, terutama di daerah beriklim tropis. Studi ini menekankan bahwa kontrol ektoparasit (seperti kutu) dan manajemen lingkungan sangat krusial dalam menekan angka penularan. Peneliti juga menegaskan pentingnya edukasi bagi pemilik hewan peliharaan mengenai potensi risiko zoonosis parasit ini terhadap kesehatan masyarakat, mengingat rendahnya kesadaran pemilik akan bahaya penularan dari kotoran hewan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Cornell University College of Veterinary Medicine. Diakses pada 2024. Gastrointestinal Parasites of Cats.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Toxocariasis (Roundworm Infection).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Zoonoses.
American Association of Feline Practitioners (AAFP). Diakses pada 2024. Feline Zoonoses Guidelines.
Companion Animal Parasite Council (CAPC). Diakses pada 2024. Dipylidium caninum.

FAQ

1. Apakah penyebab kucing cacingan warna putih bisa hilang dengan sendirinya?

Tidak, infeksi cacing tidak bisa hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan medis. Jika dibiarkan, cacing akan terus berkembang biak di dalam usus, merusak kesehatan kucing, menyebabkan malnutrisi parah, dan berpotensi menular ke anggota keluarga di rumah.

2. Berapa kali kucing harus diberi obat cacing?

Anak kucing harus diberi obat cacing mulai usia 2 minggu hingga 2 bulan (setiap dua minggu sekali), lalu sebulan sekali hingga usia 6 bulan. Untuk kucing dewasa, pemberian obat cacing disarankan setiap 3 bulan sekali, atau lebih sering jika kucing sering main di luar rumah dan memakan hewan buruan.

3. Apakah cacing pada kotoran kucing berbahaya bagi manusia?

Ya, sangat berbahaya. Beberapa jenis cacing seperti cacing gelang (Toxocara cati) bersifat zoonosis dan telurnya bisa menular ke manusia, terutama anak-anak yang bermain di tanah. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan larva bermigrasi ke organ tubuh, termasuk paru-paru, hati, dan mata, yang bisa berujung pada kebutaan.

4. Bagaimana cara membersihkan rumah jika kucing positif cacingan?

Bersihkan kotoran kucing dari kotak pasir setiap hari dan cuci kotaknya menggunakan air mendidih secara berkala. Vakum seluruh karpet, sofa, dan lantai untuk mengangkat telur cacing dan telur kutu. Jangan lupa mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah memegang kucing atau membersihkan kotak pasirnya.